
Malam ini Ferro memutuskan untuk bertemu Bah Asep dan melamar Cempaka. Dengan keyakinan yang besar dan harapan bisa di terima, Ferro diantar oleh Adrian mendatangi rumah Cempaka.
Sesampainya di rumah.
Mang Asep dan ambu Sari menyambut Ferro dan Adrian dengan baik, meski mereka tidak setuju dengan hububgannya dengan Cempaka.
"Ambu ambilkan air dulu." Kata Ambu Sari berlalu dari hadapan mereka.
Sementara mang Asep masih diam memperhatikan Ferro dan Adrian. Tak lama kemudian ia menyuruh mereka duduk di kursi.
Suasana di ruang tamu seketika hening. Mang Asep terus menatap wajah Ferro. Sementara Ferro sendiri tetap percaya diri. Tak lama kemudian, ambu Sari kembali lalu meletakkan tiga gelas teh hangat di atas meja.
"Silahkan di minum." Tawar ambu Sari kepada Ferro dan Adrian.
Mang Asep menyalakan tembakau lalu menghisapnya perlahan.
"Ada apa, kamu datang ke sini?" Tanya mang Asep.
Ferro mengangkat wajahnya membalas tatapan mang Asep.
"Saya datang, untuk melamar putri bapak, Cempaka." Jawabnya.
Mang Asep menoleh ke arah istrinya lalu tersenyum lebar.
"Tidak bisa, Cempaka sudah saya jodohkan dengan orang lain." Tegas mang Asep menolak.
"Tapi pak, kami saling mencintai." Ferro kembali mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak bisa!"
__ADS_1
Mang Asep dan yang lain menoleh ke arah ambang pintu yang terbuka. Nampak Birawa berdiri seraya bertolak pinggang lalu menghampiri mereka dan duduk di sebelah mang Asep.
"Heh, kau orang asing!" Tunjuknya ke arah Ferro.
"Sebaiknya kau tinggalkan desa kami, sebelum kau menyesal. Kehadiranmu di desa ini sudah membuat resah!"
"Maksud bapak, apa ya?" Adrian yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Kalian bukan berasal dari desa ini. Semenjak kedatangan kalian, banyak kejadian yang meresahkan. Sebelumnya, desa kami aman." Jelas Bah Birawa.
"Kami tidak melakukan apapun, jangan asal tuduh. Justru kedatangan kami banyak membantu warga desa ini." Protes Adrian.
"Kau masih mengelak? Atau kami laporkan kalian ke polisi!" Ancam Birawa.
Adrian tidak terima, ia berdiri hendak membalas. Namun Ferro mencegahnya, begitu juga dengan mang Asep. Ia menenangkan abah Birawa untuk tidak terbawa emosi.
"Punten abah, tenang. Mereka hanya anak muda yang tidak mengerti apa apa." Kata mang Asep.
Mang Asep dan ambu Sari menegaskan pada Ferro sekali lagi. Bahwa mereka tidak setuju dengan hubungannya dengan Cempaka.
Namun Ferro juga tidak mudah menyerah begitu saja, ia meminta mang Asep untuk memikirkan kembali keputusannya dan sedikit saja melihat perasaan Cempaka.
"Saya teh orang tuanya Cempaka. Jadi saya tahu, apa yang terbaik buat Cempaka." Jawab mang Asep.
"Cepat kalian pergi dan jangan ganggu Cempaka. Apalagi meresahkan warga kami." Timpal Abah Birawa.
Ferro bangkit dari duduknya, di ikuti Adrian.
"Saya akan membuktikan, kalau saya pantas untuk putri bapak." Kata Ferro.
__ADS_1
Mang Asep dan ambu Sari hanya diam mendengarkan pernyataan Ferro. Kemudian Ferro dan Adrian berpamitan untuk kembali pulang.
"Kita tidak tahu, asal usul mereka. Bisa saja mereka penjahat atau semacamnya yang hendak menipu." Kata Birawa.
Mang Asep dan ambu Sari mengangguk anggukkan kepalanya.
"Sebaiknya kita percepat pernikahan anak anak kita." Usul Birawa.
"Saya setuju!" Sahut mang Asep.
"Baik, kalau begitu tanggal pernikahan anak kita harus di majukan.' Kata abah Birawa.
Mang Asep hanya manggut manggut tanda setuju, apapun yang di katakan Abah Birawa. Sementara ambu Sari melihat Cempaka masuk ke kamarnya.
"Abah, saya ke belakang dulu." Kata ambu Sari berpamitan pada Birawa.
"Sok, silahkan!" Kata abah Birawa.
Ambu Sari berlalu dari hadapan mereka dan menemui Cempaka di kamarnya.
"Neng..." ucap ambu Sari melihat Cempaka tidur telungkup sambil menangis.
"Neng, kenapa menangis?" Kata ambu Sari, berjalan mendekati Cempaka dan duduk di tepi ranjang.
"Ambu pergi sana, aku mau sendiri." Kata Cempaka terisak.
"Jangan gitu atuh neng, ambu juga khawatir kalau kamu kaya begini." Jawab Ambu, tangannya terulur hendak membenarkan rambut Cempaka.
"Ambu keluar saja, aku mau sendiri!" Kata Cempaka dengan nada tinggi.
__ADS_1
Ambu Sari menarik napas dalam dalam, perlahan ia berdiri lalu meninggalkan putrinya sendirian di kamar.