Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Main hakim sendiri


__ADS_3

Sepulang dari balai desa, Cempaka langsung pergi ke dapur. Mengambil singkong yang sudah di kukus dalam mangkok besar, lalu membawanya keluar dan duduk di kursi ruang tamu.


Cempaka mengunyah singkong dengan raut wajah cemberut, matanya merah berkaca kaca. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong.


Lilis mengerutkan dahi memperhatikan mulut Cempaka penuh dengan singkong, belum juga habis di telan sudah mengambil singkong yang baru lalu di kunyah lagi dan hampir berjatuhan karena kepenuhan.


"Emangnya kalau perempuan lagi galau, begitu ya?" Tanya Udin ikut memperhatikan Cempaka.


"Iya kali, tapi aku nggak begitu." Timpal Lilis.


Komeng yang sedari tadi diam, kebingungan tidak tahu harus bicara apa. Akhirnya membuka suara dan menemukan celah untuk membuat suasana menjadi hangat.


"Beda lah Lis, kalau kamu lagi galau pasti nyebur ke sungai." Kata Komeng.


Puk puk


Lilis memukul tangan Komeng.


"Kamu pikir aku, kerbau?"


"Ya kali!" Sahut Komeng di akhiri tertawa.


"Dasar nggak jelas!" Rutuk Lilis.


Komeng menyikut tangan Lilis, menunjuk ke arah Cempaka. Lilis menoleh ke arah Cempaka bersamaan dengan Udin. Mereka terdiam menundukkan kepalanya sambil berbisik.


"Kita harus cari cara untuk membebaskan pak bule." Kata Lilis pelan.


"Bagaimana caranya?" Tanya Udin dan Komeng.

__ADS_1


Lilis menggeleng pelan.


"Tidak tahu..."


"Ck!" Udin dan Komeng berdecak kesal, menatap horor ke arah Lilis.


Tiba tiba terdengar suara kerusuhan di luar. Lilis, Komeng, Udin bergegas keluar dari rumah, di ikuti mang Asep dan ambu Sari.


Nampak sejumlah warga di depan rumah mang Asep, termasuk orang tua sahabat Cempaka. Adiguna dan Rendi ada diantara para warga.


Orang tua Lilis, Komeng dan Udin. Masing masing menarik tangan anaknya supaya menjauh dari rumah mang Asep dan tidak di perbolehkan berteman dengan Cempaka lagi.


"Mak, Cempaka nggak salah. Pak bule juga tidak salah. Jelas jelas pak Adiguna yang salah!" Protes Lilis tidak setuju.


"Sst! Bisa diem gak?!" Bentak orang tua Lilis. "Ayo pulang!"


"Mang Asep, sebaiknya Cempaka di adili, karena sudah mencemarkan desa kita!" Teriak salah satu warga yang sudah kena suap Adiguna.


"Setuju!" Teriak warga lainnya.


"Apa apaan ini? Belum tentu anak saya bersalah. Kalian ini kenapa?" Mang Asep tetap membela putrinya meski kesal.


"Halah, Cempaka itu pura pura alim saja!" Kata warga


"Usiirrr!!" Seru mereka serempak.


"Tunggu!"


Warga dan keluarga mang Asep menoleh ke arah Pak Kades, Birawa dan Adrian termasuk Bagas.

__ADS_1


"Kalian tidak bisa bertindak sesuka hati dan main hakim sendiri. Negara kita, Negara hukum!" Pak Kades mengingatkan dan mencegah terjadinya kerusuhan.


"Apa yang dikatakan pak Kades benar, saya bisa melaporkan pada Polisi. Dan saya akan membuktikan kalau sahabat saya tidak bersalah!" Timpal Adrian.


"Huuu!!" Warga mencemooh seraya melempar kerikil ke arah Adrian. Beruntung hanya mengenai lengannya saja.


"Tenang!" Pak Kades kembali menenangkan warga.


"Kami tidak ingin melihat keluarga mang Asep ada di desa ini, usir!" Teriak mereka semakin garang.


"Tenaaaangg!!" Pak Kades berteriak lantang. "Tidak ada satupun yang boleh mengusir mang Asep!"


"Kalian tidak perlu khawatir, Bagas akan tetap menikahi putri mang Asep!" Timpal Abah Birawa. "Kalau kalian masih menaruh rasa hormat padaku, jangan main hakim sendiri!"


"Satu hal lagi, saya akan mengusut tuntas masalah ini. Biar pihak berwajib yang menentukan siapa yang bersalah!" Bagas Menimpali.


"Usiirr!!" Teriak warga tanpa memperdulikan abah Birawa yang selama ini mereka hormati.


Adiguna dan Rendi tersenyum puas yang berada di barisan belakang.


"Saya akan bersaksi!" Seru Lilis, Komeng dan Udin.


"Kami tidak tersesat di hutan, tapi Adiguna yang sudah mencelakai kami!" Kata mereka lagi.


Namun warga tidak perduli dengan ucapan ketiga sahabat Cempaka. Mereka tetap menginginkan mang Aseo dan keluarganya di usir dari kampung tersebut. Pak Kades berusaha untuk menenangkan, begitu juga Bagas.


Sementara ambu Sari dan Cempaka, berdiri ketakutan di belakang mang Asep.


"Bagaimana kalau mereka benar benar marah." Gumam ambu Sari.

__ADS_1


__ADS_2