
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Hari ini hari Minggu dan keluarga Pak Anton tidak ada kegiatan. Setelah shalat subuh tadi, Bu Lia mengajak semua anggota keluarganya untuk berolahraga di halaman depan rumah. Dengan ogah-ogahan Seina dan Gara mengikuti kemauan sang Mami. Bu Lia yang memimpin gerakan senam pagi ini, diiringi musik yang sering menjadi sound di aplikasi toktok.
“Ayo! Kalian yang semangat! Lihat nih, Geo aja semangat,” ucap Pak Anton yang menggendong Geo.
Seina dan Gara menatap malas pada Geo yang terlihat sangat bahagia. Namun, dalam hati Seina mencibir.
‘Tuh Geo kalo udah gede bakal malu sama masa kecilnya,’ batin Seina.
“Satu… dua…. tiga… empat… lima… enam… tujuh… delapan… lagi ke kiri!” ucap Bu Lia yang masih sangat semangat.
Bu Lia memang sering menjadi instruktur senam di kantor tempatnya bekerja. Bahkan dulu ketika Seina masih kecil sering diajak Maminya ke kantor tiap hari Jumat, tentu saja untuk senam bersama.
“Mam, udah. Capek,” keluh Gara mengelap peluhnya, padahal cowok itu tidak banyak gerak.
“Bang, kamu laki masa cepet capek sih?” ledek Pak Anton.
Sebenarnya Seina juga ingin mengeluh, tapi ditahannya. Dia tidak mau mendengarkan Maminya mengomel. Ternyata malah Gara dengan suka rela mewakilinya.
“Ya udah senamnya selesai. Sekarang Abang sama Papi cabutin rumput. Mami sama Kakak masak buat sarapan. Kebetulan tuh Mang Eko lewat.”
Pak Anton hendak mengeluarkan protesnya, tapi urung begitu melihat wajah galak istrinya. Bu Lia segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil masker dan dompet. Sementara Seina duduk selonjoran di teras rumah. Dia mengeluarkan ponselnya dan selfie, lalu foto itu Seina kirim pada Kaisar.
“Hmm, kayaknya belum bangun,” gumam Seina.
“Ayo, Kak. Temani Mami belanja,” ajak Bu Lia pada Seina memberikan masker untuknya.
“Hari ini mau masak apa, Mam?’ tanya Pak Anton.
“Coba nanti lihat dulu sayur di Mang Eko,” jawab Bu Lia dan berlalu dari sana.
Ibu dan anak itu pun berjalan menuju gerobak sayur Mang Eko yang sudah ramai dikerubungi ibu-ibu komplek. Sesampainya di sana Bu Lia langsung memilih sayuran bersama dengan ibu-ibu yang lain. Tidak lama kemudian ada sebuah sepeda motor berhenti tidak jauh dari gerobak Mang Eko.
“Lah, Rel? Ngapain?” tanya Seina melihat Aurel turun dari motor.
“Disuruh Bunda belanja. Tadi Mang Eko bablas pas lewat komplek gue,” jawab Aurel dan menatap tajam pada Mang Eko.
“Tuh, Aurel aja mau disuruh belanja sendiri,” ucap Bu Lia yang mendengar perkataan Aurel.
__ADS_1
“Rel, cepet lo belanja terus pulang,” ujar Seina malas.
Setelah berbelanja, Seina diminta Bu Lia untuk mencuci sayuran yang nanti akan dimasak. Sementara Bu Lia hendak memandikan Geo terlebih dulu. Seina hanya bisa menurut, dia tidak mau Maminya itu mengomel pagi-pagi begini. Sementara Gara dan Pak Anton sedang mencabut rumput liar di depan.
“Udah dicuci, Kak?” tanya Bu Lia dengan menggendong Geo yang telanjang.
“Udah, habis ini digimanain?”
“Di potong-potong, tadi Papi minta dimasakin capcay. Kamu kupas sayurannya terus di potong, nanti Mami yang buat bumbunya.”
Seina hanya mengangguk dan segera melaksanakan perintah Bu Lia. Sejak kecil memang Seina sudah dibiasakan untuk membantu memasak sang Mami. Bahkan dulu pertama dia memegang pisau, Seina sering mengiris jarinya. Namun, walau begitu dirinya tidak pernah merasa kapok.
