LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Gara-Gara Cireng


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Seina sedang mengerjakan tugas dari sekolahnya di ruang keluarga. Hari ini tidak Zoom Meeting, hanya ada tugas saja yang diberikan oleh guru Seina. Sementara tidak jauh darinya, ada Gara yang juga sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Abangnya itu terlihat fokus dengan laptopnya sejak tadi. Namun, tumben Gara mengerjakan tugas kuliahnya di ruang keluarga.


“Akhirnya selesai,” gumam Seina melepas pulpen yang sejak tadi melekan ditangannya.


Lalu Seina tiduran di atas karpet, tangannya meraba-raba ponsel yang tadi dia letakkan di atas meja. Ponsel itu sengaja Seina silent agar dia tidak terganggu oleh suara notif yang bisa saja akan membuyarkan lamunannya. Seina masuk ke grup obrolan game, ternyata sudah ramai oleh anak-anak yang entah membahas apa. Seina pun me-scroll layar ponselnya, mmebaca satu persatu obrolan-obrolan di grup itu.


“Kak Kai nggak on, ya?” tanya Seina di grup itu.


“Kayaknya nggak, Kak. Kak Sei kenapa baru nimbrung? Kemana aja tadi?” balas dan tanya Genta salah satu member di grup ini.


“Kerjain tugas tadi, hari ini banyak tugas.” Tulis Seina.


“Kak, balas PC ku dong. Dari kemarin nggak di balas, padahal on,” pinta Genta.


Genta adalah seorang gamers yang sudah cukup lama juga tergabung di grup ini. Cowok itu masih kelas tiga SMP dan paling dekat dengan Seina. Keduanya sering mengobrol di grup ini. Walau begitu, Genta belum memiliki nomor pribadi Seina.


Seina memang tidak sembarangan memberikan nomor teleponnya pada sembarang orang. Hanya Kaisar yang memiliki nomor whatsapp-nya. Bukannya Seina tidak mau membalas personal chat dari Genta.


Namun memang Seina tidak mau memberi harapan bagi anak itu, isi chat Genta adalah pernyataan cintanya untuk Seina. Padahal Genta tahu jika Seina sedang berpacaran dengan Kaisar. Sepertinya memang anak itu bodo amat dengan status Seina sekarang.


Merasa bosan berada di grup, Seina pun kembali meletakkan ponselnya. Gadis itu mendongak ketika indera penciumannya mencium bau harum. Bu Lia datang membawa piring yang entah berisi apa. Beliau meletakkannya di atas meja.


“Tugasnya udah selesai, Kak?” tanya Bu Lia.


“Udah, Mam. Itu apa?”


“Cireng, tadi Mami dikasih sama Bundanya Aurel,” jawab Bu Lia.


“Sambelnya mana?” tanya Seina lagi, sementara Gara hanya melirik sekilas. Lalu cowok itu kembali fokus pada tugasnya.


“Masih di belakang, ambil sana.”


Seina segera bangkit dari duduknya untuk mengambil sambal rujak di dapur. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dengan sebuah mangkok kecil di tangannya. Seina kembali duduk dan mencomot satu cireng.

__ADS_1


“Akh, pwanas,” ucap Seina megap-megap. Cireng di tangannya kembali dia letakkan di atas piring. Sementara gigitan cireng dimulutnya kembali dimuntahkan.


“Sukurin, siapa suruh nggragas,” ledek Gara.


“Pukul nih!” ancam Seina mengacungkan penggaris besinya.


“Ohh, berani pukul? HP lo, gue banting,” kata Gara mencomot ponsel Seina yang tadi tergeletak di atas meja.


“Mami, Bang Gara tuh.”


“Ckck, kek bocah. Hobi ngadu,” ujar Gara melanjutkan kembali tugasnya.


Seina hanya mengerucutkan bibirnya, sedangkan Bu Lia sudah pusing dengan tingkah dua anaknya ini. Beliau pun kembali ke dapur untuk mencuci peralatan dapur yang tadi Bu Lia gunakan untuk memasak. Namun suara tangis Geo yang sepertinya sudah bangun, mengurungkan niat beliau untuk berjalan ke dapur.


“Kak! Tolong Mami, Geo bangun. Kamu ke kamarnya sana,” perintah Bu Lia.


