LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Aldo


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Aldo masih asyik membalas chat dari teman-teman barunya. Sore tadi tiba-tiba Aurel memasukkan nomornya ke dalam sebuah grup yang ternyata berisikan Seina dan Shila. Aldo tersenyum tipis membaca chat dari Seina, Shila, dan Aurel. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas, tapi sepertinya para cewek itu masih belum menghentikan obrolan mereka.


“Dek?” panggil sebuah suara dari luar.


Aldo yang mendengar suara itu pun segera meletakkan ponselnya dan berlari membukakan pintu. Di depan pintu berdiri Bu Vina. Sementara Bu Vina mengernyit heran, ternyata putranya itu belum tidur.


“Kok kamu belum tidur?” tanya Bu Vina.


“Belum, Ma. Habis ini Aldo tidur,” jawab Aldo.


“Langsung tidur lho, ya. Jangan begadang.”


“Iya, Ma,” jawab Aldo dan hendak menutup pintu kamarnya. Namun ditahan oleh Bu Vina.


“Gimana teman-teman baru kamu?” tanya Bu Vina.


“Mereka baik kok,” jawab Aldo tersenyum, dia kembali teringat chat di grup tadi.


“Kenapa?” tanya Bu Vina mengernyit.


“Nggak, Ma. Aldo cuma keinget chat di grup tadi.”


“Grup?”


Aldo mengangguk. “Tadi sore Aurel masukin Aldo ke grup WA.”


Bu Vina mengangguk paham dan tersenyum. “Ya udah, sekarang kamu tidur.”


Aldo segera melaksanakan perintah Bu Vina. Cowok itu pamit pada teman-temannya dan segera beranjak tidur. Lagi-lagi sebuah senyum terbit di bibir cowok itu.


“Ternyata gini rasanya punya temen deket,” gumam Aldo menatap langit-langit kamarnya.


Di Surabaya dulu Aldo tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Aldo memang anak yang pendiam sejak dulu. Teman bermainnya hanya kakak kembarnya. Rasa kantuk menghentikan Aldo yang sedang mengingat momen masa kecilnya. Beberapa menit kemudian cowok itu sudah jatuh tertidur.


Sementara itu, di kamar sebelah Bu Vina terlihat khawatir. Namun ada juga perasaan lega setelah mendengar cerita putranya tadi. Pak Dafa yang sedang membaca buku mengernyitkan dahi melihat raut wajah sang istri.


“Ada yang usik pikiran kamu?” tanya Pak Dafa meletakkan bukunya.


“Aku kepikiran Aldo, Mas,” jawab Bu Vina menatap wajah sang suami.


“Dia kenapa? Kambuh lagi?” tanya Pak Dafa, kini raut wajahnya berubah cemas.


“Nggak, bukan itu. Tadi dia cerita kalau teman-teman barunya baik.”


“Terus apa yang ganggu pikiran kamu?”


“Tadinya aku khawatir kalau Aldo nggak akan bisa menyesuaikan. Tapi setelah mendengar ceritanya tadi aku menjadi lebih tenang. Beruntung ada Seina, Shila, dan Aurel.”


“Mereka anak-anak teman kamu, kan?”

__ADS_1


Bu Vina tersenyum dan mengangguk.


“Tiga gadis itu mengingatkanku semasa SMA dulu.”


...📱📱📱...


Setelah sarapan, Aldo bersiap untuk memulai kelasnya. Hari ini akan dilakukan Zoom. Cowok itu sudah bersiap di depan laptopnya. Tidak jauh dari tempat Aldo berada, ada sang majikan yang sedang menjilati bulunya. Nama majikan milik Aldo adalah Jely, warna bulunya abu-abu dan putih. Aldo memang pecinta hewan lucu berbulu itu.


“Jely,” panggil Aldo.


Jely yang merasa terpanggil pun menoleh. Kucing kecil itu langsung berlari menghampiri Aldo, melompat ke atas meja belajarnya. Mumpung Zoom belum di mulai, Aldo bisa bermain dengan Jely terlebih dulu. Sementara Jely yang sedang dielus-elus oleh babunya merasa nyaman.


“Sudah masuk room semua, ya?” tanya sang guru yang membuat Aldo terkejut.


Aldo pun menurunkan Jely dan dia mulai fokus pada kelasnya. Cowok itu tidak mau kejadian beberapa waktu yang lalu kembali terulang. Dimana Jely yang tiba-tiba menciumnya.


