
Sebelum baca like dulu yuk 😗😗😗 Happy reading guys 🤗🤗
...📱📱📱...
Pagi ini Seina terlambat bangun dan akhirnya terlambat masuk. Belum lagi tadi Seina bersusah payah untuk membujuk Gara agar mau mengantarnya. Beruntung Gara mau mengantarnya, tapi tentu dengan imbalan yang tidak murah. Walau begitu, tetap saja Seina terlambat dan berakhir di hukum untuk menyapu halaman belakang bersama dengan anak-anak lain yang terlambat.
“Lah? Tumben lo telat?” tanya Aurel berjalan menghampiri Seina dengan membawa sapu lidi.
“Lo juga telat?”
“Gara-gara dia tuh. Pake acara mau nebeng segala, mana di tengah jalan ban motor gue bocor,” jawab Aurel menunjuk Septian dengan sapu lidinya.
“Ya, maaf anaknya Mas Anang. Motor gue masuk bengkel, tadi juga udah mepet banget jamnya. Nggak ada temen gue yang rumahnya deket,” ucap Septian dengan raut wajah yang memelas.
“Hilih, alesan,” cibir Aurel.
“Heh udah kerja lagi. Pak Tarno otw tuh,” ucap Seina melerai pertengkaran keduanya.
“Setelah selesai, kalian ke ruang BK. Minta surat keterangan terlambat. Ckck, kalian ini mau jadi apa?” tanya Pak Tarno di akhir sesi nasehatnya.
“Bosen dengernya,” celetuk Aurel lirih.
Setelah melaksanakan hukuman, Aurel dan Seina pun menuju kelas mereka. Tentu pembelajaran sudah dimulai sejak dua jam yang lalu. Mereka berdua saling dorong untuk menentukan siapa yang masuk ke dalam terlebih dulu.
“Lo dulu, Rel. Gue takut.”
“Lo dulu, Sei. Gue nggak mau kena kuahnya Pak Kumis.”
“Dih, gue juga nggak mau. Kuah dia bau banget.”
“Hmm, maaf. Apa benar ini kelas 11 IPA 3?” tanya seseorang menginterupsi.
Serempak Seina dan Aurel menoleh. Mereka berdua melotot melihat seorang cowok dengan seragam putih abu berdiri menjulang di depan mereka. Wajahnya tampan, tapi belum bisa dipastikan jika cowok itu membuka maskernya nanti.
“Astagfirullah, udah punya Kak Kai gue,” gumam Seina.
“Iya, lo murid baru?” jawab dan tanya Aurel. Anak itu hanya mengangguk. “Iya ini kelas 11 IPA 3. Lo masuk dulu sana biasanya nanti kenalan dulu.”
Anak cowok itu hanya menurut, dia pun mengetuk pintu. Lalu masuk setelah dipersilakan oleh Pak Kumis. Sementara Aurel dan Seina mengekor dari belakang.
Pak Kumis memperhatikan tiga anak yang baru masuk. Shila dari bangkunya membulatkan mata melihat dua sahabatnya berdiri di depan sana. Sepertinya sebentar lagi sahabatnya itu akan kecipratan air suci milik Pak Kumis.
“Kalian berdua terlambat?” tanya Pak Kumis.
“Maaf, Pak. Tadi kami di suruh antar anak baru ini dulu sebelum masuk kelas. Tapi ternyata anak baru ini mau mampir ke kantin karena belum sarapan. Ya udah dari pada nanti pingsan jadi kita antar dulu,” jelas Aurel dusta.
Seina dan anak baru itu kompak menatap Aurel. Tentu si anak baru itu tidak terima telah di fitnah oleh mulut Aurel. Baru saja hendak melontarkan kebenaran yang terjadi, Pak Kumis sudah lebih dulu membuka mulutnya.
__ADS_1
“Ya sudah kalian berdua duduk sekarang. Dan kamu di sini dulu,” ucap Pak Kumis menunjuk anak baru itu.
Aurel bersorak pelan dan segera duduk di kursinya dengan diikuti Seina dari belakang. Sementara si anak baru diminta untuk memperkenalkan dirinya terlebih dulu.
“Perkenalkan nama saya Aldo Anggoro Jatmiko. Saya pindahan dari SMA Yayasan Mandala Buana Surabaya. Salam kenal,” ucap Aldo memperkenal dirinya.
“Oke, sekarang kamu bisa duduk di kursi kosong di belakang Shila.”
