
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Seina memasang wajah semelas mungkin dan sedang berusaha memohon ampun pada Aurel yang duduk bak seorang ratu, sementara Seina bagaikan rakyat jelata yang memohon pengampunan oleh sang ratu. Kaisar yang melihat tingkah keduanya hanya meringis. Ternyata tingkah pacarnya begini, toh?
“Gue maafin, tapi ada syaratnya,” ucap Aurel yang masih mempertahankan aktingnya. Seina mendengus, merasakan firasat yang buruk. “Berani lo dengus di hadapan Ratu?” tanya Aurel melotot.
Seina meringis. “Ampun, Ratu. Jadi syarat apa yang Paduka Ratu inginkan?”
‘Sumpah gue malu, Nj*r,’ batin Seina, dia sempat melirik pada Kaisar yang sepertinya sedang menahan tawa.
“Lo!” tunjuk Aurel pada Kaisar, membuat cowok itu terkesiap. Dia menatap bingung pada Aurel. Apakah dia juga diminta akting seperti mereka?
“Ya?” jawab Kaisar.
“Bawa Ivan ke sini sekarang juga!” perintah Aurel.
“Tapi…”
“Berani lo lawan titah Ratu?”
“I… iya, gue telpon sekarang.”
“Good job. Hah, capek juga ternyata akting kayak gini,” gumam Aurel menyedot minumannya.
Kaisar benar- benar menelpon Ivan untuk menemui mereka di sebuah café yang tidak jauh dari SMA Garuda. Beberapa menit kemudian Ivan datang, raut wajahnya terlihat kebingungan. Kaisar menyuruh Ivan untuk duduk terlebih dulu, sebenarnya semalam Kaisar memarahi Ivan habis- habisan setelah mendengar cerita cowok itu.
“Ipan, ada yang mau gue tanya,” ucap Aurel memulai obrolan.
“Namanya Ivan, Rel,” ralat Seina.
“Lidah gue susah ngomong ‘V’.”
Ingin rasanya Seina memukul Aurel saat ini juga. Daritadi dirinya sudah dibuat malu oleh tingkah absurd sahabatnya itu.
“Gue mau tanya tentang Shila,” lanjut Aurel dengan wajah serius dibalik maskernya.
“Shila baik- baik aja?” tanya Ivan.
“Menurut lo? Lo pikir aja, dia pasti syok ketemu sama lo lagi,” jawab Seina kesal.
“Ceritain semuanya ke kita,” pinta Aurel.
Ivan menundukkan kepalanya, cowok itu sepertinya merasa sangat menyesal telah berbuat seperti itu dahulu.
“Pesen minum dulu dah. Biar ceritanya bisa lancar,” interupsi Aurel.
__ADS_1
Ivan mulai bercerita, bagaimana awal mula gadis itu bisa menjadi korban bully. Sebenarnya Shila memang sudah pendiam sejak dulu, gadis itu memang agak kesulitan bergaul di lingkungan yang baru. Namun Shila anak yang pintar dan sebenarnya ramah jika sudah dekat. Aurel menganggukkan kepalanya membenarkan cerita Ivan tentang sifat Shila. Seina juga masih menyimak dengan serius.
“Karena pintar Shila jadi sering dimintai tolong buat kerjain tugas- tugas mereka,” jelas Ivan.
“Termasuk lo?” tanya Seina.
Ivan terdiam, cowok itu menundukkan kepalanya. Tapi tidak lama kembali mendongak. “Gue sering lukain fisik maupun psikis dia.”
Pengakuan Ivan itu membuat Aurel dan Seina kompak meradang. Keduanya bersamaan menggebrak meja, membuat pengunjung yang lain menoleh pada mereka. Seina sudah ingin berdiri melayangkan tangannya untuk menampar pipi Ivan. Namun, dia sudah lebih dulu ditahan oleh Kaisar. Cowok itu berusaha menenangkan sang kekasih agar tidak terlalu emosi.
“Lo tau apa akibat dari perbuatan lo? Lo tau gimana Shila setelah ketemu lo? Lo tau Shila sampai minum obat dan pergi ke dokter gara- gara lo dan teman- teman sejenis lo?” cecar Aurel, kedua tangannya mengepal kuat.
“Gara- gara kalian, Shila berubah,” gumam Seina dengan raut wajah sedih.
“Maaf,” ucap Ivan penuh penyesalan.
“Minta maaf sama Shila, Nyet!” bentak Aurel. “Kita nggak butuh permintaan maaf lo,” tambahnya.
