
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Hari yang telah ditunggu tiba. Suasana GOR pada hari ini terlihat cukup ramai dengan beberapa orang mengantre untuk masuk. Termasuk Seina, Shila, dan Aurel. Mereka bertiga sedang menunggu antrean pengecekkan tiket untuk menonton pertandingan basket antar sekolah ini. Pengunjung yang datang dibatasi, juga nantinya bangku penonton akan di beri jarak. Semua itu dilakukan karena masih dalam masa pandemi. Aurel menurunkan maskernya untuk menyedot bobanya yang tadi dia beli sebelum berangkat menuju GOR.
“Silahkan masuk, sebelumnya cuci tangan dan cek suhu tubuh dulu,” ucap petugas yang berjaga di pintu masuk.
Seina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru GOR, baru pertama ini dirinya menonton pertandingan olahraga secara live di depan mata. Walau hanya ada beberapa orang saja, suara riuh tetap menggema di dalam sini.
“Pacar lo dari SMA Garuda?” tanya Aurel.
“Iya, main lawan mana nanti?” jawab dan tanya Seina.
“Lawan sekolah kita,” jawab Aurel mengunyah jajanan yang dibawanya dari rumah.
“Hah? Serius lo?” kaget Seina.
“Serius, gue di kasih tau sama Tian semalem.”
Septian atau yang sering di panggil Tian merupakan kapten basket dari sekolah Seina. Tian juga merupakan teman dekat dan tetangga Aurel. Wajar jika Aurel tahu semua pemain serta jadwal pertandingan basket hari ini.
“Bingung, kan, lo? Mau dukung siapa,” ledek Aurel.
Pertandingan di mulai. Pertandingan pertama dari sekolah lain, suasana belum terlalu riuh. Seina tidak terlalu memperhatikan pertandingan itu, berbeda dengan Aurel yang sangat antusias menonton dengan mulut yang aktif berkomentar atau terkadang mengunyah jajanannya. Seina menoleh pada Shila yang merupakan tipe anak yang tidak menyukai olahraga. Sejak tadi sahabatnya itu hanya diam saja menyimak obrolan Seina dan Aurel. Shila terpaksa ikut karena terseret oleh Aurel.
“Shil, lo nggak apa- apa?” tanya Seina.
“Gue nggak papa. Tapi gue nggak paham, kita bela yang kaosnya warna apa?”
Seina meringis mendengar pertanyaan dari Shila. Aurel menoleh pada kedua sahabatnya dengan wajah serius.
“Untuk sekarang, dukung aja tim yang skornya lebih banyak,” ucap Aurel yang terlihat menyesatkan.
“Oh gitu,” gumam Shila manggut- manggut.
Pertandingan pertama sudah selesai, kini pertandingan yang ditunggu- tunggu oleh Seina beserta teman- teman sekolahnya yang lain. Jantung Seina berdebar, sebentar lagi dia akan tahu wajah Kaisar. Para pemain memasuki lapangan dan bersiap pada posisi masing- masing. Seina masih mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Kaisar. Menurut informasi dari sang kekasih, Kaisar merupakan tim inti basket. Jadi hari ini pasti cowok itu akan turun ke lapangan.
“Pacar lo yang mana, Sei? Eh? Betewe, sekolah kita yang pakai kaos warna apa?” tanya Shila dengan wajah kebingungan.
“Sekolah kita kaos biru, tim lawan kaos oren.” Aurel yang menjawab pertanyaan Shila dengan wajah gemas.
__ADS_1
“Gue, kan, nggak tau,” gumam Shila mengerucutkan bibirnya di balik masker yang dipakai.
“Mulai, udah mulai!” pekik Aurel bersemangat.
Pertandingan di mulai dan mata Seina semakin awas menyisir seluruh lapangan. Seina menelan ludah melihat sosok di tengah lapangan yang sedang bersiap menembak bola ke dalam ring. Dia menemukannya, Seina menemukan Kaisar di lapangan. Kaisar benar- benar di luar ekspetasi Seina. Sangat jauh dari bayangan Seina selama ini.
“Mampus gue,” gumam Seina lirih.
“Sei, gue mau ke kamar mandi,” ucap Shila.
