
Pagi pagi sekali warga desa pasir rengit sudah di hebohkan dengan kabar berita hilangnya Lilis, Komeng dan Udin. Ada salah satu warga yang melihat terakhir kali mereka sedang mencari kayu bakar di tepi hutan.
Masing masing orang tua dari Lilis, Komeng dan Udin semakin histeris mengetahui terakhir hilangnya mereka di hutan gunung Salak.
Mereka beramai ramai mendatangi rumah Birawa dan meminta bantuan untuk mencari ketiga anak mereka.
Birawa menyetujui dan mengerahkan sebagian warga untuk mencari keberadaan ketiga orang itu. Bahkan ada salah satu warga meminta bantuan orang pintar untuk mengetahui lokasi di mana mereka berada.
Mang Asep dan yang lain ikut membantu mencari Lilis dan dua temannya masuk ke dalam hutan. Namun sampai sore hari dan hampir mau gelap. Mereka tidak menemukan mereka, hanya menyisakan kain robek di sekitar hutan yang pernah di lewati Lilis dan yang lain.
Rencananya mereka mau masuk ke dalam hutan lebih dalam. Namun kendala kabut dan hari mulai gelap membuat mereka kesulitan. Akhirnya mereka kembali pulang ke rumah masing masing.
Ke-esokan harinya mereka memulai pencarian lagi. Bahkan mereka meminta bantuan aparat setempat.
Waktu terus berjalan, pencarian mereka pun nihil. Ketiga sahabat Cempaka belum di temukan, bantuan dari orang pintarpun meleset. Mereka kembali pulang di saat hari mulai gelap.
Hari yang ketiga, sebagian warga tidak ikut memcari. Hanya beberapa saja dan mang Asep termasuk Birawa dan aparat setempat.
Di saat semua warga tengah di hebohkan oleh hilangnya tiga warga. Abah Birawa dan mang Asep sibuk membantu mencari. Di desa sedang panen kopi, kali ini terjadi lagi pencurian kopi saat mau di angkut ke dalam mobil truk.
Di saat bersamaan, mang Soleh yang telah di hasut Adiguna dengan sejumlah uang. Mulai menyebarkan fitnah. Menghubung-hubungkan hilangnya Lilis dan yang lain dengan Ferro.
Sontak kabar ini menjadi simpang siur, dan jadi bahan cibiran warga sekitar. Mang Soleh tidak takut lagi dengan ancaman Udin tempo hari. Karena ia merasa kalau Lilis dan teman temannya sudah di pastikan hilang di hutan dan tidak akan kembali pulang atau dalam keadaan mati seperti kejadian yang sudah-sudah di alami warga sekitar.
Mang Asep yang baru saja pulang dari hutan, ia kelelahan dan kesal. Karena Lilis dan yang lain tidak di temukan juga. Di tambah fitnah mang Soleh dan hilangnya hasil panen kopi.
Setibanya di rumah, tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Cempaka. Mang Asep langsung memarahi dan menampar Cempaka karena sudah membuat malu keluarga.
"Abah tidak pernah mengajarkanmu seperti itu!"
Ambu Sari hanya bisa diam, ia pun sudah ke makan hasutan. Namun sebagai ibu, ia masih memiliki rasa percaya pada putrinya.
"Itu fitnah abah, aku tidak melakukan apa apa.." jawab Cempaka di sertai deraian air mata.
"Kamu masih mau bohong? Jelas jelas mang Soleh melihatnya!" Mang Asep semakin geram.
"Abah percaya?" Tanya Cempaka.
"Mang Soleh tidak mungkin berbohong, mulai sekarang kau tidak boleh kemana mana!" Mang Asep keluar dari kamar Cempaka sambil membanting pintu.
Ambu Sari terkejut melihat marahnya mang Asep. Sebelumnya, suaminya tidak pernah sekalipun berkata kasar apalagi menampar putrinya.
"Ambu..." ucap Cempaka menatap ke arah ibunya. "Ambu percaya sama aku.."
Namun ambu Sari tidak menjawab, ia memilih pergi dari kamar Cempaka tanpa berkata apa apa lagi.
Cempaka menangis sesegukan, bukan sakit karena tamparan. Tapi hilangnya rasa percaya kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sementara di rumah Birawa.
Birawa tengah duduk bersama Bagas. Mereka percaya tidak percaya dengan kabar itu. Namun Sofia yang berada di rumah Birawa terus memprovokasi mereka berdua.
"Ferro orang asing, bukan pria bodoh. Bahkan lebih licik dari yang kita duga." Kata Sofia seraya menyodorkan sebuah dokumen yang berisi data pribadi tentang Ferro.
"Mereka sudah biasa melakukan *** bebas, bukan hal yang sulit kalau Ferro melakukannya dengan gadis desa seperti Cempaka."
