
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Suara tawa menghiasi rumah Seina pada sore hari ini. Di dalam rumah, Seina masih bertanya-tanya, kenapa bisa Aldo berada di sini? Apakah orang tua Aldo dan orang tua Seina saling mengenal? Hampir saja Seina berteriak ketika ada seseorang yang tiba-tiba saja mengagetkannya. Gara sudah berdiri di belakang Seina dengan tampang usilnya.
“Bang, Abang kenal sama mereka?” tanya Seina.
“Kenal dong. Tante Vina, temen SMA Mami dulu,” jawab Gara. “Lo juga kenal, tapi lupa mungkin,” tambah Gara dan berlalu pergi.
Seina kembali mengintip, matanya menyipit dan otaknya berusaha mengingat-ingat. Namun nihil, Seina benar-benar tidak ingat siapa itu Tante Vina. Dia pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan bermain game.
“Kak Kai nggak online, ya?” gumam Seina ketika tidak menemukan Kaisar di game online.
Akhirnya Seina pun larut dalam permainan itu. Sementara di luar sana suara tawa makin keras. Terdengar juga sayup-sayup suara Pak Anton yang sepertinya sudah pulang dari kantor.
“Sei, dipanggil Mami,” panggil Gara.
“Iya. Tamunya udah pulang?”
“Belum, masih ada. Kayaknya lo mau dijodohin sama anaknya Tante Vina,” ucap Gara dengan ekspresi wajah yang serius.
“Jangan ngadi-ngadi, Bang!”
Seina keluar dan spontan semua mata tertuju padanya, di belakang Seina juga ada Gara yang ternyata sejak tadi mengekorinya. Seina diminta duduk di samping Bu Lia yang sedang memangku Geo.
“Ini Seina? Sudah besar sekarang, ya? Dulu waktu terakhir ketemu pas masih seumuran Geo,” ucap Bu Vina.
‘Pantes gue lupa,’ batin Seina.
“Eh iya, kamu satu sekolah sama Aldo?” tanya Bu Vina
“Iya, Tan. Kita satu kelas,” jawab Seina.
“Wah, bagus dong. Tuh, Al. Kamu ada temen baru,” ucap Bu Vina pada Aldo yang hanya mengangguk. “Oh ya, Li. Anaknya Candra juga satu sekolah sama Seina katanya.”
“Iya, mereka juga temen satu kelas. Lo belum ke rumah dia?” jawab dan tanya Bu Lia.
“Belum, tadi udah mampir. Tapi rumahnya sepi, pada pergi mungkin.”
Obrolan para orang tua itu kembali berlanjut, tapi Seina hanya mendengarkan saja. Sesekali Seina memperhatikan Aldo yang sejak tadi juga menjadi pendengar. Sepertinya memang Aldo anak yang pendiam.
Ternyata Bu Vina ini dulunya tinggal di luar kota dan karena suaminya dipindahtugaskan ke kota ini, jadi keluarga mereka pindah kemari. Kebetulan juga rumah Bu Vina berada di blok depan rumah Seina. Dan dari cerita Bu Vina yang tadi Seina dengarkan, Aldo memiliki kakak laki-laki kembar yang seusia dengan Gara.
__ADS_1
Namun kedua kakak Aldo itu tidak ikut pindah, mereka masih bertahan di kota asal untuk kuliah. Seina memperhatikan ekspresi Maminya yang terlihat sangat antusias ketika mengobrol dengan Bu Vina, begitu juga dengan Papinya. Sepertinya sang Mami senang karena squad ghibahnya bertambah satu.
...📱📱📱...
Keeseokkan harinya, Seina segera menghampiri Aurel begitu gadis itu memasuki kelas bersama dengan Shila. Di dalam kelas sudah banyak beberapa anak termasuk Aldo yang entah datang pukul berapa tadi.
“Rel, kemarin sore lo kemana?” tanya Seina.
“Kemarin sore? Oh gue ketemu Langit, balikin baju dia. Kenapa?”
“Rumah lo sepi katanya, kemarin ada tamu mau dateng ke rumah lo,” ucap Seina melirik pada Aldo yang ternyata juga sedang memperhatikannya.
“Siapa? Kok lo tau?”
“Aldo sama orang tuanya.”