“Mau gue anter?” tanya Seina.
“Nggak perlu, gue bisa sendiri. Nanti kita ketemu di café depan GOR aja, ya?”
“Lho?”
Belum sempat Seina menyelesaikan perkataannya, Shila sudah tergesa pergi dari sana. Namun spontan Seina berdiri melihat Shila menabrak seseorang di depan pintu GOR.
“Shila mau kemana?” tanya Aurel yang baru menyadari salah satu sahabatnya hilang.
“Mau ke kamar mandi,” jawab Seina masih menatap pada Shila. Namun suara riuh tepuk tangan dan sorak sorai mengalihkan pandangan Seina dari Shila.
...📱📱📱...
“Selamat buat kalian!” pekik Aurel heboh.
Seina berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan Aurel yang masih asyik mengobrol dengan Tian. Seina juga tidak mengenal tim basket SMA- nya, jadi dia memutuskan untuk mundur beberapa langkah.
“Sei?” panggil seseorang dengan tepukan pelan di bahu Seina.
Seina yang terkejut menoleh ke belakang, matanya membulat sempurna melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Beruntung Seina memakai masker saat ini, jadi sosok didepannya ini tidak akan tahu jika gadis itu membuka mulutnya ternganga.
“Aku Kaisar,” ucap sosok itu menurunkan maskernya, berharap Seina bisa mengenalinya.
“Kak Kai?” tanya Seina, mendadak dirinya menjadi ciut berdiri dihadapan Kaisar.
“Iya, akhirnya kita ketemu. Kamu lebih cantik aslinya daripada di foto,” ungkap Kaisar blak- blakkan tanpa memikirkan keadaan Seina. “Hei? Yang?” panggil Kaisar mengernyitkan dahi melihat sang kekasih bengong.
“Ah iya? Maaf, aku kaget,” jawab Seina menundukkan kepalanya.
“Kamu kecewa, ya? Karena aku nggak sesuai ekspetasi kamu,” kata Kaisar dengan wajah sedih.
__ADS_1
Seina mendongak menatap wajah Kaisar. ‘Iya lo bener- bener di luar ekspetasi gue. Mami! Ternyata pacar Sei ganteng banget. Pantes mukanya disembunyiin,’ batin Sei menjerit histeris.
Seina dan Kaisar masih merasa canggung satu sama lain. Berkali- kali Kaisar kedapatan mengusap tengkuknya. Seina tidak tahu harus bicara apalagi, dia merutuk pada diri sendiri yang tidak bisa bersikap biasa seperti biasanya mereka mengobrol via chat.
“Selamat, ya? Sekolah kamu menang, bisa masuk final,” ucap Kaisar memecah keheningan di antara keduanya.
“Makasih, Kak,” jawab Seina seadanya.
“Oh ya, kok Kak Kai bisa ngenalin aku? Padahal aku pake masker.”
“Aku pernah lihat kamu pakai masker. Lagian tadi di tengah pertandingan aku lihat kamu yang tiba- tiba berdiri dari bangku penonton,” jelas Kaisar dengan senyum bangga.
“Oh gitu. Tadi Kak Kai keren mainnya,” puji Seina.
“Kai! Di cari Pak Zain,” panggil salah seorang teman Kaisar membuat dua orang itu menoleh bersamaan.
“Sei, aku ke sana dulu, ya? Kamu mau pulang bareng?”
Hampir saja Seina mengangguk, tapi tiba- tiba saja dia teringat dengan para sahabatnya yang sedang menunggu.
“Nggak, Kak. Aku pulang bareng Aurel sama Shila.”
“Oh, oke. Hati- hati di jalan, ya? Nanti aku telpon kamu. Aku pergi dulu,” pamit Kaisar, sebelum pergi meninggalkan Seina. Kaisar menyempatkan untuk menepuk puncak kepala Seina.
‘Mami! Sei, mleyot,’ batin Seina histeris.
...📱📱📱...
Nih Othor baek bagi visual Kaisar 😗😗😗
Setelah baca jangan lupa komennya ya Cangtip dan Tamvan 😗😗😗
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
Mantan Bad Guy
__ADS_1