
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Seina terbangun di pagi hari, melihat jam yang ada di dinding kamarnya sebelum memulai aktivitas pagi. Sejenak Seina lupa akan masalahnya semalam. Baru saja gadis itu keluar dari kamar, dia sudah di sambut oleh tangisan Geo. Seina pun melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya untuk melihat apa yang terjadi. Seina mengernyit ketika melihat hanya ada Geo seorang diri di dalam box bayinya. Seina pun menghampiri sang adik, sepertinya Geo baru bangun dari tidurnya.
“Pagi- pagi Geo udah galau aja,” ucap Seina menggendong sang adik dan membawanya keluar kamar. “Bayi kalo belum mandi bau juga, ya?”
Seina menepuk- nepuk punggung Geo, berusaha untuk menenangkan sang adik yang masih menangis. Sementara Geo masih sesenggukkan dengan mulut sibuk mengemut jempol.
“Mami! Geo pup!” teriak Seina ketika mencium bau busuk yang berasal dari Geo.
“Tolong gantiin popoknya dulu. Mami lagi goreng ikan,” teriak sang Mami dari dapur.
Seina mendengus dan menepuk bokong Geo. Dia pun kembali ke atas untuk mengganti popok Geo. Dia menidurkan Geo di meja dan mengambil barang- barang yang dibutuhkannya untuk mengganti popok adiknya itu.
“Astaga pagi- pagi suguhan gue kayak gini,” gumam Seina melepas popok. “Aish, Geo jangan gerak- gerak!” teriak Seina.
Akhirnya pergantian popok Geo selesai, Seina ngos- ngosan. Dia tiduran di kamar Geo dengan sang adik disebelahnya. Membiarkan Geo bertingkah sesukanya, sementara Seina beristirahat sejenak. Hanya mengganti popok saja membuat peluhnya bercucuran.
“Udah, Kak?” tanya Bu Lia menghampiri Seina.
“Udah,” jawab Seina melirik pada Geo.
“Kakak sarapan dulu sana. Nanti ada kelas?” tanya Bu Lia duduk di samping Seina yang masih tiduran.
“Ada, bentar lagi deh. Masih mager.”
“Mami dapet info dari Bundanya Aurel, katanya minggu depan sekolah kamu udah luring, ya?”
“Masa’, Mam? Sei kok nggak tau?”
“Ya mana Mami tau, coba tanya guru kamu.”
Seina hanya menganggukkan kepalanya. Terkadang Seina heran dengan sang Mami yang lebih tahu perihal sekolahnya di banding dia sendiri. Apalagi jika sudah berkumpul dengan Bunda Aurel, seharian mereka akan betah menggibah.
Seina sarapan dengan menatap layar laptop, dia sedang menyimak gurunya yang sedang memberi materi. Beruntung sang guru memperbolehkannya untuk off camera. Seina mengernyit melihat tingkah salah satu temannya.
“Bentar lagi jatuh tuh si Ahsan,” gumam Seina. “Nah, bener, kan. Dasar kebanyakan gaya sih.”
Seorang teman sekelas Seina yang bernama Ahsan jatuh dari kursinya. Ahsan memang anak yang hiperaktif, dia tidak bisa diam di tempat. Seperti tadi, sedang Zoom saja tingkahnya aneh- aneh.
“Lho? Ahsan kok tiba- tiba hilang?” tanya guru itu membuat teman- teman Seina yang lain tertawa ngakak.
Ahsan muncul kembali di kamera dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cowok berambut ikal itu hanya cengar- cengir.
__ADS_1
“Maaf, Pak. Saya kepleset tadi,” jawab Ahsan.
“Banyak tingkah sih lu,” gumam Seina.
Dia telah menghabiskan sarapannya.
Sembari menyimak gurunya, gadis itu membuka aplikasi whatsapp- nya untuk melihat jadwal pelajaran selanjutnya. Namun ternyata notifikasi chat sudah banyak berjejer, satu- persatu Seina membuka notifikasi itu.
“Oh iya, Kak Kai,” ucap Seina ketika membaca chat dari Kaisar.
Kaisar menjelaskan kesalahpahaman semalam melalui chat. Sebenarnya semalam cowok itu mencoba menelpon Seina. Namun ternyata gadis itu sudah tidur lebih dulu, juga ponselnya dia nonaktifkan. Seina pun membalas chat Kaisar, dia juga meminta maaf karena baru membuka chat dari cowok itu.
