Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Keindahan bunga desa


__ADS_3

Kedatangan Bagas ke desa itu memberikan manfaat untuk mengimbangi kecurangan yang di lakukan Adhiguna untuk membantu Ferro merebut perkebunan kopi milik warga dengan harga murah.


Bagas mulai mendirikan koperasi unit desa, di kelola oleh beberapa pemuda yang bisa di andalakn dan di percaya oleh Bagas berdasarkan petunjuk Birawa.


Selain koperasi unit desa, Bagas mulai berencana membangun bangunan untuk membantu warga yang memiiki kopi atau bukan, memudahkan mereka dalam segi penjualan dan cara pengolahan.


Proses sederhana namun memudahkan mereka dan irit biaya. Membuat warga mulai mengalihkan perhatian, yang awalnya tertuju pada ponsel. Ada banyak warga yang membantu membangun pengolahan kopi.


Adhiguna dan kawan kawannya mulai resah dengan adanya koperasi unit desa dan rencana pembangunan pengolahan kopi, yang akan menguntungkan warga dua kali lipat.


"Siaaaalll!" rutuk Adhiguna. "Berkali kali aku gagal, dan semua usahaku gagal!!"


"Pak, sebaiknya akhiri saja dendam bapak!" celetuk Rendi, putra bungsu Adhiguna.


"Anak tidak berguna!" umpat Adhiguna.


"Tapi, pak?"


"Diam kau bodoh! bukannya bantu kakakmu, Vino. Kau malah menceramahi!" berkali kali Adhiguna mengumpat, membuat Rendi kesal lalu meninggalkan ruangan karena merasa tidak di hargai bapaknya.


"Haruskah aku lenyapkan si Bagas?" ucap Adhiguna.


Ferro bereaksi ketika Adhiguna punya niat membunuh, ia protes kepada Adhiguna.


"Aku tidak setuju!" protes Ferro.


"Kenapa tidak?" tanya Adhiguna, menatap tajam wajah Ferro.


"No!" sahut Ferro.


"Kau punya ide?" tanya Vino kepada Ferro.


Ferro terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah Vino.


"Kenapa kita tidak mencoba cara pendekatan?" usul Ferro.


"Maksudmu?" tanya Vino lagi.


"Warga memiliki keyakinan dan adat istiadat yang kuat. Mengapa kita harus berbenturan? kita bisa mendekati warga dengan cara yang halus." Ungkap Ferro.


Vino terdiam cukup lama, mencerna semua ucapan Ferro. Detik berikutnya ia mengangguk setuju. Namun tidak bagi Adhiguna, ia tidak setuju. Adhiguna merasa harga dirinya hilang di mata masyarakat kalau sampai ikut bergabung dengan mereka.


"Oke, kita coba!" Vino menyetujui usulan Ferro.


"Terserah kalian!" Adhiguna beranjak pergi dari ruangan.


***


Warga mulai berbondong bondong membantu pengerjaan pembangunan pengolahan kopi. Komeng, Udin dan Birawa ikut membantu warga yang lain. Ciri khas warga pasir reungit terlihat sangat kompak, bahu membahu membantu Bagas untuk memajukan desa tersebut. Selama Birawa masih hidup, musyawarah, toleransi dan saling asah asih dan asuh masih mereka pegang teguh.

__ADS_1


Kali ini, Cempaka dapat jatah untuk mengantarkan makanan dan teh yang akan di berikan kepada warga yang ikut membantu.


Dari kejauhan Bagas melihat Cempaka membawa barang bawaan yang banyak bersama Lilis. Bagas bergegas menghampiri bersama Komeng untuk membantu.


"Cempaka, biar ku bantu." Tawar Bagas memegang bakul yang ada di punggung Cempaka.


"Boleh!" sahut Cempaka, lalu melepas ikatan kainnya.


Bagas mengambil bakul lalu membawanya ke tempat warga yang tengah berkumpul istirahat, di ikuti Komeng membawakan rantang dan teko berukuran besar.


"Cempaka!" Bagas melambaikan tangannya, lalu menepuk rumput di sampingnya. "Duduk di sini!"


Cempaka dan Lilis berjalan mendekati Bagas dan Komeng juga Udin, duduk bersama mereka.


"Sudah hampir selesai ya!" seru Cempaka memperhatikan bangunan yang sudah berdiri kokoh.


"Untung saja musim kemarau, jadi cepat kering." Timpal Bagas, tersenyum memperhatikan wajah Cempaka.


"Kang, di makan rebus singkongnya!" seru Lilis kepada Bagas.


