LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Kaisar dan Gisel


__ADS_3

Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗


...📱📱📱...


Kaisar memijit pelipisnya, dia baru saja menyelesaikan tugasnya. Tangan cowok itu meraih ponselnya ingin menelpon sang kekasih. Namun sebelumnya dia mengirim chat terlebih dulu, Kaisar takut jika ternyata Seina masih ada kelas.


“Kamu udah selesai Zoom, Yang?” tanya Kaisar.


“Udah, Kak. Kakak masih ada kelas lagi?”


“Nanti habis dzuhur masih ada, ini masih istirahat dulu.”


“Mabar yuk, Kak?” ajak Seina.


“Ayo, kamu login dulu.”


Kaisar tersenyum dan segera membuka aplikasi game online. Cowok itu pun larut dalam permainan, sesekali dia tersenyum ketika mendengar suara Seina yang berkomentar. Namun tiba-tiba, Seina menghilang. Membuat Kaisar mengerutkan dahinya.


“Lah? Dia kemana? Tiba-tiba ilang.”


Kaisar mendengus dan tidak berminat main lagi, dia meletakkan ponselnya di meja. Baru saja cowok itu hendak rebahan, pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang wajahnya masih awet muda. Siapa lagi jika bukan Mama Kaisar.


Bu Vera berdiri berkacak pinggang menatap Kaisar. Sementara Kaisar mau tidak mau kembali berdiri dari posisinya yang tadi sudah siap posisi rebahan. Bu Vera melangkah menuju meja belajar Kaisar, membuka buku cetak milik putranya.


“Sudah selesai semua tugasmu?” tanya Bu Vera.


“Udah, Ma,” jawab Kaisar malas.


“Bagus,” ucap Bu Vera menyunggingkan senyumnya. “Sudah minum vitaminmu?” tanya Bu Vera. Kaisar hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Oke, kamu bisa lanjutkan belajar materi untuk siang nanti.”


Bu Vera berlenggang keluar dari kamar Kaisar dan menutup pintu kamar cowok itu. Kaisar mendengus sebal mengingat ucapan sang mama yang membuatnya muak. Kegiatan Kaisar selama di rumah hanya belajar dan belajar.


Dia juga dipaksa meminum vitamin yang sama sekali tidak diperlukannnya. Namun jika nilai yang Kaisar dapat menurun, Bu Vera akan memarahinya habis-habisan. Kaisar tidak diperbolehkan mengikuti ekstrakulikuler apapun di sekolah dan tidak diperbolehkan bermain ponsel berlebihan.


Tidak masalah bagi Kaisar untuk meletakkan ponselnya sejenak. Namun, dia tidak akan pernah meninggalkan basket. Sampai kapan pun Kaisar akan terus bermain basket, tidak peduli apa nanti akibatnya jika dia membangkang perintah Bu Vera. Memang saat ini Kaisar masih sembunyi-sembunyi untuk bermain basket, tapi bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti dirinya akan ketahuan.


“Kai, ajarin gue matematika,” pinta Gisel yang tiba-tiba masuk ke kamar Kaisar.

__ADS_1


Ah ya, satu lagi. Bu Vera sangat menyanyangi dan percaya pada Gisel, tetangga mereka. Jadi apapun yang Gisel katakan, beliau pasti percaya. Bahkan Bu Vera percaya saja ketika Gisel mengklaim Kaisar sebagai pacarnya.


“Ayo, Kai. Besok di kumpulin nih,” rajuk Gisel masih memaksa Kaisar.


“Ckck, gue ajarin tapi nggak di sini.”


Gisel tersenyum senang, dia mengikuti langkah Kaisar yang sudah lebih dulu keluar dari kamar dengan beberapa buku di tangannya. Mereka memutuskan belajar di halaman belakang rumah cowok itu. Bu Vera yang melihat kedekatan dua anak itu pun tersenyum senang.


Sesekali Gisel memperhatikan Kaisar yang sibuk dengan pensil dan kertas, tangan cowok itu sibuk menari di atas kertas. Setelah selesai, Kaisar menggeser kertas yang sudah penuh dengan coret-coret itu.


“Lo baca sendiri, gue nggak pinter jelasin,” ucap Kaisar.


Gisel mendengus dan mengambil kertas itu, lalu dia pun mulai membaca tulisan milik Kaisar. Sementara Kaisar kembali sibuk dengan ponselnya.


“Tante! Si Kai main…”


GREP!


