Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Penculikan


__ADS_3

Sesampainya di rumah mang Asep.


Mang Asep dan ambu Sari terkejut melihat kedatangan abah Birawa dan yang lain. Mereka berdua menyambut gembira kedatangan abah Birawa dan Bagas.


"Ayo silahkan duduk!" Mang Asep mempersilahkan mereka duduk.


Tiba tiba Lilis dan dua sahabatnya datang dan menawarkan diri untuk membantu mang Asep.


"Sok atuh Lis!" Kata ambu Sari senang dapat bantuan.


"Iya ambu!" Sahut Lilis.


"Ya sudah, ambu mau masuk dulu. Cempaka masih di kamarnya." Ambu Sari bergegas menuju kamar Cempaka.


Lilis, komeng dan Udin membantu mang Asep menyiapkan makanan.


Sementara ambu Sari berada di kamar Cempaka dan membujuknya supaya jangan menangis dan mau keluar menerima lamaran Bagas.


"Neng jangan nangis terus, ambu teh jadi bingung." Ucap ambu Sari.


Cempaka bangun lalu turun dari tempat tidur, duduk di kursi sambil mengusap air mata di pipinya.


"Kenapa nggak ambu saja yang menikah sama Bagas, atau abah yang gantiin cempaka." Jawabnya kesal.


Ambu Sari mengulum senyumnya lalu berjalan mendekati Cempaka. Menyisir rambutnya pelan.


"Jangan gitu neng...Bagas maunya sama kamu. Masa iya ambu yang gantiin." Goda ambu Sari.


"Tapi Cempaka tidak mau, ambu!" Sahut Cempaka, mengacak rambutnya sendiri saking kesalnya.


Ambu Sari diam tidak menimpali kata kata Cempaka lagi. Ia terus menyisir rambut Cempaka sampai selesai, lalu meminta putrinya untuk mengganti pakaian. Meski kesal dengan raut wajah cemberut, matanya merah berkaca. Cempaka memgikuti apa yang di perintahkan ibunya. Setelah selesai, mereka berdua keluar dari kamar.


"Nah itu Cempaka!" Kata mang Asep tersenyum lebar.


Ambu Sari membantu Cempaka duduk di kursi, kemudian ia duduk di sebelah putrinya.


Segala sesuatunya sudah siap. Abah Birawa mulai bicara serius, dan memulai acara lamarannya. Diantara semua yang hadir, hanya Cempaka yang terus menangis apalagi saat abah Birawa menentukan tanggal pernikahan.


Bagas menjadi tak enak hati, ingin rasanya menghentikan lamarannya. Apalagi melihat Cempaka yang terus menangis. Yang orang lain pikir, Cempaka menangis bahagia. Berbeda dengan yang ada di pikiran Bagas dan ketiga sahabatnya.


"Kalian tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun, semuanya biar aku yang mengaturnya." Kata abah Birawa di akhir kata.


Mang Asep dan Ambu Sari tersenyum bahagia. Di desa, memiliki calon suami seperti Bagas adalah impian semua gadis. Pria tampan, berpendidikan, mapan dan baik terhadap siapapun.


Namun tidak bagi Cempaka, hati dan pikirannya hanya tertuju pada Ferro.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Nanti aku kabarin segala sesuatunya." Kata abah Birawa.


"Baik bah!" Sahut mang Asep dan ambu Sari berbarengan.

__ADS_1


Acara lamaran selesai, mereka berpamitan. Di saat mereka bersalaman, Cempaka membisikkan sesuatu pada Bagas.


"Aku mau bicara sama kamu, tunggu di kebun kopi."


Bagas menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka kembali ke rumah masing masing, tapi Bagas langsung menuju kebun kopi milik mang Asep.


Di temani Lilis, Udin dan Komeng. Tiga kurcaci yang selalu menemani Cempaka, ikut ke kebun kopi.


Sesampainya di kebun kopi, tanpa basa basi Cempaka langsung berbicara pada inti masalahnya.


"Kamu kenapa tidak menolak perjodohan ini!" Ucap Cempaka dengan raut wajah kesal.


"Aku maunya menolak, tapi kamu tau sendiri bukan, abah kaya gimana orangnya," jawab Bagas santai meski ucapan Cempaka sangat menyakiti hatinya.


"Kamu itu laki laki, masa tidak punya pendirian dan pilihan sendiri? Ini bukan jaman siti nurbaya. Biarpun aku tinggal di desa tapi aku menolak perjodohan." Jelas Cempaka.


"Jujur, aku mencintaimu." Ujar Bagas.


Cempaka menatap tajam Bagas, ia sudah menduganya dari awal.


