LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Langit


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Seina mengernyitkan dahi melihat wajah Aurel yang sudah di tekuk sejak pagi tadi. Seina bertanya pada Shila, mengapa cewek hobi makan itu hari ini memiliki wajah yang tidak enak dipandang. Shila menggerakkan bibirnya tanpa suara, berkata bahwa dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Seina membalikkan kursinya, sementara Shila menggeret kursinya mendekat ke meja Aurel.


“Lo kenapa, Rel?” tanya Seina.


“Semalem gue dimarahi habis- habisan sama Bapak,” jawab Aurel dengan wajah muram.


“Kok bisa?”


“Kemarin gue gelud sama anak temen Bapak.”


“Kok bisa?”


“Shil! Lo cuma bisa tanya itu?” tanya Aurel sebal.


Shila nyengir. “Maaf. Lanjutin cerita lo.”


“Jadi kemarin, kan, gue di suruh jemput Bapak ke kantornya. Nah, karena males naik, gue tunggu di kantin. Pesenlah gue jasuke, pas gue balik badan tetiba ada orang di belakang gue. Terus tuh jasuke sama minuman gue tumpah ke baju dia.”


“Lo udah minta maaf sama dia?” tanya Seina.


“Belum. Gue nggak kepikiran, karena mau mungut piring jasuke yang jatuh.”


“Ckck, biar gue tebak. Tuh orang pasti marah sama lo karena lo sebabin baju dia kotor. Mana nggak minta maaf lagi.”


Aurel menundukkan kepalanya dan mengangguk membenarkan ucapan Seina yang tepat sasaran.


Seina menggelengkan kepalanya mendengar cerita dari Aurel. Pantas saja Ayah Aurel marah. Tiba- tiba Shila menggebrak meja, wajahnya terlihat antusias.


“Kenapa, Shil?” tanya Aurel mengernyitkan dahi.


“Gue tebak yang ribut sama lo itu cowok,” ucap Shila tersenyum senang.


“Iya dan parahnya dia anak temen bisnis Bapak. Hiks, nyesel gue udah pukul dia kemarin.”


Seina dan Shila ternganga mendengar pengakuan Aurel. Namun dua cewek itu paham dengan sifat Aurel yang sangat cinta pada makanan. Jika ada orang yang menyenggol makanan atau minuman barang sedikit, Aurel tidak akan segan menghabisi orang itu.


“Terus gimana?”


“Gue disuruh tanggung jawab sama Bapak. Please! Nanti temenin gue, ya?” ucap Aurel memohon pada dua sahabatnya.


“Tanggung jawab gimana?” tanya Shila masih bingung.

__ADS_1


“Gue di suruh ambil baju dia yang kotor,” jawab Aurel mengerucutkan bibirnya.


“Hah? Jadi tuh baju belum di cuci? Lagian mau aja disuruh bawa baju kotor. Terus nanti ketemu di mana?” tanya Seina kaget.


“Di Sekolahnya.”


“Anak mana dia?” tanya Shila.


Aurel mendongak, menatap wajah sahabatnya satu persatu. Raut wajah Aurel terlihat sangat serius, membuat Shila dan Seina juga menampilkan ekspresi serius mereka.


“Dia sekolah di AIH.”


Shila dan Seina kompak saling pandang mendengar jawaban Aurel. Lalu keduanya ternganga tidak percaya. AIH atau Alexander International High adalah sebuah sekolah yayasan milik keluarga Alexander, pengusaha terkaya nomor 3 di seluruh Indonesia menurut sebuah berita di majalah yang entah apa namanya Aurel lupa. Sekolah itu merupakan tempat elit yang isinya kaum sultan.


“Dan lo tau apa yang lebih membengekkan?” tanya Aurel. Dua sahabatnya menggeleng, wajah mereka masih syok. “Langit itu anaknya Pak Alexander. Gila! Bapak dia yang punya ntuh sekolah.”


“Waow.”


“Pantes Bapak nyuruh gue buat tanggung jawab. Bahkan dia belum mampu sekolahin gue di sana. Bapak takut aja kalo ternyata harga baju si Langit mahal.”


“Gue spechlees. By the way, si Langit itu cogan bukan?” tanya Shila.


“Gue nggak sempet lihat muka dia. Gue udah keburu muter tangan dia kemarin. Hiks, untung nggak jadi gue patahin tuh tangan.”


“Lo mau patahin tangan dia?” kaget Seina.


...***...