“Ibu mulai kelas hari ini. Oh ya, tugas kemarin ada yang belum mengumpulkan.”


“Geo!” pekik Shila tiba-tiba, membuat semua yang ada di sana terkejut.


“Shila, jangan berisik. Seina ajak adiknya lagi, ya?”


“Iya, Bu. Maaf, Geo nggak ada yang jagain,” jawab Seina merasa tidak enak.


“Lho? Bang Gara kemana?” tanya Aurel.


“Ngobrolnya nanti lagi. Sekarang Ibu akan absen terlebih dulu.”


“Jely, sini,” panggil Aldo dan membawa Jely ke dalam dekapannya.


“Dek, kamu udah selesai kelasnya?” tanya Bu Vina.


“Udah, Ma.”


“Nanti ada kelas lagi?”


Aldo terdiam mencoba mengingat-ingat jadwal hari ini. “Nggak ada, Ma. Kenapa?”


“Mama mau ke rumahnya Seina. Kamu mau ikut?”


“Nggak, Aldo mau di rumah aja.”


“Oke, Mama pergi dulu. Kalau ada apa-apa telpon Mama.”


Aldo hanya mengangguk dan menatap kepergian Bu Vina. Lalu Aldo berjalan menuju ruang keluarga, dia menyalakan televisi.


Ponsel yang ada di dalam kantong celana Aldo berdering tanda ada panggilan masuk. Tangan kanannya pun merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Sementara tangan kirinya masih menggenggam Jely. Wajah Aldo menjadi cerah setelah melihat siapa yang menelponnya.


“Halo?” sapa Aldo.


“Lo nggak ada kelas?”  tanya suara di seberang sana.


“Udah tadi, nanti udah nggak ada lagi. Kak Dika nggak kuliah?”

__ADS_1


“Kita di kampus, mau kumpulin tugas.”


“Gimana, Dek? Udah dapet pacar belum?” Serobot suara dari seberang.


“Kak Wira? Aldo belum punya pacar, Kak.”


“Ckck, padahal anak-anak Jakarta cantik-cantik.”


“Wir, jangan ngajarin nggak bener ke Aldo,” peringat Dika.


Mahardika dan Mahawira merupakan kakak laki-laki kembar Aldo. Kedua kakaknya itu sangat menyayanginya dan selalu menjaganya. Jika biasanya saudara laki-laki akan berkelahi, berbeda dengan mereka. Mereka akan saling menjaga dan menyayangi.


“Mama mana, Dek?” tanya Dika membuyarkan lamunan singkat Aldo.


“Mama ke rumah Seina…”


“Siapa tuh Seina. Pacar lo, ya? Wah udah mulai berani bohong nih, Aldo.”


“Bukan, Kak. Seina itu teman baru Aldo. Maminya dia teman SMA Mama dulu.”


“Oh iya, rumah kita satu komplek sama rumah teman-teman Mama dulu. Siapa tuh namanya, Dik? Tante Lia sama Tante Candra kalo nggak salah,” ucap Wira.


“Iya, Kak. Tante Lia itu Maminya Seina, terus Tante Candra itu Bundanya Aurel,” jelas Aldo.


Obrolan ketiganya harus berakhir karena Dika dan Wira hendak pulang ke kos. Dua cowok itu sebenarnya juga ingin ikut pindah. Namun mau bagaimana lagi, keduanya sudah terlanjur mendaftar kuliah di sana. Sayang juga jika ingin pindah kampus, perjuangan keduanya untuk masuk universitas itu sangat berat.


Aldo pun kembali menikmati waktu sendirinya. Bermain bersama dengan Jely dan matanya sesekali memperhatikan acara di televisi. Sampai sebuah bel mengusik ketenangan Aldo. Dengan malas cowok itu menyeret langkahnya menuju pintu depan.


“Hai,” sapa seseorang begitu pintu depan terbuka. Sementara Aldo mengernyitkan dahinya menatap seorang cewek di depannya.


“Gue Seina. Ini dari Nyokap gue,” ucap Seina dan memberikan bungkusan pada Aldo.


“Makasih.”


Seina mengangguk dan pamit untuk pulang. Sementara Aldo hanya menatap kepergian Seina sampai cewek itu menghilang di balik pagar rumahnya.


...📱📱📱...


Aldo si pecinta kochenk 😗😗



Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar


Mantan Bad Guy


__ADS_1


__ADS_2