
Ferro di jemput paksa di rumahnya oleh dua orang hansip untuk di bawa ke balai desa. Awalnya Ferro terkejut kedatangan dua hansip itu dan menolak untuk ikut. Namun setelah ia mendengar bahwa telah di tuduh hendak menculik Cempaka. Akhirnya Ferro ikut bersama dua hansip tersebut di temani Rendi dan Adrian.
Sesampainya di balai desa, Ferro langsung di tanyai sejumlah pertanyaan oleh Kepala Desa. Tentu saja Ferro membantah, ia tidak merasa merencanakan penculikan terhadap orang yang di cintainya.
Sebagian warga hanya diam, mereka masih belum paham apa yang terjadi diantara mereka. Ada juga warga yang sudah terhasut Adiguna dan mengadu domba supaya terjadi perpecahan diantara mereka. Namun ada sebagian warga yang bijaksana lebih memilih mendengarkan terlebih dahulu baru ikut bicara jika di butuhkan.
"Apa buktinya?" Tanya Adrian membela Ferro.
Kepala Desa menoleh ke arah Bagas dan saksi lainnya yang berada di lokasi kejadian, termasuk Lilis, Komeng dan Udin.
"Kami sempat bertanya, dan laki laki itu menyebut nama Ferro." Kata Bagas.
"Pak Kades!" Udin mengangkat tangannya.
"Silahkan, Din!" Pak Kades mempersilahkan Udin untuk memberi kesaksian.
Udin berdehem sesaat, membenarkan sarung dan pecinya lalu berjalan ke depan bak Pengacara yang akan menbela Ferro.
"Kita jangan termakan ucapan orang yang kemarin, bisa saja ada yang berusaha merusak nama pak bule!"
Pak Kades dan yang lain menatap tajam Udin. Mereka tidak menyangka jika Udin bisa punya pemikiran sejauh itu.
"Jelaskan!" Perintah pak Kades.
Udin lagi lagi tertawa kecil dan melangkah dengan santai menghadap orang orang yang ada di balai desa.
"Selama ini kita tahu, pak bule banyak membantu desa kita. Apa mungkin, pak bule yang pintar dan berpendidikan melakukan hal tak terpuji sementara pak bule masih tinggal di desa kita?" Ungkap Udin.
"Bisa saja Din!" Timpal abah Birawa. "Ferro menyukai Cempaka, sementara Cempaka akan menjadi calon menantuku."
Pak Kades dan yang lain manggut manggut, apa yang di katakan abah Birawa masuk akal.
"Kalau memang pak bule yang melakukannya, itu mudah. Cempaka tinggal di bawa kabur ke kota. Bukan ke kebun kopi. Seolah olah penculikan itu hanyalah drama!" Bantah Udin dengan gigih lalu di dukung oleh Lilis dan Komeng.
"Betuuulll!!" Ucap mereka serempak.
"Huss!!" Hansip di sebelahnya menegur mereka berdua karena terlalu berisik.
"He he he! Komeng hanya tertawa kecil.
"Selama kalian tidak mendapatkan laki laki itu untuk di jadikan saksi, kami anggap kalian membual." Ujar Adrian kesal.
"Laporkan saja ke Polisi!" Salah satu warga memberikan usulan dan idenya di setujui oleh Kades dan yang lain.
__ADS_1
Namun Bagas yang sedari tadi diam mencoba mencerna apa yang di katakan Udin. Akhirnya mencegah warga untuk melaporkannya ke Polisi.
Menurut Bagas, apa yang di katakan Udin lebih masuk akal. Apalagi Cempaka ikut membela Ferro dengan yakin kalau pria asing itu tidak bersalah.
Akhirnya pak Kades memberikan kesempatan pada Ferro dan memberikan waktu kepada Bagas dan yang lain untuk membuktikan. Jika Ferro terbukti meresahkan dan membuat onar di desa tersebut. Maka pak Kades yang akan menyeret Ferro ke kantor Polisi.
Warga setuju, begitu juga yang lain. Setelah kesepakatan tercapai, musyawarah di hentikan dan mereka semua bubar dari balai desa.
Bagas mendatangi Ferro, mengajaknya bicara empat mata di halaman balai desa.
"Kalau kau terbukti, dalang di balik penculikan Cempaka. Aku tidak segan segan akan melenyapkanmu." Ancam Bagas.
