
Pembangunan lahan kopi berjalan dengan lancar, dalam waktu satu bulan telah selesai di bangun. Hari ini, adalah hari pembukaan pengolahan kopi di mulai dengan gunting pita. Di hadiri oleh warga desa pasir reungit dan Pak Camat dan Lurah setempat beserta Rt dan Rw.
Cempaka tersenyum, matanya berbinar menatap kagum ke arah Bagas. Lilis yang berada di sampingnya, menyikut lengan Cempaka.
"Liat tuh!" tunjuk Lilis ke arah Ferro, menggunakan dagunya.
Cempaka menoleh ke arah petunjuk Lilis. Ia tersenyum lalu menganggukkan kepala, ke arah Ferro yang sedari tadi memperhatikannya.
"Dari tadi ngeliatin kamu, cempaka." Bisik Lilis.
"Ssst, biarin saja. Nggak bikin lecet ini...." jawab Cempaka, kembali memperhatikan Bagas yang sedang berbicara di depan warga.
"Lis, jangan sirik. Ada akang, yang peduli sama Lilis." Kata Udin yang berada di belakang cempaka dan Lilis. "Nanti akang jual sawah si abah, biar muka akang goodloking."
Lilis dan Cempaka mengulum senyum mendengarkan celotehan Udin di belakang.
"Sawah mana anu rek di jual?" tanya Komeng.
"Sawah siapa saja yang mau di jual." Jawab Udin sekenanya.
"Dasar borokokok!" sahut Komeng.
"Sst, berisik atuh!" sela Cempaka menoleh ke arah Udin dan Komeng.
Mereka kembali fokus mendengarkan sambutan pak Camat, lalu Bagas. Setelah itu gunting pita yang di lakukan oleh pak Camat. Warga tepuk tangan dengan gembira, siulan Komeng dan Udin memekakkan telinga Cempaka dan Lilis. Mereka berdua mendapatkan tatapan horor, baru berhenti bersiul.
Tak lama, pak Lurah dan Birawa mengumumkan kalau hari esok ada acara sedekah bumi, yang di selenggarakan setiap satu tahun sekali di desa tersebut. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Tak lama kemudian, acara pembukaan pengolahan kopi untuk warga telah selesai, satu persatu warga meninggalkan tempat.
"Cempaka!"
Cempaka, Komeng, Udin dan Lilis menoleh ke arah sumber suara. Nampak Ferro berlari kecil menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa kang?" tanya Cempaka.
Ferro terlihat bingung, ia tidak mengerti apa yang di ucapkan Cempaka.
"Lah, malah bengong." Sela Komeng.
"Ngga ngerti kayanya Meng." Bisik Udin.
Komeng menganggukkan kepala, lalu tersenyum lebar. "Ada apa borokokok!"
Ferro semakin kebingungan, tidak tahu harus menjawab apa. Beruntung Bagas datang menghampiri mereka lalu bertanya pada Cempaka. Bagas mengerti, lalu ia bertanya pada Ferro menggunakan bahasa asing.
Ferro menjelaskan kepada Bagas, kalau dia ingin belajar bahasa Indonesia, dan belajar tentang adat istiadat suku sunda kepada Cempaka.
"Cempaka, Ferro meminta kamu untuk mengajari bahasa Indonesia, adat istiadat kampung kita." Jelas Bagas panjang lebar.
Cempaka menganggukkan kepalanya.
"Tentu boleh, akang." Kata Cempaka.
Ferro tersenyum lebar, menganggukkan kepala. Lalu mengucap terima kasih kepada Cempaka. Setelah itu, Ferro kembali bergabung bersama Vino.
***
Tradisi Seren taun atau nampa taun, lebih dikenal lagi ‘Sedekah Bumi’ digelar di Desa Girijaya Kecamatan Cidahu Kab. Sukabumi, acara sedekah bumi ini diadakan setahun sekali dengan perhitungan tahun Hijriah.
