LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Sisi Lain Kaisar


__ADS_3

Gebrakan meja membuat Kaisar yang sedang tertidur di dalam kelas mendongakkan kepalanya. Ingin melihat siapa yang sudah mengganggu tidur siangnya. Kaisar mendengsu malas melihat siapa yang sudah membuat keributan di kelasnya ini. Cowok itu kembali menidurkan kepalanya di meja.


“Ih, Kai. Gue mau ngomong sama lo,” ucap Gisel berkacak pinggang.


Namun, Kaisar tidak menggubris keberadaan Gisel. Melihat Kaisar tidak menganggapnya ada, cewek itu pun menggoyangkan tubuh Kaisar berharap cowok itu mau berbicara dengannya.


“Ckck, apa sih? Lo ganggu!” geram Kaisar.


“Gue mau tanya sama lo. Kenapa tadi pagi lo ninggalin gue?”


“Gue berangkat sama pacar gue.”


Gisel membulatkan matanya, menatap tak percaya pada Kaisar. “Lo ninggalin gue demi pacar lo?”


Kaisar mengusap wajahnya frustasi, bisa- bisanya dia terjebak dengan cewek manja dan pemaksa macam Gisel ini.


“Kai, jawab! Lo lebih milih pacar lo?”


“Emang lo siapa? Kenapa gue harus milih? Lagian jawabannya juga udah jelas,” ucap Kaisar keluar dari kelasnya, meninggalkan Gisel di sana.


“Kai! Kaisar! Gue belum selesai ngomong!” teriak Gisel memanggil cowok itu.


Kaisar pindah tempat ke lapangan basket indoor. Menidurkan tubuhnya di tribune penonton dan mulai memejamkan matanya. Namun baru sebentar dia memejamkan matanya, suara bola basket yang membentur lantai lapangan membuatnya terjaga. Kaisar bangkit dari posisinya untuk melihat siapa yang lagi- lagi telah mengganggu tidurnya.


Cowok mengernyit merasa tidak mengenal seseorang yang sedang mendribble bola basket di lapangan. Tapi spontan mata Kaisar membulat ketika bola basket itu terlempar ke arahnya. Sepertinya orang itu sengaja melempar bola basket dengan sasaran Kaisar.


“Lo ada masalah sama gue?” tanya Kaisar marah.


“Bukan gue, tapi Gisel,” jawab cewek tomboy yang masih berdiri tegap di lapangan itu.


Kaisar mendengus, dia ingat sekarang siapa cewek yang sedang menatapnya tajam itu. Namanya Tesa, salah satu teman Gisel yang selalu lengket kemana pun mereka pergi.


“Yang punya masalah Gisel, kenapa jadi lo yang pusing?” tanya Kaisar.


“Karena gue temennya, gue mau bantuin dia.”


Kaisar terkekeh mendengar jawaban Tesa. Sementara cewek itu tambah menatap sebal pada Kaisar yang sangat jelas sedang mentertawakannya.


Cowok itu berjalan menuruni tribune penonton, menghampiri Tesa. Tidak lupa dengan bola basket di tangannya. Kini Kaisar tepat berdiri di depan Tesa, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Tesa menahan napasnya melihat paras rupawan Kaisar tanpa masker. Kaisar tersenyum miring dan menembak bola basket tepat menuju ring. Masuk! Bola itu masuk ke dalam ring dengan sempurna.

__ADS_1


“Gue nggak paham sama cara pertemanan antar cewek. Tapi, lebih baik lo jangan ikut campur,” ucap Kaisar masih dengan senyum miringnya. Tangannya menepuk bahu Tesa sebelum dia pergi dari sana.


Setelah kepergian Kaisar, Tesa jatuh terduduk. Cewek itu menatap kepergian Kaisar dengan wajah merah padam menahan emosi. Kedua tangan Tesa sudah mengepal kuat.


“Jantung gue!” pekik cewek itu memegang dadanya, merasakan detak jantung yang berdegub sangat cepat.


Tesa tidak bisa berbohong jika Kaisar memang sangat tampan, tidak salah jika menjadi primadona di sekolah ini. Dan tadi dia berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan cowok itu. Mungkin jika itu bukan Tesa, pasti cewek itu akan langsung pingsan di tempat.


