
Sejak pembagian ponsel tempo hari. Desa tersebut warganya sibuk belajar bagaimana menggunakannya. Ada yang sudah bisa, ada juga yang belum bisa menggunakannya. Layaknya anak kecil mendapatkan mainan baru, mereka sibuk bermain ponsel menjelajah apa saja yang mereka mau. Bukan sekedar omong kosong, kabar tentang manfaat kegunaan ponsel mulai tersebar keseluruh penjuru desa. Dari mulut ke mulut, mengundang rasa penasaran warga. Bagi mereka yang masih muda, keinginan untuk memiliki ponsel semakin besar.
Sebagian warga memaksakan diri untuk membeli ponsel ke kota, hasil penjualan padi atau sayur mayur yang mereka tanam. Ada juga sampai menjual sedikit tanahnya untuk membeli ponsel anak anaknya.
Birawa selaku tetua di desa tersebut sudah memperingatkan warga, namun kali ini peringatan Birawa tidak di gubris. Semakin hafi warga sekitar semakin menjadi.
Setiap Birawa dan bah Asep berjalan jalan di desa. Biasanya dari orang tua sampai anak muda saling menyapa setiap orang yang lewat. Namun kali ini pemandangan menjadi berbeda, setiap kali jalan yang di lewati, tempat di mana sore dan siang hari mereka berkumpul dan bercengkrama. Kini menjadi sangat asing, mereka tersenyum bahkan tertawa sendiri menatap layar ponsel.
Birawa mulai mengerti maksud dan tujuan pembagian ponsel yang di lakukan Adhiguna dan kawan kawannya. Ia mengajak bah Asep, Udin dan Komeng beserta beberapa pemuda desa tersebut untuk diskusi di rumah Birawa.
Mereka berkumpul di tengah pendopo, di temani secangkir teh dan rebus singkong.
"Aku akan memanggil putraku untuk membantu mengatasi permasalahan di desa kita." Kata Birawa, menatap satu persatu mereka yang ikut berkumpul.
"Siapa abah?" tanya Komeng penasaran.
"Bagas Putra." Kata Birawa.
"Oh den Bagas?" ucap bah Asep. "Gimana kabarnya? pasti sudah sukses di Jakarta."
Birawa tersenyum bangga, mengingat putra satu satunya sudah menjadi orang sukses di usia muda.
"Kalau mereka hendak memonopoli perkebunan kopi dengan cara seperti ini. Berarti kita harus mengimbanginya dengan cara lain, cara yang halus tanpa ada kekerasan." Birawa menjelaskan panjang lebar, langkah apa saja yang akan di ambil nanti. Setelah Birawa membagi tugas kepada mereka nanti. Komeng dan yang lain menikmati teh dan rebus singkong hingga larut malam.
***
"Neng!"
Cempaka yang tengah jongkok di hadapan tungku, menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Ya, ambu!" sahut Cempaka.
"Ambu sama abah, berangkat duluan ke kebun. Nanti si eneng nyusul belakangan ya?" pesan Ambu.
"Iya!" sahut Cempaka, lalu meniup kembali tungku yang mulai mati menggunakan corong. Sementara ambu Sari dan bah Asep pergi ke kebun untuk melanjutkan panen kopi yang tertunda.
Cempaka sibuk membersihkan rumah sampai menanak nasi, setelah semuanya selesai ia kerjakan, Cempaka membersihkan diri.
Tiga puluh menit berlalu, Cempaka telah selesai dengan dirinya. Kebaya berwarna merah jambu, balutan kain selutut, rambutnya yang panjang di ikat dengan rapi. Lalu ia menggendong bakul nasi, satu rantang yang berisi ikan asin, sambal dan lalapan, ia tenteng.
"Lumayan berat." Gumam Cempaka, melangkahkan kakinya keluar rumah menuju kebun kopi yang letaknya lumayan jauh dari rumah.
Di tengah perjalanan, langkah cempaka terhenti saat sebuah mobil melintas lalu berhenti tepat di depannya. Cempaka terkejut, melihat seorang pria keluar dari pintu mobil.
"Bagas!" seru Cempaka tersenyum lebar.
Pria yang di panggil namanya oleh Cempaka, tersenyum lebar seraya melepaskan kaca mata hitamnya.
"Baik, kamu sendiri apa kabar?" tanya Cempaka balik. "Wah, sekarang sudah sukses lupa sama sahabat di kampung."
Bagas tertawa kecil. "Aku sibuk Cempaka, lagian kamu ajak ke Jakarta tidak mau."
"Yee, bukan begitu. Si abah melarang, lagian aku ke Jakarta mau ngapain?" jawab Cempaka. "Ngomong ngomong, kapan kamu pulang?"
"Semalam, abah minta aku pulang." Bagas memperhatikan barang bawaan Cempaka.
"Kau mau ke kebun?" tanya Bagas.
"Iya!" sahut Cempaka.
__ADS_1
"Ayo, aku antar!" tawar Bagas. "Naik ke mobilku."
"Boleh?" tanya Cempaka.
"Tentu saja boleh!" sahut Bagas.
"Ayo!" Cempaka menerima tawaran Bagas.
Namun baru saja Bagas hendak membuka pintu mobil. Dari arah lain, sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil milik Bagas.
Cempaka dan Bagas menatap ke arah Ferro dan Vino, keluar dari pintu mobil menghampiri mereka berdua.
"Bagas?" sapa Vino.
"Vin? kau ada di sini juga?" Bagas balik bertanya.
Vino menganggukkan kepala, lalu mengenalkan Ferro pada Bagas.
"Ferro!" Ferro mengulurkan tangan.
"Bagas!" Bagas membalas jabat erat tangan Ferro.
Bagas dan Vino saling menatap tajam. Lalu Bagas mengalihkan pandangan pada Ferro.
"Rupanya pria ini yang di ceritakan abah, tadi pagi." Gumam Bagas dalam hati.
"Bagas, ayo kita pergi. Nanti aku di marahi abah." Ajak Cempaka mulai tak nyaman saat mendapatkan tatapan dari Ferro dan Vino.
"Vin, aku duluan." Bagas menepuk bahu Vino sesaat, lalu membukakan pintu mobil untuk Cempaka dan menutupnya kembali, setelah itu Bagas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Ferro dan Vino menepi, memperhatikan mobil milik Bagas melaju.
"Bagas ada di sini, pasti akan menyulitkanku mendekati Cempaka." Ucap Vino dalam hati.