Spontan Kaisar membekap mulut ember Gisel. Matanya menatap tajam pada Gisel. Ini yang membuat cowok itu sebal dengan Gisel. Cewek itu selalu saja mengadu pada Bu Vera.


“Tutup mulut lo!” ucap Kaisar tajam.


“Bukan urusan lo. Lebih baik lo kerjain tugas itu,” kata Kaisar menunjuk kertas di tangan Gisel dengan dagunya.


Gisel merengut, tapi akhirnya menurut juga. Dia ingin tugasnya cepat selesai dan malam nanti cewek itu bisa sedikit bersantai.


...📱📱📱...


Sudah berjam-jam lamanya, Kaisar dan Gisel berkutat dengan soal-soal. Kegiatan belajar mereka sempat terhenti ketika Zoom di mulai. Gisel masih berada di rumah Kaisar, tapi cewek itu berpindah tempat untuk mengikuti Zoom.


Setelah Zoom itu berakhir, Gisel kembali menghampiri Kaisar yang sedang duduk santai dengan matanya fokus pada layar ponsel. Cowok itu sedang berkirim chat dengan Seina. Ternyata tadi kekasihnya sedang disuruh keluar membeli sesuatu, hal itulah yang membuat Seina tiba- tiba menghilang.


“Kai, besok temenin gue beli alat gambar,” ucap Gisel dengan pandangan memohon.


“Nggak bisa, besok gue sibuk.”


“Sibuk ngapain? Besok nggak ada kelas, tugas juga gue yakin udah lo kerjain dari jauh-jauh hari.”


“Lo nggak perlu tau. Udah sana lo balik,” usir Kaisar.

__ADS_1


Gisel menghembuskan napasnya, lalu gadis itu pun membereskan buku beserta alat tulisnya. Gisel menemui Bu Vera untuk berpamitan. Gadis itu tidak jauh beda dari Kaisar, nasib mereka hampir sama. Mereka sama-sama tidak boleh memilih apa yang ingin dilakukan.


Seperti halnya Kaisar yang tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan apapun di sekolah, Gisel juga tidak diperbolehkan menggambar. Ya, hobi gadis itu menggambar. Orang tuanya tidak suka jika Gisel menghabiskan waktu untuk menggambar, karena menurut beliau hanya akan membuang waktu.


Sebenarnya Kaisar juga merasa kasihan pada Gisel, tapi sifat gadis itu yang membuatnya kembali berpikir dua kali. Sifat manja dan semuanya harus sesuai keinginannya membuat Kaisar merasa tidak nyaman dekat dengan Gisel. Terdengar jahat memang, tapi faktanya Kaisar memang selalu menjaga jarak pada gadis itu.


Kaisar masuk ke dalam kamarnya dan membereskan meja belajarnya sebelum kembali fokus pada ponsel. Cowok itu sedang asyik memainkan game online. Namun hanya dia seorang yang bermain, entah kemana Seina pergi. Kekasihnya itu belum menghubunginya lagi sejak tadi siang.


“Ckck, kemana sih tuh anak?” gumam Kaisar.


Kaisar keluar dari aplikasi dan beralih pada aplikasi whatsapp, dia mengirim chat untuk Seina. Menanyakan kemana gadis itu pergi.


“Maaf, Kak. Tadi Sei, diomelin Mami,” balas Seina setelah beberapa menit.


Kaisar mengernyitan dahinya. Ada masalah apalagi hingga gadis itu kena omel orang tuanya. Kaisar memang sering mendengar Seina bercerita jika gadis itu yang paling sering dimarahi orang tuanya. Alasannya karena Seina yang paling bandel di antara kakak dan adiknya.


“Kok bisa kena omel?” tanya Kaisar.


“Tadi siang Geo hampir aja jatuh gelinding di tangga,” jawab Seina.


Kaisar membulatkan matanya, ternganga setelah membaca balasan dari kekasihnya itu. “Pantes aja Maminya ngomel,” gumam Kaisar.


“Pantes Mami kamu ngomel. Si Geo hampir celaka,” balas Kaisar.


“Kan, Sei nggak sengaja. Tadi soalnya sibuk main game bareng Kak Kai.”


Kaisar menggelengkan kepala membaca chat itu. Bisa-bisanya sekarang Seina membawa namanya sebagai alasan.


...📱📱📱...


Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar


Mantan Bad Guy

__ADS_1



__ADS_2