Aldo hanya mengangguk dan berjalan mendekati kursi yang di maksud. Pembelajaran yang sempat tertunda tadi pun kembali dilanjutkan.
Bel istirahat terasa sangat menenangkan bagi telinga anak-anak IPA 3 ini. Setelah guru keluar, Shila menyeret kursinya mendekat pada meja Aurel, begitu juga dengan Seina membalik kursinya hingga menghadap Aurel. Mereka bertiga hendak melakukan ritual makan bersama. Orang tua ketiganya kompak selalu membawakan bekal untuk anak-anaknya.
“Doa dulu kalean,” peringat Aurel.
“Iya-iya,” jawab Shila dan Seina kompak.
Aurel menangkupkan tangannya sedangkan Shila dan Seina menengadahkan tangannya. Semua tingkah tiga cewek itu tidak luput dari pengamatan Aldo yang masih berdiam diri di kursinya.
“Anaknya Mas Anang!” panggil Septian dari pintu kelas. Hampir saja Aurel tersedak mendengar suara itu.
“Anak dugong dateng, pasti mau minta makan,” gerutu Aurel melihat tajam pada Septian.
“Eh? Ada anak baru, ya?” tanya Septian melihat pada Aldo. Spontan tiga cewek itu juga menatap pada cowok yang masih diam di kursinya.
“Eh iya, ini udah istirahat. Lo nggak ke kantin? Atau lagi puasa?” tanya Shila.
“Nah, pas. Minta dianterin Septi nih. Dia sesepuh di sekolah ini,” kata Aurel menunjuk Septian dengan garpu ditangannya.
Septian mendengus, tapi akhirnya menurut juga. Dua cowok itu pun keluar dari kelas untuk ke kantin. Sementara tiga cewek itu melanjutkan aktivitasnya. Seina makan sembari mabar bersama dengan Kaisar yang ternyata juga sedang online.
“Kalian mabar apa pacaran sih? Dari tadi nempel mulu,” ucap Jack dari seberang sana.
“Suka- suka gue dong. Iri bilang bos,” ledek Seina.
“Kumat dia,” celetuk Aurel. Shila hanya menganggukkan kepalanya.
“Heh? Kok lo nembak gue? Ngajak war, ya?” bentak Seina, tapi setelahnya dia terbatuk karena tersedak.
“Nah lho, mampus keselek,” ucap Shila.
“Bagi minum sebelum mati,” tambah Aurel.
PLAK!
“Ngadi-ngadi lo!” kata Seina menggeplak tangan Aurel.
Seina segera meraih botol minumnya dan segera meneguk isi botol itu. Cewek itu bernapas lega setelah tenggorokannya kembali plong.
__ADS_1
“Makanya makan jangan sambil ngomong.”
“Malaikat jadi kecewa, kan,” ucap Shila.
Beberapa saat kemudian Septian dan Aldo kembali ke kelas. Dua cowok itu terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Sementara Seina, Shila, dan Aurel sudah selesai memakan bekal mereka.
“Heh, Septi! Terus nanti gue baliknya gimana?”
“Ya ambil motor lo dululah di bengkel.”
“Jauh?”
“Nggak gitu jauh kok.”
Aurel hanya menganggukkan kepalanya. Sementara itu Seina kembali berkutat dengan ponselnya. Sepulang sekolah nanti Kaisar akan menjemputnya.
“Lo di jemput Kak Kai nanti?” tanya Shila.
“Iya,” jawab Seina cengengesan.
“Lo pacar si Kaisar, ya?” tanya Septian pada Seina.
“Iya, Kak. Lo kenal?”
“Kenallah, hampir semua anak basket yang pernah tanding lawan sekolah kita gue kenal,” jawab Septian sombong. Sementara itu Aurel hanya mencibir.
...📱📱📱...
Sore hari ini Seina sedang bersantai bersama dengan Geo di ruang tamu, dia sedang menemani bocah itu bermain dengan mainannya. Namun bel rumah berbunyi membuat Seina bangkit dari duduknya untuk memukakan pintu depan, melihat siapa yang sore ini bertamu.
“Assalamualaikum, Lia ada?” tanya tamu itu. Tamu itu wanita dan dua orang laki-laki.
“Waalaikumsalam, ada. Silah… Lho?” kaget Seina membulatkan matanya melihat salah satu di antara mereka yang dikenalnya.
...📱📱📱...
Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...
Dukung juga novel Emak Bapak mereka:
Mantan Rasa Pacar
Mantan Bad Guy
__ADS_1