Kaisar benar- benar kehilangan mood untuk tidur siang. Cowok itu memutuskan kembali ke kelas begitu bel berbunyi. Dia kembali duduk dibangkunya. Satu persatu teman kelasnya kembali memasuki ruang kelas, tidak lama seorang guru masuk.


“Kaisar, pakai maskermu!” perintah guru itu.


Kaisar segera mengambil maskernya dan memakainya. Pembelajarn pun di mulai, semua anak fokus pada penjelasan guru di depan termasuk Kaisar. Namun sebuah getaran di laci mejanya mengalihkan fokus cowok itu. Kaisar diam- diam meraih ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya chat.


“Gue bakal ngomong ke Tante Vera kalo lo masih main basket di sekolah. Lo tau, kan? Tante Vera nggak izinin lo main basket?”


Kaisar menggenggam erat ponselnya menahan emosi setelah membaca chat dari Gisel. Cewek yang sangat merepotkan baginya.


“Apa mau lo?”


“Nanti pulang bareng gue, ya?”


Akhirnya dengan berat hati, Kaisar menyetujui permintaan Gisel. Lalu cowok itu mengirim chat pada Seina, memberitahunya jika pulang nanti tidak bisa menjemput. Ya, sekolah Seina juga sudah menerapkan pembelajaran tatap muka. Percobaan yang dilakukan oleh pemerintah.


Pemerintah sudah menyatakan jika penyebaran virus mulai menurun, bukan tidak mungkin jika pandemi ini bisa saja akan segera berakhir dan semua rakyat dapat beraktivitas secara normal. Berkat telah ditemukannya vaksin dan rakyat yang patuh terhadap anjuran pemerintah, kini kasus penyebaran virus berhasil menurun drastis.


...📱📱📱...


Di lain tempat, Seina menatap sedih ponselnya. Dia baru saja menerima chat dari Kaisar jika nanti tidak bisa menjemputnya. Seina sempat menanyakan alasan cowok itu tidak bisa menjemputnya, tapi belum dibaca oleh cowok itu. Dia menghembuskan napasnya, mulai membereskan perlengkapan sekolahnya. Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Shila mengernyit melihat wajah sedih sahabatnya itu. Beruntung kini ketiganya berada di satu kelas.


“Lo kenapa, Sei?” tanya Shila.


“Kak Kai nggak jadi jemput. Rel, gue…”


Perkataan Seina terhenti ketika tidak melihat sang sahabat yang duduk di bangku belakangnya. “Aurel kemana?” tanya Seina.


“Dia udah keluar daritadi. Mau beli cilok di depan katanya,” jawab Shila.


“Ckck, dasar makanan mulu tuh anak. Nanti kalo Aurel udah nggak ada gue nebeng lo, ya?”

__ADS_1


“Iya, Sei.”


Seina dan Shila kompak menggelengkan kepala melihat jajanan yang dibawa Aurel. Padahal saat istirahat tadi cewek itu sudah jajan di kantin, kini saat pulang sekolah Aurel masih jajan di depan sekolah. Memang setelah pembelajaran tatap muka, sekolah kembali mengizinkan para pedagang berjualan di depan sekolah seperti dulu, tapi tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.


“Kalian mau?” tanya Aurel.


“Nggak, Rel. Buat lo aja,” tolak Seina dan Shila.


“Gue pulangnya nebeng lo dong,” ucap Seina.


“Pacar lo kemana?” tanya Aurel dengan mulut penuh makanan.


“Nggak bisa jemput.”


“Punya yang baru kali,” ucap Aurel.


PLAK!


“Jangan asal ngomong, Jubaedah!”


“Bisa jadi, kan? Jangan terlalu percaya, deh.”


“Ya iya, tapi lo jangan ngomong jahat gitu dong,” ujar Seina.


Sementara Shila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabatnya ini. Lalu cewek itu pun pamit terlebih dulu. Begitu juga dengan Seina dan Aurel juga segera pulang.


...📱📱📱...


Selesai membaca jangan lupa beri komentar dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar


Mantan Bad Guy


__ADS_1


__ADS_2