
"Terus kamu sukanya sama siapa?" Tanya Abah menatap tajam Cempaka yang hanya diam menundukkan kepala, seraya terisak.
"Apa kamu suka sama orang bule itu?" Ambu Sari ikut bertanya pada putrinya.
Cempaka mengangkat wajahnya menatap sendu ambu Sari lalu menganggukkan kepalanya.
"Dia dan kamu beda, Cempaka. Kamu jangan jatuh cinta sama orang yang beda keyakinan!" Ucap Abah Asep.
"Tapi dia bisa saja mengikuti keyakinan kita, misalnya belajar apapun yang leluhur kita ajarkan, abah.." jawab Cempaka.
"Kamu tidak tahu keluarganya, tinggal di mana. Pikir, Cempaka! Jangan asal saja kamu suka sama laki laki!" Bantah bah Asep tetap menolak.
Cempaka kembali terdiam, apa yang di katakannya memang benar. Tetapi menurut Cempaka semua bisa di bicarakan.
"Bah, kita bisa bertanya langsung atau kita bisa datangin keluarganya." Cempaka tetap bersikeras.
"Di mana Cempaka..di mana?" Tanya bah Asep kesal.
"Dengar Cempaka, abah tetap tidak setuju!"
"Tapi abah..."
"Diem, kamu tidak tahu apa apa soal orang bule itu. Bagaimana kalau orang tuanya tidak setuju meskipun dia pindah keyakinan. Cempaka, kamu jangan memikirkan diri kamu sendiri."
__ADS_1
Cempaka semakin deras air matanya, ia tetap bersikeras dengan pendiriannya dan menolak perjodohan dengan sahabatnya.
"Ambu.." Cempaka mengalihkan pandangannya pada ambu Sari meminta dukungan. Namun Ambu Sari hanya diam dan beranjak pergi dari kamar Cempaka di ikuti abah Asep.
***
Ke-esokan paginya seperti biasa, Cempaka masih mendapatkan izin untuk beraktifitas. Waktu waktu tertentu, Cempaka mencuri waktu untuk bertemu dengan Fero.
Udin, Lilis dan Komeng selalu membantu pertemuan mereka. Selama Cempaka berduaan dengan Fero, mereka bertiga akan mengawasi sekitar. Jaga jaga kalau ada abah Asep atau ambu Sari datang. Sejauh ini, mereka selalu berhasil.
"Cepat Cempaka, sebentar lagi mau hujan." Kata Lilis, tengadahkan wajah menatap langit yang mendung.
"Bener kata Lilis, kalau kehujanan bisa berabe." Timpal Komeng.
"Emang kamu tahu cinta? Kamu tahu nya makan!" Umpat Lilis sambil menepuk kening Udin.
"Cinta itu gorengan anget!" Sahut Udin di akhiri tertawa kecil.
Cempaka hanya diam memperhatikan sekitar. Menunggu kedatangan Fero sesuai janji akan bertemu di pinggir bukit.
Tak lama kemudian, saat ketiga sahabatnya tengah bercanda di bawah pohon besar tak jauh dari tempat Cempaka berdiri. Nampak dari balik semak semak, Fero menghampiri Cempaka lalu menarik tangannya menjauh dari ketiga sahabatnya.
"Kenapa kau, mengajakku bertemu di tempat sulit seperti ini?" Tanya Ferro menatap wajah Cempaka.
__ADS_1
"Tidak ada ruang buat kita bertemu dengan bebas. Abahku sudah tidak mengizinkanku bertemu dengan kamu. Apalagi, abah Birawa sudah menyuruh anak buahnya buat ngawasin kita." Ungkap Cempaka dengan raut wajah sedih.
Fero menarik napas panjang, ia mengerti situasinya sekarang.
"Aku punya satu permintaan." Kata Cempaka.
"Katakan, apapun itu akan aku lakukan." Jawab Fero dengan meyakinkan.
"Temui abah, katakan semuanya tentangmu." Pinta Cempaka.
Fero menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, aku pasti melakukannya. Apapun resikonya nanti, aku terima."
Cempaka tersenyum lebar, meski ia tak yakin. Namun usaha tetap harus di lakukan, apalagi di kampung. Tentu adat istiadatnya berbeda dengan di kota.
"Sepertinya mau hujan, sebaiknya aku antar kau pulang." Kata Fero.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku bersama teman teman." Cempaka menunjuk ke arah pohon besar, terlihat ketiga sahabatnya memperhatikan mereka berdua dengan cemas.
"Tidak, aku harus mengantarmu." Fero tetap bersikeras.
Namun Cempaka tetap melarang, dengan alasan supaya nanti malam Fero bisa datang ke rumahnya. Atas bujukan Cempaka, akhirnya Fero mengalah dan memutuskan untuk mengantarkan Cempaka sampai rumahnya meski harus dari jauh.
__ADS_1