Dan siang ini sepulang sekolah, tiga cewek itu segera menuju AIH untuk melaksanakan tugas ‘mulia’. Lagi- lagi Seina tidak pulang bersama dengan Kaisar, padahal hari ini cowok itu sudah berencana ingin menjemputnya. Namun karena tidak tega dengan tampang Aurel yang memohon padanya, akhirnya Seina mengalah.


“Ini sekolahnya?” tanya Shila mengagumi bangunan di depan mereka berdiri saat ini.


“Bukan, itu baru gerbangnya doang,” jawab Aurel.


“Seluas apa sekolahnya. Eh? Emang kita boleh masuk?” tanya Seina menoleh pada dua sahabatnya yang sedang menatap kagum gerbang sekolah AIH.


“Boleh, tadi si Langit ngomong kita disuruh nunggu dulu di sini.”


Benar saja, tidak lama gerbang itu terbuka dan sebuah mobil golf keluar dari sana. Mereka bertiga lagi- lagi dibuat melongo ketika diminta untuk naik. Mereka bertiga dibawa oleh sopir mobil itu ke sebuah tempat. Namun selama perjalanan, mata mereka dimanjakan oleh pemandangan dan gedung-gedung sekolah yang arsitekturnya bergaya Eropa.


“Gue jadi minder dateng ke sini,” bisik Shila.


“Sama, Nyet! Mana tadi nggak bawa jaket buat nutupin seragam buluk kita,” ucap Aurel.


“Heh, tuh lihat! Seragam mereka bagus banget,” tambah Seina ketika matanya tidak sengaja menangkap beberapa siswa yang berjalan tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


“Jangan nunjuk-nunjuk, Be*go!” bisik Aurel menurunkan telunjuk Seina.


Mereka bertiga sampai di sebuah gedung yang mereka yakini sebuah kantin. Aurel mendapat chat dari Langit jika cowok itu sudah menunggunya di dalam. Tiga cewek itu pun dengan kaki gemetar memasuki kantin. Namun, sebelumnya mereka melewati sebuah bilik dan tubuh ketiganya di guyur oleh disinfektan.


“Yang mana?” tanya Shila berbisik, pasalnya di dalam sini sangat ramai. Walau begitu belum ada yang menyadari kedatangan mereka bertiga.


“Gue udah ngomong tadi. Gue nggak sempet lihat muka dia, jadi gue nggak tau yang mana orangnya.”


“Telpon cepet!” perintah Seina.


Aurel mengangguk dan segera mendial nomor Langit, lalu dia menyuruh dua sahabatnya untuk memperhatikan sekitar. Kira-kira siapa yang sedang menjawab panggilan teleponnya.


“Halo? Iya, gue sama temen- temen gue udah sampai. Lo dimana? Hah nggak kedengeran…”


“Yang mana, Sei?” tanya Shila kebingungan.


“Gue nggak tau. Gue lihat ada tiga orang yang lagi nempelin HP di telinga mereka.”


“Hah? Di bel…” Aurel berbalik setelah berhasil mendengar Langit yang memberitahu posisi cowok itu saat ini.


Aurel benar- benar di buat terkejut oleh cowok di depannya. Akibat karena kurang persiapan dan rasa terkejut, Aurel mundur beberapa langkah. Namun sial, kakinya tersandung. Hampir saja dia jatuh dengan tidak estetik jika Langit tidak refleks menahan pinggang Aurel.


‘Sial,’ umpat Aurel dalam hati.


Kini keberadaan tiga cewek itu sudah di sadari oleh anak-anak AIH. Semua mata memandang dua tokoh utama hari ini, Aurel dan Langit yang masih sama-sama terdiam kaku. Begitu juga dengan Seina dan Shila, mereka menatap adegan sinetron itu dengan mata tanpa berkedip. Bisik- bisik mulai terdengar di telinga mereka. Aurel yang tersadar lebih dulu spontan mendorong tubuh Langit, hingga cowok itu mundur beberapa langkah hingga hampir saja terjengkang.


“Sei, gue nggak bawa obat,” bisik Shila pada Seina.


...📱📱📱...


Hai... hai, masih ada yang nunggu novel ini? Belum lupa sama alurnya 'kan? Kalau lupa boleh baca ulang 😂😂😂


Jadi Othor mau lanjut lagi, tapi upnya nggak tiap hari 😗😗


Nih Othor baik bagi visualnya Langit 👇👇👇



Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar

__ADS_1


Mantan Bad Guy



__ADS_2