Tradisi ini memiliki ciri khas, semua hasil bumi, baik hasil tanaman pangan yang ada di bumi khususnya yang ada di Pasir Reungit dan Girijaya, setiap warga memiliki budaya keharusan membawa tanaman pangan, serta di tempatkan di tandu atau dongdang dengan berbagai hiasan variasi, tidak kurang dari 200 dongdang dibawa masyarakat untuk dibagikan atau jadi rebutan peserta yang hadir.
Ketua panitia Sedekah Bumi, Abah Birawa memaparkan bahwa acara tersebut merupakan warisan budaya leluhur terkait dengan datangnya bulan robiul awal atau biasa d sebut muharram.
Seren Taun ini secara turun temurun, tujuannya adalah sebagai rasa syukur terhadap Sang Pencipta yang telah memberikan kehidupan yang luar biasa ini. Acara seren taun di hadiri oleh peserta luar desa tersebut. Bahkan orang dari kota yang sudah tahu adanya seren taun di desa itu, datang menghadiri acara tersebut.
Dalam rangkaian ritual sedekah bumi terdapat tiga acara pokok. Pertama, nyekar dan berdoa untuk para leluhur. Kedua, kenduri dan makan bersama. Ketiga, tradisi nayub, yaitu menari bersama berpasangan untuk membangun kebersamaan dan kerukunan. Dalam rangkaian ritual ini masyarakat secara serempak mendatangi makam desa, yang di tengah-tengahnya terdapat makam lain, yakni persemayam an dhangyang atau pepunden warga desa.
__ADS_1
Pemuliaan terhadap leluhur dan alam merupakan gambaran keutuhan kosmik kehidupan masyarakat desa yang sebagian besar hidup sebagai petani. Mereka memercayai mitos ‘bapa angkasa ibu pertiwi’, ‘kaki-dhanyang’ dan ‘nini dhanyang’, serta ‘mbok sri’ sebagai bagian dari kemakmuran wulu wetu.
Bahwa hasil bumi merupakan perwujudan kemakmuran masyarakat desa. Kosmis besar yang menaungi kehidupan masyarakat petani di perdesaan diungkapkan dalam bahasa simbol kesuburan alam bertemunya oposisi biner bapa angkasa ibu pertiwi. Hujan dari angkasa membasahi ibu pertiwi, menumbuhkan semua tanaman. Hujan ialah harapan besar bagi para petani memberikan kesuburan bagi sawah ladang yang mereka garap. Adapun padi (mbok sri) merupakan penanda bagi tercukupinya kebutuhan pangan, yang menandakan kemakmuran hidup masyarakat petani.
Ketersedian ladang, sawah, dan desa yang nyaman-damai tidak pernah lepas dari jasa para leluhur yang telah merintis keberadaan desa. Diyakini masyarakat bahwa dhangyang ialah orang yang pertama kali membuka hutan dan menciptakan desa sebagai tempat tinggal masyarakat saat ini. Dhangyang, mbah buyut, dan para leluhur mereka yang telah hidup di alam kekal ‘kelanggengan’ pantas dimuliakan karena jasa besar mereka mewariskan desa yang subur makmur.
Joget pedhanyanganTibalah saatnya acara tayuban atau nayub. Tradisi ini merupakan tradisi tari yang berakar dari semangat kebersamaan dan kerukunan hidup. Tayub mataya kanthi guyub adalah menari yang dipandu semangat guyub rukun berkumpul sebagai sedulur. Tarian ini diawali dengan satu tarian sakral yang disajikan sindhir (para penari).
Joget ini disebut dengan istilah joget pedhanyangan. Sebelumnya, sindhir nyekar (tabur bunga) terlebih dahulu di punden, dibimbing juru kunci. Nyekar ini sebagai bentuk kesanggupannya menjalani tugasnya sebagai sindhir dalam rangkaian sedekah bumi. Sindhir biasanya mengucapkan salam, kemudian menaburkan bunga di situs punden.
