LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Abang Ganteng


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Sore yang cerah ini Aurel diminta sang Bunda untuk membeli kue keju. Sebagai anak yang baik dengan malas-malasan Aurel pun berangkat. Entah mengapa sore tadi sang Bunda ingin makan kue keju. Aurel pun mengajak Elsa, dia tidak mau mengajak Andin yang licik itu.


“Selamat datang,” sapa karyawan café itu.


“Kak, Elsa mau roti itu,” tunjuk Elsa pada sebuah meja yang di atasnya tertata rapi berbagai jenis roti.


“Gue lupa kalo Elsa juga doyan makan,” gumam Aurel. “Nanti, sekarang beli kue buat Bunda dulu.”


Elsa hanya mengangguk menurut, tapi pandangannya masih tidak lepas dari meja itu. Aurel berdiri di depan seorang karyawan untuk memesan.


“Mas, kue kejunya satu dibungkus, ya?”


“Baik, Kak. Ada lagi?”


Aurel menggelengkan kepalanya, matanya melirik pada Elsa yang masih memperhatikan meja berisi roti itu.


“Baik, silahkan ditunggu terlebih dulu.”


Aurel pun mengajak Elsa duduk di salah satu kursi. Sebenarnya Aurel juga ngiler melihat tumpukan roti itu. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya. Aurel yang sedang memperhatikan roti itu teralihkan pada seorang cowok dengan apron warna coklat dan sedang berbincang dengan salah satu pelanggan.


“Langit?” gumam Aurel mengernyitkan dahi.


Aurel masih menatap Langit. Wajah pemuda itu diterpa sinar mentari sore yang menghangatkan. Terlihat tampan dengan hidung mancung dan senyum samar dari bibir pemuda itu. Aurel spontan membulatkan matanya ketika ke gap sedang memperhatikan Langit. Gadis itu menampar pipinya sendiri.


“Sadar lo, Rel. Masih ganteng Bang Gara yang mirip Lee Minho,” ucap Aurel.


“Kak, mau roti,” kata Elsa membuyarkan lamunan Aurel.


“Ckck duit gue nggak cukup. Bunda cuma bawain duit buat beli kuenya.”


“Pilih aja, gue yang traktir,” interupsi sebuah suara. Aurel mendongak melihat tubuh menjulang Langit yang berdiri di depannya.


“Kenapa lo yang traktir?” tanya Aurel mengernyitkan dahinya. “Eh iya, lo ngapain di sini?”


“Gue kerja di sini,” jawab Langit tersenyum.


Mendengar Langit akan mentraktir, Elsa sudah berlari menuju meja berisi roti dan mengambil satu roti lalu kembali lagi menuju meja sang kakak.


“Kok cuma ambil satu?” tanya Aurel menaikkan alisnya.


“Elsa kira Kak Rel nggak mau,” jawab Elsa polos.


“Yaa, mau dong,” kata Aurel tersenyum manis. “Beneran lo yang traktir, kan?” tanya Aurel memastikan dan langsung diangguki oleh Langit.


Langit masih menemani Aurel yang menunggu pesanan kue milik Bu Candra. Sementara Elsa sibuk mengunyah roti pemberian Langit. Aurel mengernyit heran dengan cowok di depannya ini.


“Lo ngapain kerja? Duit jajan dari Bapak lo masih kurang?” tanya Aurel.

__ADS_1


“Gue mau cari kesibukkan aja,” jawab Langit santai.


“Sekolah lo masih kurang sibuk?”


“Iya, masih kurang sibuk,” ucap Langit tersenyum dengan tatapan terfokus pada wajah Aurel.


“Silahkan pesanannya,” ucap seorang karyawan menginterupsi Aurel dan Langit.


“Tunggu di sini, Sa,” pinta Aurel pada Elsa.


Aurel pun meninggalkan Langit dan Elsa, dia menuju kasir untuk membayar pesanannya. Beberapa saat kemudian Aurel kembali dengan kernyitan di dahi melihat wajah Elsa yang memerah dan mesem-mesem sendiri.


“Lo kenapa, Sa? Mau pup?” tanya Aurel bingung.


“Abangnya ganteng,” bisik Elsa pada Aurel.


“Astaga!” pekik Aurel geleng-geleng kepala, membuat Langit ganti mengernyitkan dahinya. “Siapa yang ngajarin?” tanya Aurel melotot.


“Mbak Andin,” jawab Elsa tersenyum.