“Gu… gue udah cari Shila. Ternyata kita udah nggak satu sekolah pas udah lulus. Baru kemarin itu kita ketemu lagi pas di GOR.”
“Dan lo udah sia- siain kesempatan buat minta maaf ke dia,” ujar Seina menatap tajam pada Ivan.
Setelah pernyataan dari Ivan itu, kini cowok itu memohon untuk diberikan nomor ponsel dan alamat rumah Shila. Ivan ingin menemui Shila untuk meminta maaf atas semua perbuatannya dahulu hingga menyebabkan gadis itu mengalami trauma. Ia tidak menyangka jika perbuatannya dan teman- temannya dulu sangat fatal bagi gadis itu. Dulu memang kasus bully itu sudah dibicarakan baik- baik oleh pihak sekolah dan orang tua. Namun siapa sangka jika luka itu masih membekas, hingga sulit disembuhkan.
“Gue kasih kalo Shila izinin,” ucap Seina.
Mendengar ucapan Seina, bahu Ivan meluruh. Sementara Aurel sudah tidak bertanya lagi, gadis itu masih berusaha mengendalikan emosinya dengan mengunyah es batu. Bisa gawat jika Aurel sudah mengeluarkan jurusnya. Sejak kecil gadis itu sudah dilatih tinju oleh Ayahnya yang juga hobi olahraga itu.
Aurel menghirup udara dan menghembuskannya secara perlahan, dia menurunkan maskernya dan segera melahap pisang bakar coklat pesanannya.
“Makan tuh. Nggak usah tegang- tegang. Wajah ganteng lo luntur ntar,” kata Aurel sembari menikmati makanannya.
Seina menggelengkan kepalanya, sementara Kaisar yang sejak tadi hanya menjadi pendengar menepuk bahu Ivan untuk memberinya semangat.
...📱📱📱...
Seina turun dari motor besar Kaisar. Masalah Shila dan Ivan sudah jelas, kini mereka sudah tahu apa masalah di antara keduanya. Namun, Seina masih khawatir dengan masalahnya sendiri. Melihat Seina yang terdiam membuat Kaisar mengernyitkan dahinya.
“Emm, tadi itu siapa, Kak?” tanya Seina. “Pacar Kak Kai?”
“Bukan. Pacar aku itu kamu, Yang,” jawab Kaisar tegas.
“Terus tad…”
“Gisel cuma tetangga yang suka nebeng aku. Jangan percaya sama omongan mereka, ya?”
Seina menganggukkan kepalanya. Kaisar tersenyum dibalik maskernya dan tangannya terulur untuk menepuk kepala Seina.
__ADS_1
“Kak Kai mau mampir dulu?”
“Nggak hari ini, Yang. Oh ya, hari Minggu mau kencan?” tawar Kaisar mengerling pada Seina.
Seina menunduk malu, tapi kepalanya mengangguk. Setuju dengan tawaran dari Kaisar. Sedangkan cowok itu kembali tersenyum.
“Oke, sampai jumpa hari Minggu.”
“Iya, Kak.”
“Aku pulang dulu, ya?” pamit Kaisar.
“Hati- hati di jalan, Kak.”
Seina masuk ke dalam rumah dengan bersenandung ceria. Wajah cerianya itu berhasil ditangkap oleh sang Abang yang hobi menjahili Seina.
“Ada apa nih baru pulang wajahnya berkembang- kembang,” tegur Gara.
Seina melebarkan senyumnya pada Gara. “Kepo.”
Lalu Seina berlalu pergi masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Sementara Gara yang diperlakukan seperti itu oleh sang adik hanya mendengus kesal. Tidak lama Gara melihat Seina kembali turun dan berjalan menuju dapur. Cowok itu membuntuti sang Adik yang ternyata sedang minum di dapur.
“Tadi pulang di anter siapa? Bukan Aurel, ya?” tanya Gara menyelidik.
“Tumben- tumbenan lo nanyain Aurel,” jawab Seina mengernyitkan dahinya.
“Ckck, jawab aja kenapa sih? Dari suara mesin motornya bukan motor temen lo.”
“Sampai hapal suara mesin motornya si Aurel.”
“Lo tadi main dulu, ya? Kemana lo setelah dari rumah Shila?” tanya Gara menyipitkan matanya.
“Kepo banget sih!”
...📱📱📱...
Othor baik nan cangtip bagi wajah Ivan 😚😚😚
Setelah selesai membaca jangan lupa beri komentar dan koreksi bila ada typo...
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
__ADS_1
Mantan Bad Guy