Kini tatapan tiga cewek itu beralih pada Aldo, sedangkan cowok itu gelagapan karena tiba-tiba ditatap seperti itu.
“Kenapa lo mau ke rumah gue?” tanya Aurel mengernyitkan dahinya.
“Gue nggak tau, tapi Nyokap gue temen Nyokap lo dulu,” jawab Aldo.
“Temennya Bunda?” gumam Aurel.
“Terus kemarin nggak ada orang di rumah?” tanya Aurel. Aldo hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Oh iya, adek lo sebentar lagi mau lahir. Kabarin kalo udah lahir, ya?” ucap Shila antusias.
Aldo mengernyitkan dahinya mendengar percakapan teman-teman barunya itu. Namun, tidak lama mereka bubar karena ada seorang guru masuk untuk memulai pembelajaran.
Bel istirahat berbunyi dan seperti biasa, tiga sahabat sehidup semati itu berkumpul untuk menikmati bekalnya. Seina melihat Aldo juga mengeluarkan sebuah kotak bekal, cowok itu terlihat ragu-ragu.
“Lo bawa bekal juga? Sini makan bareng,” ajak Seina.
“Iya, nggak apa-apa. Kumpul bareng kita aja,” tambah Shila.
Aldo pun mendekat dengan membawa kursinya, sebelumnya dia ragu untuk berkumpul bersama tiga cewek itu. Namun, rasa ragunya perlahan hilang.
“Nyokap lo yang masak?” tanya Aurel yang tangannya sudah jelalatan berkeliling mencicipi bekal milik teman-temannya.
“Iya,” jawab Aldo singkat.
“Gue boleh minta? Tenang sendok gue bersih, kok,” tanya Aurel.
__ADS_1
“Boleh,” jawab Aldo menggeser kotak makannya.
“Si Aurel emang gitu. Dia doyan makan, pemakan segala dia,” ujar Shila.
“Tapi heran gue, doyan makan tuh badan masih segitu aja,” kata Seina.
Aldo hanya tersenyum samar, sedangkan Aurel cemberut mendengar ucapan dua sahabatnya itu.
Pembelajaran berikutnya dimulai setelah bel masuk kembali berbunyi. Seorang guru wanita dengan hijab menjuntai menutup auratnya memasuki ruang kelas. Aurel dan seorang anak cowok di kelasnya izin keluar dari kelas.
“Bye, gue mau ngadem di perpus,” pamit Aurel pada dua sahabatnya.
Seina hanya mencibir di balik maskernya melihat kepergian Aurel dan teman cowoknya. Pembelajaran pun dimulai dengan membaca doa sebelum belajar dan surah Al- Fatihah.
“Baik, untuk pelajaran agama islam hari ini Ibu akan menjelaskan tentang bab turunnya Al- Qur’an…”
Sementara itu Aurel sudah berada di perpustakaan seorang diri, tadi teman cowoknya bernama Chen. Chen merupakan anak beragama Khonghucu, cowok tadi lebih memilih pergi ke kantin. Aurel pun memilih tempat yang dirasa nyaman untuk tidur.
Setelah menemukan tempat yang berada di pojok persis di bawah pendingin udara, Aurel segera memposisikan tubuhnya untuk tidur. Namun baru saja hendak memejamkan matanya, ponsel di kantong rok Aurel bergetar. Cewek itu mendengus kesal karena merasa terganggu.
“Ckck, siapa sih?” gumam Aurel melihat siapa yang telah mengganggunya. “Langit? Ngapain lagi dia telpon gue?”
“Halo?” sapa Aurel.
“Kenapa lagi? Urusan gue udah selesai, baju lo udah gue cuci bersih pake pewangi juga. Udah gue setrika sampai licin, selicin jidat Pak Botak,” cerocos Aurel.
“Hmm, iya ding lo nggak kenal. Kenapa? Mau ngomong apa lo?”
“Kenapa lo mau traktir gue? Dalam rangka apa?”
“Oh gitu. Boleh, di mana? Nggak perlu, gue bisa pergi sendiri. Oke, bye.”
Aurel bersorak gembira karena besok akan makan gratis. Langit hendak mentraktirnya besok. Lalu setelahnya Aurel sudah jatuh tertidur di perpustakaan ini.
...📱📱📱...
Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
__ADS_1
Mantan Bad Guy