“Ckck, memang manusia satu itu sesat. Ayo pulang. Makasih traktirannya, gue pulang dulu.”


“Iya sama-sama,” jawab Langit tersenyum.


Aurel dan Elsa keluar dari café itu, meninggalkan Langit yang masih menatap kepergian dua orang itu. Sebuah senyum miring tercetak di bibir merah mudanya. Sementara Aurel dan Elsa masih dalam perjalanan pulang ke rumah.


“Merem aja, Sa. Jangan buka matanya kalo belum sampai rumah,” kata Aurel sedikit berteriak.


“Iya, Kak,” jawab Elsa yang juga berteriak.


“Selamat gue. Hiks, susah juga nahan biar nggak jajan,” gumam Aurel memperhatikan Elsa yang sudah lebih dulu masuk.


“Anaknya Mas Anang,” panggil Septian.


Wajah Aurel berubah masam, dia berbalik dan mendapati wajah Septian yang sedang memanjat pagar rumah cowok itu. Mengintip rumah Aurel sudah menjadi kebiasaan Septian untuk menjahili Aurel.


“Apa? Kalo cuma manggil gue timpuk pake bata,” kata Aurel galak.


“Mood lo lagi jelek, ya? Nanti jalan, yuk?”


“Gue nggak ada duit.”


“Ya elah, gue traktir.”


Aurel mengubah ekspresi wajahnya menjadi ceria dan dengan senyuman manis menatap Septian yang sedang melihat gadis itu dengan tatapan datar. Cepat sekali ekspresi wajah cewek itu berubah, pikir Septian.


“Di mana?” tanya Aurel semangat.


“Eh, tapi lagi nggak boleh keluar rumah.”


Aurel mendengus malas dan segera masuk ke dalam rumah, tidak menghiraukan panggilan Septian. Setelah mencuci tangan dan kaki, Aurel berkumpul bersama Bu Candra dan kedua adiknya. Mereka menikmati kue yang tadi di beli. Bu Candra mengernyitkan dahi melihat beberapa bungkus roti di sana.

__ADS_1


“Kamu yang beli?” tanya Bu Candra pada Aurel.


“Abang ganteng yang beliin, Bund,” jawab Elsa dengan wajah memerah dan mesem-mesem seperti tadi.


“Abang ganteng? Siapa?” tanya Bu Candra mengernyitkan dahi.


“Langit, Bund. Dia kerja di café Renjana ternyata,” jawab Aurel memasukkan sepotong kue keju ke dalam mulutnya.


“Langit? Anaknya Pak Alexander itu?”


“Iya.”


“Dia kerja? Bapaknya bangkrut, ya?” tanya Bu Candra.


“Nggak, Bund. Bapak dia masih kaya, kok. Si Langit katanya gabut, kurang kegiatan jadi dia cari kegiatan,” jelas Aurel.


“Ada-ada aja kelakuan orang kaya,” ucap Bu Candra menggelengkan kepalanya.


“Orang kaya mah bebas, Bund,” timpal Andin yang dari tadi hanya menyimak obrolan kakak dan Bundanya.


Fokus Aurel teralihkan ketika notifikasi ponselnya berbunyi, di sana ada chat dari Septian. Sebenarnya Aurel malas membuka chat itu, dia takut kena prank cowok jahil itu lagi. Namun setelah membaca chat dari Septian, mendadak wajah Aurel berubah cerah.


“Bund, nanti Kak Septi mau ajak Aurel ke warung Mbak Leha,” ucap Aurel meminta izin pada Bu Candra.


“Ikut, Kak,” rengek Elsa.


“Mana boleh, Kak Septi nggak ngajak Elsa,” ledek Aurel pada Elsa.


“Minta izin Ayah boleh apa nggak,” kata Bu Candra.


“Siap, Bos. Segera laksanakan.” Aurel memberi hormat dan segera mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tentu saja izin pada Pak Juno agar Aurel diperbolehkan keluar malam nanti.


“Oh ya, kamu bilang beli kuenya di Renjana?” tanya Bu Candra.


“Iya, Bund,” jawab Aurel mengangguk.


“Lah, pantes aja. Itu café punya Bapaknya Langit,” ucap Bu Candra, sementara Aurel membulatkan matanya.


...📱📱📱...


Penampakan Septi An di warung Mbak Leha



Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar

__ADS_1


Mantan Bad Guy



__ADS_2