
"Bah, lebih baik perjodohan ini di batalkan." Ucap Bagas pelan.
Birawa menautkan kedua alisnya, menatap Bagas putra satu satunya terlihat sedih.
"Kenapa?" tanya Birawa.
"Bagas tidak mau persahabatanku hancur gara gara perjodohan ini," jawab Bagas berusaha untuk tenang, seolah olah ia tidak menginginkan Cempaka.
"Jangan bilang, kalau kamu menyukai si sofia?" tanya Birawa. "Tidak, abah tidak setuju sama gadis kota itu."
"Bah, bukan begitu.." Bagas tidak tahu bagaimana menjelaskan kalau Cempaka menolaknya.
Birawa mengambil cangkir teh di atas meja, seraya menatap wajah putranya.
"Cempaka menolakmu?" tanya Birawa.
Bagas terhenyak, ia menatap wajah abahnya cukup lama.
"Bu, bukan abah!" sahut Bagas.
Birawa tersenyum lebar, menyecap teh nya perlahan.
"Kamu tidak usah bohong, abah tahu." Kata Birawa, lalu meletakkan cangkir di atas meja. Beranjak dari kursi, menatap Bagas sesaat.
"Perjodohan ini tidak akan abah batalkan, kamu harus menikah dengan cempaka." Ucap Birawa tegas.
Selesai bicara seperti itu, Birawa beranjak pergi dari hadapan Bagas dan memutuskan untuk ke rumah Bah Asep untuk membicarakan pernikahan Bagas dan Cempaka secepatnya.
Namun, di tengah perjalanan. Birawa melihat Cempaka tengah berbincang dengan Ferro tak jauh dari pengolahan kopi, nampak Cempaka tengah mengajari Ferro bagaimana meramu kopi, dan mengajari pria tersebut adat istiadat kampung tersebut.
Birawa menarik napas panjang, lalu bergegas menuju rumah bah Asep.
"Anak jaman sekarang sudah mulai susah di atur." Gumam Birawa.
*****
Abah Asep seketika rasa marah menyeruak dalam dadanya. Ia berdiri di ambang pintu menatap Cempaka turun dari atas sepeda bersama Ferro. Apalagi satu jam yang lalu. Birawa menemui bah Asep dan mengatakan kalau Cempaka terlihat akrab dengan pria asing dan Birawa memutuskan untuk segera menikahkan mereka sebelum hal hal yang memalukan terjadi.
"Abah.." sapa Cempaka menatap raut wajah yang tidak pernah bah Asep tunjukkan.
"Masuk!" perintah bah Asep dengan nada tinggi.
"Tapi, bah-?" Cempaka menoleh ke arah Ferro sesaat.
"Masuk!!" perintah bah Asep dengan nada tinggi.
Cempaka menundukkan kepala, lalu ia masuk ke dalam rumah. Bah Asep menatap tajam wajah Ferro yang tersenyum padanya. Bah Asep melipat kedua tangannya.
"Abah tidak tahu harus bicara pakai bahasa apa, tapi abah mohon. Jangan ganggu Cempaka lagi, karena dia mau menikah." Kata bah Asep.
__ADS_1
Ferro mencoba mencerna bahasa bah Asep, walau hanya satu kata yang Ferro mengerti. Namun Ferro jelas melihat raut wajah bah Asep tidak suka padanya.
"Bah, abah..abah.." Ferro kebingungan menjawab atau mengerti kata kata bah Asep.
"Puk!!"
Dari arah belakang, Adhiguna menepuk pundak Ferro.
"Dia tidak mau kau berdekatan dengan putrinya, Cempaka mau menikah dengan orang lain." kata Adhiguna sinis, dan sengaja memprovokasi.
"Kau?" sapa Ferro terkejut.
"Bah Asep, maaf atas kelancangan tamuku." Kata Adhiguna.
"Sebaiknya kamu bawa jauh jauh orang asing itu, dan peringatkan dia untuk tidak mendekati putriku." Kata bah Asep lalu masuk ke dalam rumah.
"Sombong, lihat saja. Akan aku hancurkan kalian." Gumam Adhiguna dalam hati. Kemudian ia menoleh ke arah Ferro, merangkul pundaknya dan membawanya pergi menjauh dari rumah Asep.
Sementara di dalam rumah, bah Asep memperingati Cempaka untuk tidak berdekatan dengan orang asing.
"Abah, kenapa abah berubah?" tanya Cempaka.
"Neng, mulai sekarang. Abah melarang kamu keluar dari rumah tanpa seizin abah!" ucap Bah Asep kesal.
