
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Karena pandemi yang semakin meningkat dan banyak korban yang berjatuhan. Pemerintah kembali menerapkan pembelajaran secara daring. Beberapa siswa banyak yang mengeluh, padahal beberapa hari ke belakang mereka sudah senang dapat belajar dengan tatap muka. Seina berjalan malas menuju meja makan, dimana di sana sudah ada anggota keluarganya berkumpul.
“Sarapan dulu, Sei. Kamu mulai sekolah jam berapa?” tanya Bu Lia.
“Jam delapan, Mam,” jawab Seina mengambil nasi beserta lauk.
“Inget, jangan keluar rumah kalo nggak bener-bener penting!” peringat Pak Anton.
“Iya, Pap,” jawab Gara dan Seina serempak.
“Nanti Mami nitip Geo sebentar, Mami mau ambil beberapa berkas di kantor.”
“Sei nanti sekolah, sama Bang Gara aja.”
“Dih, dipikir cuma lo yang sekolah? Gue juga mau ngerjain tugas.”
“Bang! Kak!” peringat Pak Anton dengan tatapan tajamnya.
“Heran sama kalian berdua, ada aja alasan kalo Mami minta bantuan. Mami cuma titip sebentar Geonya. Dia adek kalian sendiri lho,” omel Bu Lia menatap kedua anaknya secara bergantian.
“Mau uang jajannya Papi potong?” tanya Pak Anton mengancam.
“Jangan!” pekik Gara dan Seina bebarengan dengan wajah panik.
Akhirnya Seina menjaga Geo sembari mendengarkan sang guru memberi materi melalui aplikasi Zoom Meeting. Geo yang memang sedang aktif merangkak membuat Seina sedikit kewalahan. Berkali-kali gadis itu harus menarik kaki Geo jika bocah itu merangkak terlalu jauh.
“Bisa kalian hidupkan kameranya? Ibu mau foto dulu untuk bukti kehadiran,” ucap Bu Cici.
“Mampus!” Wajah Seina panik. “Bang Gara! Gue mau foto dulu! Ambil nih Geo-nya!” teriak Seina memanggil sang Abang.
Namun nihil, Gara tidak menampakkan batang hidungnya. Entah tidak mendengar suara Seina atau pura- pura budeg.
“Ayo, Seina! Hidupkan kameranya!” pinta Bu Cici.
Mau tidak mau Seina menghidupkan kamera laptopnya dengan Geo berada di pangkuannya. Setelah kamera hidup, semua teman-teman sekelasnya heboh melihat wajah lucu Geo. Apalagi Shila yang mengklaim Geo sebagai cogan imut.
“Lho? Seina udah beranak?” kaget Ibram, pura- pura kaget lebih tepatnya.
“Sembarangan lo kalo ngomong,” semprot Seina tidak terima.
“Sudah-sudah. Ibu mulai foto, ya?”
Entah Geo paham dengan ucapan Bu Cici atau bagaimana. Tiba-tiba saja bocah itu meringis dengan menatap kamera, membuat lagi-lagi Shila menjerit bagaikan melihat wajah idolanya. Di antara kehebohan teman-teman Seina, hanya Aldo yang masih anteng dengan wajah datar. Namun tidak lama kehebohan bertambah dengan korban berbeda, yakni Aldo.
“Astaga! Aldo dici*pok kucing!” pekik Chen membulatkan mata sipitnya.
__ADS_1
“Baik, Zoom Ibu akhiri sampai di sini. Nanti Ibu akan kirimkan hasil foto tadi ke grup WA. Ibu matikan, ya?”
“Bu! Jangan dimatiin dulu! Saya masih mau lihat wajah imut Geo!” pekik Shila. Namun gadis itu hanya bisa menelan kekecewaan, Bu Cici tidak mendengarkan dan langsung mengakhiri sesi Zoom itu.
Benar saja tidak lama kemudian Bu Cici mengirim beberapa foto di grup WA. Seina tidak bisa menahan tawanya melihat wajah kaget Aldo yang memang sedang di cium seekor kucing di pipi. Lalu matanya beralih pada fotonya bersama Geo yang sedang meringis hingga mata bocah itu menghilang.
“Narsis amat, siapa yang ngajarin sih?” tanya Seina pada Geo yang juga memperhatikan layar ponsel sang Kakak.
Seina pun mengirimkan gambar itu pada sang Mami. “Nih, anaknya narsis banget.” Begitulah caption yang Seina tulis.
