
Pagi pagi buta, mang Asep, ambu sari, Lilis, Komeng dan Udin sudah bersiap siap berangkat ke Jakarta.
Masing masing membawa tas ransel berukuran besar, mereka berdiri di pinggir jalan raya menunggu bus datang.
Tak lama kemudian, bus menuju kota Jakarta berhenti tepat di depan mereka. Mang Asep dan yang lain masuk ke dalam bus tersebut dan memilih tempat duduk.
Selama lebih dari tiga jam, akhirnya mereka sampai di terminal Pulogadung. Mang Asep dan yang lain turun dari bus dan mereka hanya berdiri terpaku melihat sekitar terminal, terdapat banyak bus besar dan orang orang yang sedang berdiri dan ada juga yang duduk.
"Terus ini teh kemana lagi?" tanya Komeng pada Udin yang memegang alamat yang di berikan Bagas dan pak Polisi.
Udin melepaskan tas ranselnya lalu mencari secarik kertas yang ia simpan di dalam kertasnya, namun setelah di cari kertas berisi alamat tidak di temukan.
"Waduh, cilaka siah. Kaya nya ga ke bawa atau hilang," kata Udin panik.
"Na, ai kamu. Suka ngawur," sahut mang Asep ikut panik.
"Cari ynag bener, Din," timpal ambu sari.
Udin berkali kali memeriksa tasnya, namun kertas itu tetap tidak di temukan. Akhirnya Udin menuyerah dan mengatakan kalau kertas yang bersikan alamat itu lupa ia msukkan ke dalam tas.
__ADS_1
Mang Asep dan yang lainn terduduk lemas dan bingung, tidak tahu harus pergi kemana. Apalagi di kota jakarta mereka tidak memiliki sanak keluarga. Saat mereka tengah kebingungan, seorang pria bertato di legan dan dadanya datang menghanpiri mereka.
"Kalian mau pergi ke kota mana?' tanyanya membuat Mang Asep dan yang lain takut dan bingung harus menjawab apa.
"Anu, kami mau....?" ucap Komeng bingung.
"Nak, apa kamu orang jahat?" tanya Ambu Sari membuat pria bertato itu tertawa terbahak bahak.
"Apa saya kelihatan seperti orang jahat bu?" tanya pria itu balik.
Ambu sari tersenyum dan memberanikan diri untuk bicara lebih lanjut.
Pria bertato itu diam dan memperhatikan Ambu Sari dan yang lain membuat mereka ketakutan.
"Nama saya Jarwo, panggil saya Jarwo." kata pria bertato itu menyebut namanya sendiri.
Ambu Sari dan yang lain bernapas dengan lega, mereka pikir pria bertato itu orang jahat. Namun mang Asep tetap waspada terhadap Jarwo.
"Kebetulan rumah saya dekat daerah terminal, bagaimana kalau kalian beristirahat di tempat saya?" tawar Jarwo.
__ADS_1
Namun mang Asep menolaknya, ia tidak mempercayai Jarwo pria asing yang baru di kenalnya.
"Haturnuhun, kami bisa mencari penginapan." Tolak mang Asep.
Jarwo mengangguk anggukkan kepalanya memperhatikan pakaian dan barang bawaan yang di bawa mereka, pasti dari kampung pikir jarwo.
"Baiklah, kalau begitu cari saya di sini kalau bapak butuh bantuan. Kalau kalian mau mencari penginapn tinggal nyebrang jalan, itu di sana ada penginapan murah," tunjuk Jarwo ke arah seberang jaalan.
Mang Asep mengaaanggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada Jarwo, baginya mau penginapan murah atau mahal tidak masalah. Mang Asep memiliki banyak uang dan harta kekayaan di kampungnya dan di kenal dengan sebutan juragan kopi.
Setelah Jarwo pergi, mang Asep mengajak ambu Sari dan yang lain menuju ke penginapan sesuai petunjuk Jarwo. Mereka berjalaan bersama dan berdiri di tepi jalan memperhatikan mobil yang berseliweran dan tidak ada peluang untuk mereka menyeberang.
"Mataku jereng gara gara liat mobil ga ada habisnya," keluh Komeng.
"Gimana kita mau nyeberang," timpal Lilis.
Satu jam berlalu, mereka berdiri di tepi jallan dan terik matahari semakin terasa sangat panas membakar kulit mereka. Lilis berkaali kali menggaruk kepalanya hingga kerudung yang ia kenaka berantakan begitu juuga Ambu Sari dan mereka hampir putus asa.
Beruntung, seorang mahasiswi dari arah lain menghampiri dan mengajak mereka untuk menyeberang jalan menggunakan jembatan penyebrangaan khusus pejalan kaki.
__ADS_1