“Nggak apa-apa. Nanti sembuh setelah Mami kasih obat. Lihat nih, masakan Sei bagus, kan? Rasanya juga enak, kapan-kapan masak bareng Mami lagi, ya?” ucap Bu Lia ketika itu.
Setelahnya Seina menjadi lebih berhati-hati saat memegang pisau dan menjadi rajin memasak. Bahkan terkadang dia mencoba resep-resep di internet.
Beberapa menit kemudian, Seina sudah selesai memotong sayur. Kini tugasnya sudah selesai dan Seina diminta untuk menjaga Geo. Dia pun segera mengambil alih Geo dan membawanya ke depan untuk melihat Abang dan Papinya.
“Geo, sini sama Abang, yuk,” ucap Gara begitu melihat kedatangan Seina dan Geo, cowok itu mengulurkan tangannya hendak merayu adiknya.
“Nggak boleh, tangan Bang Gara kotor. Geo udah wangi nanti ternodai tangan kotor Bang Gara,” ucap Seina menjauhkan Geo dari jangkauan Gara.
“Abang! Cepet ini dibuang ke sampah depan!” perintah Pak Anton, wajah pria itu sudah cemong-cemong akibat tanah.
“Heh!”
“Canda, Pap. Papi tetep ganteng, tapi lebih ganteng Kak Kai,” kata Seina menjulurkan lidah meledek.
“Oh iya, pacar kamu itu kok nggak pernah main ke sini lagi?” tanya Pak Anton mengernyitkan dahi. “Takut tersaingi ketampanannya, ya?”
“Pede banget Papi, ih.” Seina merinding mendengar Papinya yang sangat percaya diri itu.
Seina pun memutuskan kembali masuk ke dalam, lama-lama capek juga menggendong Geo yang makin berat. Seina pun membiarkan Geo merangkak di lantai beralaskan karpet di ruang keluarga. Sementara Seina sibuk menonton story whatsapp.
“Hah? Cewek ini lagi, sebenernya dia siapa sih? Pagi-pagi udah di rumah Kak Kai,” gumam Seina menonton story WA milik Kaisar. Sepertinya ponsel cowok itu sedang dibajak oleh Gisel dan cewek itu membuat story menggunakan fotonya.
“Apa jangan-jangan bener kalo Kak Gisel pacar Kak Kai? Dia bohongi gue?” gumam Seina masih menatap sedih layar ponselnya.
Lalu foto berikutnya membuat Seina makin kecewa dan sedih, layar ponselnya menampilkan wajah Kaisar yang sedang tidur. Ternyata memang benar, pagi tadi cowok itu belum bangun.
“Mana chat gue cuma dibaca, pasti kerjaan cewek itu.”
__ADS_1
Seina mendengus membaca caption di foto wajah Kaisar. Di sana tertulis ‘Hampir tiap hari liat wajah molornya Kaisar’. Tentu Seina tidak bodoh, Gisel dengan blak-blakan menyindirnya.
“Males gue liat story Kak Kai,” ucap Seina dengan wajah kesal. “Hmm? Tumben Aurel buat story pagi-pagi.”
Seina membuka story milik Aurel. Spontan mata Seina membulat melihat story milik sahabatnya itu. Seina kembali membaca tulisan story itu.
“Mami! Bundanya Aurel lahiran!” teriak Seina.
Terdengar langkah tergopoh-gopoh mendekat ke arah Seina. Ternyata Bu Lia datang dengan membawa sendok di tangan.
“Kenapa, Kak?” tanya Bu Lia.
“Bundanya Aurel di rumah sakit, mau melahirkan,” jawab Seina.
“Eh? Beneran? Kok kamu tau?”
“Ini si Aurel buat story WA barusan.”
“Oke, kita jenguk kalo udah pulang ke rumah aja.”
Seina hanya mengangguk, dia lalu melihat Geo yang mulai merangkak jauh. Seina menarik kaki Geo pelan untuk menghentikan bocah itu.
“Jangan jauh-jauh, nanti kepentok meja,” ucap Seina.
TING!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Seina, dia pun segera membuka chat itu. Dengusan keluar dari hidung Seina.
“Maaf, Yang. Tadi aku belum bangun, kayaknya HPku nggak sengaja ke sentuh. Jadi chat kamu ke- read.” Begitu isi chat dari Kaisar.
...📱📱📱...
Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
Mantan Bad Guy
__ADS_1