LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Shila


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Jalan-jalan seorang diri merupakan hal yang mengasyikkan baginya. Bisa leluasa pergi kemana pun dia mau, tanpa harus memikirkan orang lain. Hal itu yang selalu Shila rasakan apabila sedang bepergian sendiri, menikmati waktu me time-nya. Bertemu dengan orang-orang yang belum dikenal membuatnya merasa lebih tenang daripada bertemu dengan orang-orang yang sudah mengenalnya.


“Sebentar aja, Ma. Stok novel Shila udah habis,” ucap Shila dengan wajah yang dimelas-melaskan, membuat matanya berkaca-kaca agar sang Mama luluh padanya.


“Pesen online 'kan, bisa,” kata sang Mama yang masih pada pendiriannya.


“Kalo beli online nanti pasti datangnya nggak sesuai.”


“Ini itu lagi pandemi, nggak boleh keluar rumah kalo nggak penting. Kamu mau nanti kena razia?”


“Shila tetep pake masker sama jaga jarak kok. Mama tenang aja, Shila bisa jaga diri.”


Mama Shila menggelengkan kepalanya, menatap tidak percaya pada putri semata wayangnya ini. Sementara Shila masih bertahan dengan wajah penuh permohonannya.


“Ya udah, cuma beli novel habis itu langsung pulang. Jangan jajan di luar, makan aja di rumah,” ucap Mama Shila akhirnya.


“Yey, makasih Mama cantik,” kata Shila bersorak dan memeluk sang Mama, lalu menciumi wajah itu.


“Nanti pulangnya Mama yang jemput.”


“Siap, Bu!”


Shila turun dari B-jek yang mengantarnya menuju sebuah toko buku yang terkenal di seluruh negeri ini. Setelah mencuci tangan dan cek suhu badan, Shila mulai berkeliling. Matanya berbinar melihat banyak rak dengan buku-buku yang tersusun rapi. Kaki gadis itu menuju rak dengan susunan buku fiksi dan matanya mulai menjelajah untuk mencari judul novel yang diincarnya.


“Nah, dapet,” gumam Shila mengambil salah satu novel itu dan membaca blurb di bagian belakang cover. “Karya Kak Hana memang selalu menarik,” ucap Shila tersenyum dibalik maskernya.


Novel itu sudah berada dalam genggaman Shila, lalu dia kembali berkeliling mencari-cari novel lain. Gadis itu berhenti di depan sebuah rak, tangannya terulur untuk mengambil salah satu novel di sana. Shila mengambil novel yang plastiknya sudah terbuka, ia pun mulai membaca tiap halamannya. Lalu beberapa menit kemudian dia sudah larut dalam cerita di novel itu, bahkan Shila sampai jongkok di antara rak itu.


“Hmm, bagus. Beli deh,” gumam Shila akhirnya dan mengambil novel yang masih rapi terbungkus plastik.


Ada kurang lebih empat buah buku berada dalam pelukan Shila. Kini dia sedang mengantre di kasir untuk membayar semua novel yang dibelinya. Setelah membayar semua novel itu, Shila menuju masih belum puas berkeliling toko buku ini. Jadi dia kembali menyusuri rak untuk kembali membaca-baca.


“Andai perpustakaan kota nggak di tutup, gue mau nongkrong di sana tiap hari,” ucap Shila.


Ya, Shila memang sangat suka membaca. Buku apapun dia baca, tak heran jika gadis itu memiliki wawasan yang sangat luas dan tahu banyak hal. Sejak SMP dulu, tempat nongkrong Shila adalah di perpustakaan kota. Terkadang datang sendiri atau bersama dengan kedua sahabatnya.


Pelarian Shila di saat banyak orang yang membencinya dan merundungnya adalah perpustakaan. Hanya dengan membaca, Shila dapat merasa sedikit terobati dari rasa cemas yang terkadang dapat datang kapan saja jika dirinya teringat hal kelam itu.

__ADS_1


Ponsel di dalam tas selempang Shila berdering, membuat gadis itu mengalihkan fokusnya dari novel yang dipegang. Shila meletakkan novel itu kembali dan mulai mencari ponselnya. Shila mengernyit melihat siapa yang menelponnya.


“Halo? Kenapa, Sei?” tanya Shila begitu sambungan telepon terhubung.