"Diam." Bagas menatap tajam Sofia.
Sofia terdiam namun dalam hatinya ia tertawa.
"Dia seorang mafia?" Tanya Abah Birawa.
Sofia mengangguk cepat.
"Bagas, batalkan pernikahan dengan Cempaka." Kata abah Birawa.
Bagas terkejut bukan main.
"Tidak abah!"
"Cempaka tidak pantas buatmu, sayang." Ujar Sofia.
"Kamu bisa diam tidak?" Bagas semakin risih dengan kehadiran Sofia. Lalu ia mengusirnya dari rumah karena tidak ingin kehadirannya semakin memperkeruh suasana.
Sofia pun beranjak pergi dari rumah Birawa.
"Tolong abah, jangan batalkan. Aku mencintai Cempaka. Apapun yang terjadi, aku terima kekurangan Cempaka."
Bagas memohon dan membujuk Birawa untuk tidak membatalkan. Melihat kesungguhan Bagas, abah Birawa menyetujui keinginan putra semata wayangnya.
Ke-esokan paginya. Birawa dan warga sekitar menyeret paksa Ferro ke balai desa dan melaporkannya pada pihak berwajib.
Bantahan Ferro dan Adrian kali ini tidak berguna. Karena warga menemukan barang bukti berupa jam tangan di tempat pencurian kopi, dan menemukan barang bukti lainnya di hutan yaitu pakaian milik Ferro. Di tambah kesaksian mang Soleh yang melihat Ferro memaksa Cempaka untuk berbuat mesum.
Ferro tidak mengerti, mengapa barang mililnya bisa ada di tangan warga. Berkali kali Ferro membela diri, namun hasilnya nihil. Akhirnya pihak berwajib akan mengusut tuntas dan membawa Ferro ke kantor Polisi.
"Dia tidak bersalah!" Pekik Cempaka seraya berlari dan memeluk erat tubuh Ferro dan si saksikan oleh warga, menguatkan fitnah yang beredar.
Bagas membuang muka, tidak ingin melihat Cempaka begitu histeris membela Ferro. Mang Asep menggertakkan giginya menahan amarah dan rasa malu, melihat anak gadisnya memeluk laki laki.
"Tidak tahu malu!" Mang Asep menarik paksa tangan Cempaka menjauh dari Ferro.
"Abah, jangan pisahkan aku!" Seru Cempaka, matanya berkaca kaca menatap Ferro.
Ferro tersenyum dan menggekengkan kepala sebagai isyarat bahwa semuanya akan baik baik saja.
__ADS_1
"Jebloskan dia ke penjara!" Seru sebagian warga.
"Usir Cempaka!"
Semua orang yang ada di balai desa menoleh ke arah sumber suara. Nampak Sofia berjalan dengan santai lalu menunjuk ke arah Cempaka.
"Usir dia dari desa ini, kalian tahu. Gadis ini sudah mengotori kampung ini bukan?"
Warga saling berbisik dan membenarkan perkataan Sofia.
"Itu tidak benar!" Pekik Bagas.
Warga menoleh ke arah Bagas.
"Ada hukum, kita buktikan kalau memang Cempaka dan Ferro telah melakukan hal yang tidak terpuji."
Sofia menggeram, usahanya selalu di gagalkan Bagas. Namun ia tidak mau menyerah begitu saja.
"Mang Asep punya banyak uang, bisa saja ia menyogok supaya tidak mendapatkan malu.'
Warga melirik tajam ke arah mang Asep.
"Mulutmu sungguh keterlaluan!" Bantah mang Asep.
"Sebaiknya kau pergi!" Usir Bagas pada Sofia.
Sofia hanya tersenyum sinis, lalu beranjak pergi dari balai desa.
"Para warga, saudara Ferro akan kami bawa." Kata salah satu anggota Polisi.
"Usir! Usir!" Seru warga.
Ferro tidak perduli perkataan warga. Tatapannya hanya tertuju pada Cempaka yang terus menangis menatapnya.
Setelah itu, pihak berwajib membawa Ferro. Semua warga bubar dan kembali ke rumah masing masing.
Di rumah mang Asep.
Mang Asep dan ambu Sari terdiam duduk di kursi. Mereka tidak menduga kejadian ini terjadi begitu cepat. Mang Asep merasa malu atas kejadian ini, begitu pula dengan ambu Sari.
"Mau di taro di mana muka abah.." ucap mang Asep.
"Ambu..." ucap Cempaka.
Ambu Sari hanya diam dan enggan menjawab panggilan Cempaka. Ia beranjak pergi meninggalkan Cempaka lalu di ikuti mang Asep.
Sementara Sofia, Adiguna dan Rendi. Merayakan kemenangannya telah berhasil menciptakan huru hara dan kerenggangan diantara para warga.
__ADS_1