Ferro tersenyum tipis mendengar ancaman Bagas. Baginya masalah ini sepele, Ferro terbiasa menghadapi ancaman besar bahkan nyawapun bisa melayang.
"Pakai otakmu, mungkinkah aku mencelakai wanita yang aku cintai?" Jawab Ferro.
Bagas diam membisu, giginya gemeletuk menahan rasa cemburu saat Ferro mengatakan cinta terhadap Cempaka.
"Aku, kami semua tidak mengenalmu dengan baik. Siapa yang tahu, bukan?" Pungkas Bagas, setelah bicara seperti itu. Bagas berlalu dari hadapan Ferro dan kembali bersama para warga.
Ferro menarik napas dalam, baru kali ini ia menghadapi situasi sulit yang membuat dia harus berhati hati dalam mengambil tindakan. Salah sedikit, ia bisa di deportasi. Ferro balik badan, tepat di hadapannya Cempaka dengan raut wajah sedih tengah menatapnya.
"Cempaka.."
"Kau baik baik saja?" Tanya Ferro menatap lembut wajah kekasihnya.
"Aku tidak baik baik saja, aku-?" Ucapan Cempaka terputus saat jari telunjuk Ferro mendarat di bibir Cempaka.
"Aku tahu.." ucap Ferro pelan. "Kau sudah di lamar, dan hari pernikahanmu sudah di tetapkan."
"Lalu?" Tanya Cempaka menatap lekat manik mata coklat Ferro.
"Aku bisa apa?" Ferro balik bertanya.
"Bawa aku pergi." Jawaban Cempaka membuat Ferro terkejut. Ia sama sekali wanita di hadapannya bisa senekat itu.
"Tapi-?" Ferro diam membisu.
"Kenapa?" Tanya Cempaka.
Ferro masih diam, bukan tidak berani. Namun ia sadar, di sini bukanlah tempat ia berkuasa dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Berbeda jika situasinya di Negaranya sendiri, jangankan melarikan anak gadis. Membunuhpun bisa dilakukannya, ia tidak ingin gegabah.
"Kenapa? Kau takut?" Cempaka bertanya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Ferro menggelengkan kepala, menggenggam erat kedua tangan Cempaka.
"Apapun akan aku lakukan, tenanglah."
"Sampai kapan? Tanggal pernikahanku semakin dekat." Cempaka menarik tangannya, ia tidak mengerti apa yang di pikirkan Ferro.
"Cempaka.." panggil Ferro dengan lembut.
"Sudahlah!" Cempaka balik badan, lalu berlari menjauh dari Ferro.
"Cempaka tunggu!"
Ferro berlari menyusul Cempaka lalu menghentikan langkah gadis itu dengan memeluknya erat dari belakang.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Apapun maumu akan aku lakukan." Bisiknya di telinga Cempaka.
"Benarkah?" Cempaka balik badan menatap kedua bola mata Ferro.
Ferro menganggukkan kepalanya, lalu memeluk Cempaka dengan erat.
"Percayalah.." bisik Ferro.
Dari kejauhan, salah satu warga melihat kemesraan mereka tanpa Cempaka dan Ferro sadari.
"Anak gadis kok begitu.." ucapnya pelan.
"Duarrr!!"
Pria yang memperhatikan Cempaka dan Ferro terkejut. Ia balik badan melihat Udin, Komeng dan Lilis sudah berada di hadapannya.
"Dasar, anak tidak tahu sopan santun!" Rutuknya.
"Mang Soleh juga nggak punya sopan santun, ngintip orang lain." Jawab Lilis.
"Pasti mau di sebarin." Tuduh Komeng.
"Aha!" Timpal Udin. "Gampang wae mang Soleh. Kalau mang Soleh berani nyebarin. Saya pun mau bilang ke istri mang Soleh kalau mang Soleh ada main sama si Mimin janda sebelah!" Ancam Udin.
Sontak mang Soleh tergagap. Ia meminta Udin untuk tidak mengatakannya pada istrinya. Mang Soleh berjanji tidak akan membuat fitnah apalagi menyebarkannya.
"Awas ye, berani nyebarin. Jangan salahkan saya, kalau mang Udin di usir bi Iroh." Ancam Udin lagi.
Mang Soleh mengangguk cepat, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
'Beres!" Udin dan dua sahabatnya bersorak. Lalu ke tiganya mengawasi sekitar supaya tidak ada yang mengintip lagi.