"Cempaka, apa aku egois menginginkanmu?" Tanya Bagas menggenggam tangan Cempaka, namun gadis itu menepisnya.


"Tapi aku cuma menganggap kamu teh sahabat." Timpal Cempaka.


"Terus, aku harus bagaimana?" Tanya Bagas.


"Batalkan!" Seru Cempaka lalu beranjak pergi dari hadapan Bagas.


Namun baru saja beberapa langkah, Bagas melihat beberapa pria menarik paksa tangan Cempaka lalu menyeretnya masuk ke dalam kebun kopi.


"Tolong!"


Bagas berlari mengejar mereka, Lilis dan yang lain melihat dari kejauhan ikut mengejar mereka. Namun Udin dan Komeng melarang.


"Lis, panggil mang Asep cepat!' Katanya.


Lilis mengangguk lalu memutar arah, berlari menuju rumah mang Asep.


Sementara bagas, Komeng dan Udin terus mengejar mereka dan akhirnya berhasil menghadang ke empat pria yang hendak memculik Cempaka.


"Lepaskan dia!" Seru Bagas menatap waspada ke arah mereka yang memakai penutup kepala dan wajahnya.


Mereka berempat tertawa lalu menghempaskan tubuh Cempaka.


Bagas, Udin dan Komeng menerjang mereka bersamaan. Bagas melawan dua pria sekaligus, sementara Udin dan Komeng masing masing melawan satu pria.


Komeng menarik sarung yang melilit di lehernya lalu di putar putar menjadi kecil, kemudian ia bentangkan.


"Ayo sini maju!" Tantangnya.

__ADS_1


Pria itu langsung menerjang perut Komeng, tapi Komeng berhasil berkelit dan menyabetkan sarungnya ke punggung pria tersebut.


"Bukk!!"


Namun pria itu tak kalah gesit, ia memukul pinggang Komeng hingga tersungkur ke tanah.


"Aduh siah!" Rutuk Komeng lalu berdiri.


"Meng, Udin, hati hati!" Pekik Cempaka berdiri di balik pohon kopi memperhatikan.


Udin yang melihat Komeng kewalahan akhirnya mebantunya dan saling kerjasama melawan dua pria sekaligus.


Sementara Bagas berhasil melumpuhkan salah satu pria, lalu melarikan diri. Tersisa satu pria itu, Bagas berhasil mengimbanginya.


Petarungan sengit terjadi di kebun kopi. Rumput rumput di sekitar mati dan layu terinjak mereka.


Beberapa menit kemudian Bagas berhasil melumpuhkan pria itu dan membantu Udin dan Komeng. Melihat Bagas membantunya, Komeng memilih duduk dan menyaksikan mereka bertarung.


Cempaka yang melihat Komeng hanya duduk, berjalan menghampirinya dan menepuk punggung komeng.


"Naha ari kamu Komeng, ayo cepat bantu!" Kata Cempaka.


Komeng menoleh ke arah Cempaka lalu berdiri seraya mengusap punggungnya.


"Capek atuh Cempaka, aku masih bujangan belum mau mati," jawabnya.


"Dasar kamu mah!" Rutuk Cempaka, lalu mengalihkan pandangannya pada Bagas.


"Hati hati!" Pekik Cempaka.


Bagas menoleh sesaat ke arah Cempaka, tak lama kemudian ia dan Udin berhasil melumpuhkan kedua pria itu. Namun sayang, salah satu dari mereka berhasil melarikan diri. Udin mencengkram kedua tangan pria yang berhasil di tangkap.


Bersamaan dengan Lilis, mang Asep dan abah Birawa datang ke kebun kopi bersama beberapa warga. Abah Birawa bertanya kepada pria yang berhasil di tangkap.


"Siapa kamu? Kenapa mau menculik calon menantuku?"


"Aku hanya di suruh Ferro!" Jawabnya.


Mang Asep dan yang lain terkejut mendengar pengakuan pria itu. Namun Cempaka sama sekali tidak percaya.


"Kamu bohong!" Pekiknya.


Pria itu hanya tertawa lalu menegaskan sekali lagi kalau yang menyuruhnya itu adalah Ferro.


Di saat mereka sedang berdebat dan mempercayai kata kata pria itu. Udin sedikit melonggarkan cengkramannya, hingga pria tersebut berhasil melarikan diri.


"Kamu lihat Cempaka, si bule bukan orang baik!" Kata mang Asep marah.


Cempaka tetap tidak percaya, ia berlari meninggalkan kebun kopi di susul Lilis dan dua sahabatnya yang lain.

__ADS_1


"Ferro harus di bawa ke balai desa." Kata abah Birawa.


__ADS_2