Joget pedhanyangan didahului dengan melantunkan Gending Eling-Eling. Makna dari Gending Eling-Eling ialah terbukanya kesadaran hidup manusia yang diciptakan di dunia untuk hidup berdampingan dengan alam, lingkungan, keluarga, ayah, ibu, saudara, serta hidup bersama masyarakat luas (bebrayan agung).Setelah melantunkan Gending Eling-Eling, sindhir menarikan joget pedhayangan.
Tarian ini didahului dengan gending sampak, yang mengisyaratkan sindhir untuk memasuki ruang besa (ruang menari). Pada ruang besa inilah sindhir mulai menyajikan tarian inti dengan diringi gending bendrong, yakni ragam tarian yang disajikan sangat mirip dengan joget Gambyong pada umunya.
Joget ini diakhiri pula dengan gending sampak sebagai isyarat bahwa tarian tersebut telah selesai. Saat berjoget, arah hadap utama ialah situs punden. Dalam tradisi sakral ini, tabu apabila penari membelakangi situs punden.Joget pedhanyangan telah usai. Segera dimulailah gedog pertama, yaitu bagian awal para pejabat desa dan dusun memulai besa, menari berpasangan dengan pejabat yang hadir.
Penari berdiri memulai tariannya untuk menghantarkan sampur pada lurah/kepala desa. Selanjutnya, sindhir menghampiri mereka dengan mengambil talam sampur dan duduk di samping lurah. Beberapa petugas menyiap kan mikrofon untuk sindhir.
Gedog pertama ini sering disebut ndarandara karena khusus diperuntukkan bagi para pejabat dan tamu kehormatan. Sindhir mulai melantunkan tembang Sinom untuk memulai ngungrum. Lurah segera mengambil dompet dan mengeluarkan uang Rp50.000-an dua lembar, diberikan pada tiap-tiap sindhir.
Seusai ndara-ndara, para pejabat berdiri berjajar membawa sampur masing-masing dan berdiri dengan jarak yang teratur satu sama lain. Pramugari pun berdiri mengedarkan talam. Tiap-tiap pejabat yang telah mengalungkan sampurnya itu lantas meletakkan sejumlah uang di atas talam.
Uang talam tersebut oleh penari diserahkan pada petugas untuk dihitung dan dimasukkan ke sebuah tempat yang terbuat dari periuk tanah yang cukup besar yang ditutup dengan kain putih.
Para pemain gamelan dipandu seorang penari memulai gedog pertama. Para pejabat desa berdiri berhadapan, mengalungkan sampur di bahu dan kedua tangan ngapurancang.
Para sindhir telah berdiri di tengah, siap melantunkan Gending Ibu Pertiwi. Gending Ibu Pertiwi merupakan gending yang dimainkan untuk mengiringi para pejabat desa yang mbesa (menari) untuk leluhur dan para pepunden desa. Syair Gending Ibu Pertiwi berisi tentang pemuliaan terhadap ibu pertiwi yang telah memberikan papan, sandang, dan pangan yang bermanfaat untuk masyarakat desa.
Ferro sebagai tamu kehormatan, Adhiguna dan Vino, mengikuti acara dari awal sampai selesai. Namun Ferro lebih memilih bersama Cempaka, dan sahabatnya.
Meski bahasa yang menjadi kendala Ferro untuk berkomunikasi dengan Cempaka. Terkadang, Cempaka salah menafsirkan maksud Ferro. Namun, kebersaam mereka saat itu, membawa Cempaka menjadi lebih dekat dengan Ferro dan ingin mengenalkan lebih jauh budaya dan adat istiadat suku sunda.
Kedekatan Ferro dan Cempaka, mengundang rasa cemburu di hati Bagas dan Vino. Ternyata, mereka berdua sama sama menyukai sosok Cempaka si bunga desa.
__ADS_1