TING!
Notifikasi ponsel Seina berbunyi tanda ada chat yang baru saja masuk. Melihat nama Kaisar di notifikasi itu membuat Seina buru-buru membuka chat dari sang kekasih.
“Kamu udah selesai Zoom, Yang?” tanya Kaisar.
“Udah, Kak. Kakak masih ada kelas lagi?”
“Nanti habis dzuhur masih ada, ini masih istirahat dulu.”
“Mabar yuk, Kak?”
“Ayo, kamu login dulu.”
Seina pun mulai fokus pada ponselnya dan larut dalam game online. Sesekali mulutnya berkomentar ketika ada musuh yang mendekat.
Gara dengan wajah sok prihatinnya menggelengkan kepala. Cowok itu sudah yakin jika setelah ini pasti Seina akan kena omel sang Mami karena lalai menjaga Geo, hingga bocah itu hampir saja meluncur menggelinding melalui tangga.
“Bang, please! Jangan aduin Mami,” ucap Seina memelas. “Kalo lo ngadu juga lo nanti bakal kena omel.”
‘Sial,’ batin Gara membenarkan ucapan sang adik.
“Gue nggak akan ngadu, tapi ada syaratnya.”
“Apa?” tanya Seina cepat.
“Beliin gue Indimie telor di warung Mbak Leha.”
“Kan, nggak boleh keluar rumah kalo nggak penting.”
“Jadi situasi lo saat ini nggak penting gitu? Ya udah, gue telpon Mami sekarang juga,” ucap Gara dengan tangan merogoh saku celananya.
“Oke! Gue beli sekarang! Cabenya berapa biji?”
“Ngomong aja sama Mbak Leha, pedes level lima.”
Seina mengangguk malas dan segera berdiri dari duduknya. Mengambil uang beserta masker dan berjalan menuju warung Mbak Leha.
‘Gue doain mencret lo, Bang!’ batin Seina penuh dendam.
__ADS_1
“Geo! Ayo tos!” pinta Gara mengulurkan tangannya dan disambut oleh Geo dengan tawanya. Bocah itu menepuk-nepuk tangan Gara dengan tawa cerianya.
Beberapa menit kemudian Seina pulang membawa kantong plastik berisi pesanan milik Gara. Wajah Seina masih tidak enak dipandang, tapi dia juga takut jika abangnya akan mengadu pada Bu Lia perihal kelalaiannya.
“Nih,” ucap Seina meletakkan makanan itu di meja, lalu dirinya segera mencuci tangan dan kaki.
“Ambil mangkok!” perintah Gara.
Senyum Gara mengembang melihat sang adik menurutinya. Seina kembali dengan dua mangkok beserta sendok dan garpu.
“Geo! Diem! Ssstt,” ucap Gara meletakkan telunjuk dibibirnya, mengintruksikan agar Geo diam. Geo yang berada dipangkuan Gara terdiam.
“Mami kok lama sih?” tanya Seina meniup mienya sebelum akhirnya masuk ke dalam mulut.
“Ketemu temennya kali, kayak nggak tau Mami kalo ketemu temennya. Bisa ghibah sampai sore, lupa anak-anaknya,” jawab Gara mulai memakan mienya.
“Uhh… Uhhh…Aaakk.” Geo berusaha merebut sendok di tangan Gara.
“Nggak boleh, Ge. Kalo mencret gimana? Nanti bokong kamu panas,” ucap Gara absurd.
Sementara Seina hanya menggelengkan kepalanya dan menikmati mienya dengan tenang. Tangannya kirinya sibuk membalas chat dari Kaisar, dia meminta maaf karena tiba- tiba menghentikan permainan.
“Cieee, virtual lagi,” ledek Gara yang mulutnya mangap-mangap kepedasan.
Seina hanya mencibir ledekan Gara. Namun membenarkan ucapan sang abang tadi. Gadis itu menghembuskan napasnya. Baru beberapa kali bertemu, kini mereka kembali diharuskan berhubungan melalui virtual.
“Seenggaknya sekarang Kak Kai udah mau video call, karena gue udah pernah lihat wajah dia,” gumam Seina berusaha menghibur diri. Dia pun kembali fokus pada mie dan sesekali pada ponselnya.
...📱📱📱...
Geo yang menjadi rebutan anak-anak di kelas Seina
Dan ini Mbak Leha yang punya warung Indimie
Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
Mantan Bad Guy
__ADS_1