"Ari si abah kenapa jadi galak sama anak sendiri??" tanya ambu Sari keluar dari daput, menghampiri Cempaka yang menangis.
"Sabar atuh bah! jangan bentak bentak. Kasihan si eneng, ambu ga terima!" protes ambu Sari.
"Punya anak jangan terlalu di manja, ambu! ngelunjak!" seru bah Asep.
Cempaka tidak tahan lagi mendengar omelan abahnya, ia memilih pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri.
"Tu liat! mulai ngelawan orang tua! bukannya di dengerin malah pergi!" rutuk bah Asep.
Ambu Sari menggelengkan kepalanya, mengusap dada ratanya menghampiri bah Asep.
"Jangan gitu abah, sabar atuh." Kata ambu Sari.
"Malu ambu, malu.." kata bah Asep. "Bagaimana kalau abah Birawa tahu, calon menantunya bepergian sama laki laki lain?"
Ambu Sari mengangguk, ia mengusap punggung bah Asep supaya tenang.
"Ambu ngerti, abah." kata ambu Sari. "Tapi jangan di bentak bentak si eneng nya. Dia anak satu satunya, kalau si eneng kenapa kenapa gimana?"
Bah Asep mengangguk, mengusap wajahnya. Ia kembali tenang, lalu berjalan menuju kamar Cempaka untuk meminta maaf.
Saat ambu Sari tengah menenangkan abah Asep. Di luar bilik, ada Lilis yang hendak menemui Cempaka. Tanpa sengaja mendengar pembicaraan bah Asep dan ambu Sari. Kemudian Lilis berlari menjauh dari bah Asep, untuk mengabari Komeng dan Udin yang ada di pos ronda.
"Ada apa kamu lari lari kaya di kejar setan?" sapa Komeng memperhatikan Lilis duduk di pos ronda seraya mengusap keringat di wajahnya menggunakan ujung kebaya.
__ADS_1
"Kabar buruk eum!" kata Lilis mengatur napasnya.
"Kabar buruk apa?" tanya Udin penasaran.
"Si Cempaka!" tunjuk Lilis ke arah jalan.
Udin dan Komeng menoleh ke ujung jalan, namun tidak ada Cempaka seperti yang Lilis bilang.
"Sok jelaskeun ada apa!" seru Komeng.
Lilis menarik napas dalam dalam. "Gini, dengerin!"
Lilis menceritakan apa saja yang ia dengar di rumahnya Cempaka. Komeng dan Udin mendengarkan sambil mulutnya menganga, matanya melebar.
"Serius Lis?" tanya Udin.
"Kamu salah denger kali!" timpal Komeng, mengibaskan tangannya di wajah Lilis.
"Serius borokokok!" umpat Lilis.
"Cempaka di jodohin sama den Bagas?" tanya Udin sekali lagi untuk meyakinkan apa yang ia dengar.
"Iya betul!" sahut Lilis. "Tapi kayana si Cempaka menolak perjodohan!"
"Kenapa di tolak? den Bagas tajir, goodloking pokok namah." Ucap Udin merasa aneh.
"Kalau nggak cinta mau gimana, biarpun kaya atau ganteng juga. Cinta nggak bisa di paksakan." Bela Lilis sedikit bicara bijak.
"Halah lebay!" celetuk Udin tertawa.
"Lain lebay, memang nyatanya begitu." Timpal Komeng.
"Kasian Cenpaka, kayanya Cempaka suka sama si akan bule!" kata Lilis.
"Hah???!" Komeng dan Udin matanya melebar, menatap Lilis.
Lilis menganggukkan kepalanya. "Iya betul, beberapa hari aku teh suka lihat Cempaka barengan akang bule."
"Duh kasihan si Cempaka, sama akang Komeng atuh Cempaka," kata Komeng menggaruk kepalanya.
"Kita harus bantu Cempaka." Usul Lilis, mengepalkan tangannya.
"Halah!" Udin menepuk kepalan tangan Lilis.
"Kaya lagi main drama aja, kamu ya! sahut Udin.
"Kita nggak boleh ikut campur, kecuali Cempaka yang minta. Lagipula, si bule sama si Cempaka beda keyakinan. Sudah pasti bakal nggak di terima sama si bah Asep." Jelas Komeng.
Lilis dan Udin manggut manggut mendengarkan penjelasan Komeng. Sebagau sahabat, ketiganya ingin membantu Cempaka yang lagi menghadapi masalah perjodohan.
__ADS_1