"Ari kamu mah, yang ganteng we di tawarin. Aku nggak." Celoteh Udin.


"Sok atuh kang Udin, kang Komeng yang ganteng sadesa." Timpal Lilis di akhiri tertawa kecil.


"Puk!" Komeng memukul pundak Udin.


"Naon!" Udin menoleh ke arah Komeng.


"Naon(apa) goodloking teh, saya nggak ngerti!" rutuk Udin, menggaruk kepalanya.


"Nggak apa apa atuh akang, nggak goodloking ge, dari pada goodloking tapi nggak punya adab!" timpal Cempaka.


"Nah bener tuh!" Lilis menimpali.


"Saya teh nggak ngerti, naon goodloking teh!" Udin penasaran.


"Goodloking teh, kang Udin manis!" seru Lilis, di akhiri tertawa renyah di ikuti Cempaka.


"Haturnuhun atuh Lilis." Udin tersipu malu.


Bagas hanya tersenyum memperhatikan sementara Birawa dan bah Asep punya rencana lain melihat keakraban Cempaka dan Bagas.


"Asep, gimana kalau kita besanan?" tanya abah Birawa, menatap ke arah Bagas dan Cempaka.


"Maksud Abah?" tanya Bah Asep belum paham.


"Kita jodohkan Bagas sama Cempaka, gimana? kamu setuju nggak?" jelas Abah Birawa.


"Aduh abah, hatur nuhun pisan. Ngiring bingah (ikut bahagia), saya satuju we abah!" Bah Asep girang bukan main kalau Cempaka memiliki suami seperti Bagas.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan lebih serius lagi." Kata Birawa, lalu mengajak bah Asep bergabung dengan warga.


Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah menepi tak jauh dari tempat warga berkumpul. Nampak Vino dan Ferro menghampiri Cempaka dan yang lain.


"Boleh ikut gabung?" tanya Vino sopan.


"Silahkan kang!" seru Lilis mempersilahkan Ferro dan Vino untuk duduk bersama mereka.


"Anjirr, goodloking semua. Kita mah pantat panci." Bisik Komeng di telinga Udin.


Udin mengulum senyum, spontan mengusap wajahnya sendiri.


"Vin, tumben datang ke sini?" tanya Bagas, menoleh ke arah Vino dan Ferro.


"Ah iya, aku boleh ikut gabung dengan kalian membangun desa ini?" tanya Vino.


"Tentu saja boleh!" sahut Bagas. "Tapi, kamu harus izin dulu sama warga."


Vino menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Ferro. Namun tatapan mereka tertuju pada Cempaka yang mengunyah singkong. Bagas ikut mengalihkan pandangan pada Cempaka.


"Sepertinya mereka menyukai Cempaka." Gumam Bagas.


"Kamu kenapa ngeliatin aku?" tanya Cempaka pada Ferro.


"Apa?" tanya Ferro tidak mengerti, lalu Bagas menjelaskan apa yang di ucapkan Cempaka.


"Oh!" Ferro tertawa lebar. "Aku mau mencoba apa yang kamu makan, boleh?" tanya Ferro dalam bahasa inggris.


"Naon?" kali ini Cempaka yang tidak mengerti.


Bagas yang menjelaskan kembali. Cempaka tertawa kecil, lalu mengambil sepotong singkong, lalu di berikan kepada Ferro.


"Nih, kalau akang mau." Kata Cempaka.


Ferro mengambil sepotong singkong di tangan Cempaka lalu menggigitnya dan mengunyahnya perlahan.


"Rasanya aneh!" kata Ferro.


Bagas dan Vino tertawa mendengar kata kata Ferro. Sementara Udin, Komeng, Lilis dan Cempaka hanya diam memperhatikan, tidak mengerti apa yang mereka tertawakan.


"Cempaka mereka kenapa ketawa?" tanya Lilis pelan.


"Nggak tau." Jawab Cempaka. Namun akhirnya mereka ikut tertawa, mentertawakan diri mereka sendiri yang tidak mengerti bahasa Ferro.


Bagas dan Vino ikut tertawa seraya memperhatikan Cempaka.


"Andai aku memilikinya." Kata Bagas dalam hati.


"Cempaka cantik sekali." Ucap Vino dalam hati.

__ADS_1


Cempaka yang di perhatikan acuh tak acuh, berbeda dengan Ferro. Ia mengerti kalau dua pria di sampingnya menaruh hati pada Cempaka.


Komen dan Udin berhenti tertawa, mereka saling sikut. Memperhatikan ketiga pria yang sama sama memandang ke arah Cempaka.


__ADS_2