“Tau darimana lo?”


“Hah? Lo mau nitip apa? Buku gambar? Di AprilMaret nggak ada emang?”


“Ckck, iya nanti gue beliin.”


“Hmm, sama-sama. Bye.”


Shila kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas, lalu dia menuju lantai satu untuk mencari barang yang tadi diminta Seina. Sahabatnya itu tadi ternyata datang ke rumahnya untuk meminjam buku catatan dan ketika tahu bahwa Shila sedang berada di toko buku, Seina meminta dibelikan buku gambar.


“Hmm? Mana, ya?” gumam Shila mencari-cari keberadaan rak buku.


“Nah, ini. Sekalian beli pulpen kali, ya?”


Shila pun juga mengambil beberapa pulpen, lalu dia segera menuju ke kasir untuk mmebayar semua belanjaannya.


Shila memutuskan untuk pulang setelah mendapat semua barang yang diinginkannya. Dia pun mencari ponselnya dan berniat menelpon Mamanya untuk segera menjemput. Namun Shila terkejut ketika ia tidak sengaja menabrak seseorang, akibat jalannya yang meleng.


“Shila? Lo Shila, kan?” tanya sebuah suara.


Shila mendongak dan menatap bingung pada seorang cewek di depannya ini. Dia merasa tidak mengenal cewek itu.


“Gue nggak salah. Lo pasti Shila, gue masih ingat jelas suara lo,” kata cewek itu dengan mata menyipit yang Shila tebak sedang tersenyum dibalik masker. Lalu pandangan Shila beralih pada cowok di sebelah cewek itu.


“Lo lupa sama gue? Gue Monika, kita satu SMP dulu.”


DEG!


Shila membulatkan matanya, tangannya spontan memegang erat tali tasnya. Perlahan Shila berjalan mundur, mencoba menghindari dua orang didepannya itu.


“Lo nggak mau say hi sama gue? Nggak kangen sama gue?” tanya Monika.


“Udah, Mon. Jangan ganggu dia,” sela cowok di sebelah Monika.


“Lho? Shil? Lo mau kemana?” tanya Monika melihat Shila yang tanpa berkata-kata langsung berlari meninggalkan dua orang itu.


“Shila!” panggil cowok itu spontan mengejar Shila.

__ADS_1


Shila tidak tahu kemana kakinya membawa tubuhnya. Napas Shila tidak beraturan, gadis itu menunduk dengan tangan meremas bajunya. Shila memperhatikan sekitarnya, ternyata dia berada di basement toko buku. Tangan Shila gemetar mencari-cari ponselnya, hendak menelpon sang Mama agar segera datang menjemputnya. Gadis itu lupa membawa obatnya, serangan panik itu kembali menyerangnya. Shila jatuh terduduk, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.


“Mama,” lirih Shila terbata-bata.


Dia masih berusaha mengontrol napasnya, tapi bayang-bayang masa lalunya kembali menghantui. Membuat Shila makin cemas dan ketakutan.


“Shil? Lo nggak papa?” tanya seseorang menyentuh bahu Shila.


Shila melihat wajah orang itu, tapi pandangan Shila kabur. Dia mengernyitkan dahi, tapi pikiran buruk langsung menghinggapi gadis itu.


“Tenang. Napas pelan-pelan, gue nggak akan nyakitin lo,” ucap sosok itu memegang bahu Shila.


Shila menurut dan mulai bernapas dengan pelan. Beberapa waktu kemudian dia sudah mulai sedikit tenang. Barulah Shila dapat melihat jelas siapa sosok itu.


“Kak Ivan?” gumam Shila lirih.


Sementara cowok berkacamata itu mengangguk. “Lo udah tenang sekarang?” tanya Ivan.


“Ma… makasih, Kak,” ucap Shila.


Spontan Shila melepas genggaman tangannya di lengan Ivan. “Ma… maaf, Kak. Gue nggak sengaja,” kata Shila panik melihat lengan Ivan yang memerah akibat dirinya.


“Nggak apa-apa,” jawab Ivan tersenyum dibalik maskernya.


...📱📱📱...


Kenalan sama Shila, yuk 🤗🤗



Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar


Mantan Bad Guy


__ADS_1


__ADS_2