Seina yang baru saja ingin menggigit cirengnya mendengus kesal. Dengan langkah gontai, gadis itu menurut dan berjalan menuju kamar sang adik. Suara tangisan Geo sangat kencang. Ingin rasanya Seina membekap mulut kecil Geo itu.


“Mulutnya kecil, tapi kalo nangis kenceng banget,” gumam Seina.


Bukannya menggendong Geo, dia malah ikut tiduran di sebelah adiknya itu. Geo memang tidak ditidurkan di dalam box bayi tadi. Adiknya itu ditidurkan di kasur luas dengan sekelilingnya diberi sekat bantal dan guling agar bocah itu tidak jatuh. Tangan Seina menepuk-nepuk paha Geo.


Namun bukannya tidur lagi, tangisan Geo malah makin menjadi. Membuat Seina mengerang frustasi. Paham dengan keinginan adiknya itu, Seina pun menggendong Geo dan mengajaknya turun.


“Mami, Geo mau minta susu,” pinta Seina pada sang Mami.


“Iya, sebentar.”


Geo dibiarkan rebahan di atas karpet, sementara Seina menikmati cireng yang sudah mulai dingin itu. Alhasil cireng yang digigit Seina menjadi alot. Gara yang melihat sang adik bungsu berada di dekatnya mendadak mempunyai niat jahil.


Padahal Geo sudah tidak menangis dan sedang bermain dengan kakinya di karpet itu. Dengan kejam, Gara menggelitiki Geo hingga bayi itu kembali menangis. Memang awalnya Geo tertawa ngakak, tapi lama kelamaan bocah itu menangis kencang.


“Abang! Adeknya lagi diem malah diusilin!” bentak Bu Lia yang datang membawa botol susu milik Geo.


GLEK!


“Uhuk…”

__ADS_1


Seina yang terkejut tersedak cireng yang baru masuk tenggorokannya. Gadis itu berusaha terbatuk-batuk agar cireng itu mau keluar. Sementara Bu Lia yang panik melihat putrinya tersedak, mencoba membantu dengan menepuk-nepuk punggung Seina. Cireng itu berhasil keluar, Seina benar- benar sedang beruntung.


“Udah keluar?” tanya Bu Lia.


Seina hanya mengangguk, napasnya ngos-ngosan setelah berjuang melawan maut yang tadi menghampirinya. Bu Lia bernapas lega, mata beliau langsung melotot pada Gara. Sementara cowok itu hanya meringis dengan gumaman kata maaf.


Sejak saat itu Seina benar-benar kapok dan ada trauma tersendiri dengan makanan berbahan tepung aci itu. Dia sudah tidak pernah memakan jajanan kenyal itu. Juga Bu Lia yang jarang membeli cireng setelahnya.


“Astaga! Padahal enak tau. Lo cobain lagi deh, makanan enak lo sia-siain,” ucap Aurel dari sambungan video call.


“Lo kunyah pelan-pelan, Sei,” tambah Shila.


“Nggak, pokoknya gue nggak mau makan itu. Masih banyak makanan yang lebih enak lagi,” kata Seina final.


“Awas nyesel lo,” ledek Aurel, dia bahkan menunjukkan cireng yang baru digoreng Bundanya.


“Nggak bakal nyesel.”


“Tapi masih ada cilok sama cimol,” kata Aldo tiba- tiba yang sejak tadi diam.


“Heh! Kenapa malah bahas makanan? Kita mau buat tugas, kan? Cepet deh dibagi tugasnya,” lerai Shila.


“Bentar, Shil. Pembahasan kita masih belum selesai. Sekalian gue mau tunjukin ke haters cireng ini, kalau cireng itu makanan yang sangat aman di konsumsi,” jelas Aurel ngawur.


“Aman dari Hongkong? Gara-gara cireng, nyawa gue hampir melayang,” ucap Seina melotot.


Sementara Shila hanya bisa menepuk dahinya menonton tingkah absurd kedua sahabatnya itu. Berbeda dengan Aldo yang malah asyik menonton pertengkaran itu. Cowok itu terkekeh geli melihat serta mendengar perdebatan dari layar ponselnya.


...📱📱📱...


Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar

__ADS_1


Mantan Bad Guy



__ADS_2