“Nggak apa- apa, Yang. Kamu udah nggak salah paham lagi, kan?” tanya Kaisar membalas chat dari Seina.
“Iya, Kak. Semalam aku kaget, dia nyolot banget ngomongnya.”
“Syukur deh. Kalau gitu aku mau lanjut buat tugas lagi. Oh ya, nanti sore aku latihan basket. Kamu mau nonton?”
“Dimana?”
“Di GOR. Kalau kamu mau nonton, nanti aku jemput.”
Seina terdiam, tidak langsung membalas chat itu. Menimang- nimang sebelum membalasnya. Seina melirik pada sang Mami yang duduk di meja makan bersama dengan Geo.
“Mam, Sei nanti sore boleh keluar?” tanya Seina pada sang Mami.
“Di ajak Kak Kai nonton latihan basket,” jawab Seina meringis.
“Berdua? Coba sana tanya Papi kamu.”
Seina mengerucutkan mulutnya. Gadis itu maju mundur untuk memasuki ruang kerja sang Papi. Hari ini Pak Anton bekerja dari rumah dan sejak pagi tadi sudah mengurung diri di ruang kerjanya. Seina menghembuskan napasnya dan mengetuk pintu.
“Masuk!” perintah Pak Anton dari dalam.
“Pap,” panggil Seina pelan.
“Kenapa? Mau minta duit?”
“Iya, sama mau minta izin. Nanti sore Sei mau nonton latihan basket Kak Kai.”
“Dimana?” tanya Pak Anton mengernyitkan dahi. “Lho? Kalian udah pernah ketemu?”
“Nontonnya di GOR. Kita udah pernah ketemu, habis nonton pertandingan waktu itu.”
“Ganteng mana sama Papi?”
__ADS_1
Seina memutar bola matanya malas. Namun demi izin Seina rela berbohong. “Ganteng Papi.”
“Ya udah boleh. Tapi pulangnya jangan malem- malem, suruh dia jemput depan rumah. Kalau nunggu di depan gang, Papi cabut izinnya.”
“Iya, Papi. Utututu, sayang Papi banyak- banyak,” jerit Seina memeluk Pak Anton. “Oh ya, mana duitnya?”
Gadis itu sudah mesem- mesem semenjak keluar dari ruang kerja Pak Anton. Seina segera membalas chat Kaisar tadi. Tidak lupa juga, Seina pamer pada dua sahabatnya itu. Lalu untuk merayakan kebahagiannya, Geo yang menjadi korban. Bayi itu menjadi korban kekerasan oleh sang Kakak kandungnya. Seina mencubit dan mencium pipi gembul Geo dengan gemas. Bocah itu sudah mandi, jadi Seina mau menciumi pipi Geo karena sudah wangi.
“Lama- lama tepos tuh pipi si Geo,” kata Gara yang datang membawa setoples kacang atom.
“Ckck, ganggu aja orang lagi seneng.”
“Ada apa nih kok seneng? Roman- romannya uang jajan turun nih,” tanya Gara menaik- turunkan alisnya.
“Duit mulu. Dasar mata duitan.”
“Terus apa?”
“Ada deh. Jangan terlalu kepo!”
Gara hanya mencibir dan melanjutkan aktivitasnya tanpa mempedulikan Seina yang masih terus menyerang Geo. Hingga bayi itu berakhir menangis dengan tubuh menggelepar di lantai beralaskan karpet.
...📱📱📱...
Seina sudah berdandan sore ini, dia menunggu kedatangan Kaisar di ruang tamu bersama dengan Pak Anton yang sedang membaca koran. Tadi Kaisar sudah memberitahunya jika cowok itu sudah menuju rumahnya. Seina juga sudah share lokasi agar Kaisar tidak tersesat. Punggung Seina menegak ketika mendengar suara deru motor berhenti di depan rumah. Pak Anton menurunkan korannya dan berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang, sedangkan Seina mengekor di belakang Papinya.
“Selamat sore, benar ini rumahnya Seina?” tanya seseorang dengan masker di wajah.
“Iya, ini Seina di belakang saya,” jawab Pak Anton menggeser tubuhnya. “Oh ya, bisa kamu buka maskernya sebentar?”
Seina dan orang itu pun mengernyit mendengar permintaan Pak Anton. Namun cowok itu menurut, dia menurunkan maskernya.
“Kamu bohong, Sei,” ucap Pak Anton.
...📱📱📱...
Setelah selesai membaca jangan lupa tinggalkan komentar kalian 👍👍👍
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
Mantan Bad Guy
__ADS_1