Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Terjebak di hutan


__ADS_3

Ferro diam merenungkan permintaan Cempaka untuk membawanya pergi sebelum pernikahan terjadi. Sementara sisa waktunya untuk tinggal di Indonesia hanya tersisa satu minggu lagi.


"Bisa saja aku membawa Cempaka pergi ke tempat asalku. Tapi bagaimana caranya? Tentu saja itu sangat sulit." Gumam Ferro pelan.


"Serius?" Tanya Adrian yang sedari tadi memperhatikan.


Ferro menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat mencintai Cempaka."


Adrian terdiam, sebelumnya ia tidak pernah melihat Ferro dekat dengan seorang wanita. Biasanya hanya sekedar mempermainkan saja. Namun, melihat kesungguhan Ferro, Adrian merubah penilaiannya terhadap Ferro.


"Aku akan membantumu." Kata Adrian.


"Aku percaya padamu,' jawab Ferro.


"Bagaimana dengan Nyonya Grey?" Tanya Adrian.


Ferro tersenyum sinis mendengar nama Grey.


"Tidak, aku tidak membutuhkan bantuannya." Tolak Ferro.


Adrian kembali terdiam.


"Situasinya sulit." Gumam Adrian.


Ferro melirik sesaat ke arah Adrian. Ia pun berpikir sama dengannya. Namun Ferro tidak mau menyerah begitu saja, dengan yakin ia menyemangati dirinya sendiri.


"Pasti ada cara lain." Kata Ferro.


"Bagaimana caranya?" Tanya Adrian.


"Akan aku pikirkan baik baik," jawab Ferro singkat, setelah bicara seperti itu. Ferro beranjak dari kursi, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


Sementara di tempat lain.


Diam diam Sofia yang merasa sakit hati terhadap penolakan bagas, bekerjasama dengan Adiguna dan Rendi untuk menghancurkan kerukunan desa itu dan menghancurkan hidup Cempaka.


Mereka tengah berkumpul di sebuah rumah terpencil di tepi hutan untuk membicarakan rencana jahat mereka.


Di awali dengan Sofia yang ingin melihat Cempaka gagal menikah dengan Bagas dan membuat gadis itu harus menanggung malu seumur hidup. Maka Sofia berjanji kepada Adiguna dan Rendi untuk membantu mereka dalam hal apapun.


Keinginan Adiguna cuma satu, menguasai warga dan perkebunan kopi milik mang Asep dan warga sekitar. Sementara Rendi memiliki dendam pribadi terhadap Birawa dan mang Asep karena sudah menjebloskannya ke penjara akibat menghamili salah satu warga pasir reungit tanpa mau bertanggung jawab dan meninggalkannya saat akan melaksanakan akad nikah.

__ADS_1


Di dalam rumah kecil itu mereka menyusun rencana dari A sampai Z. Setelah selesai, mereka mengumpulkan anak buahnya Adiguna lalu memberikan tugas masing masing.


"Kau temui mbah Karsim." Perintah Adiguna kepada salah satu anak buahnya.


Mbah Karsim terkenal di desa itu sebagai dukun santet. Selama ini mbah Karsim tinggal di tengah hutan setelah warga pasir rengit mengusirnya. Tidak ada yang tahu, kalau mbah Karsim masih hidup, sepengetahuan warga. Siapapun yang masuk ke dalam hutan gunung salak tidak akan pernah kembali pulang. Namun, nyatanya mbah Karsim masih hidup karena di tolong oleh Adiguna.


"Baik bos!' Sahut anak buahnya lalu ia undur diri untuk pergi menemui mbah Karsim dan menciptakan teror ketakutan di desa pasir rengit.


Krekkk


Puk puk puk


Terdengar suara ranting terinjak dan langkah kaki terburu buru menjauh. Adiguna dengan sigap meminta Rendi untuk mengejar orang yang sudah mendengarkan percakapan mereka.


Di bantu anak buahnya, Adiguna dan Rendi berhasil menangkap tiga kurcaci penjaga Cempaka yang tak lain adalah Lilis, Udin dan Komeng yang sedang mencari kayu bakar.


Adiguna menatap tajam ke arah tiga sahabat Cempaka yang berhasil di ikat oleh anak buahnya.


"Kalian memang harus di singkirkan. Gara gara kalian, rencanaku selalu gagal!" Ucap Adiguna.


"Ih nggak punya malu, tua tua bukannya tobat malah menjadi!" Cibir Lilis.


"Pak tua! Di mana mana kejahatan gak bakal langgeng!" Timpal Udin dan Komeng.


"Kamu teteh gelis." Lilis menatap ke arah Sofia. "Kalau den Bagas tau, pasti kamu di usir dari desa ini!"


"Jangan buang buang waktu, singkirkan saja tiga orang tak berguna itu!" Perintah Rendi.


Adiguna mengangguk setuju, kemudia menyuruh anak buahnya untuk membuang ketiga sahabat Cempaka ke dalam hutan gunung salak.


"Ayo ikut!" Perintah salah satu anak buah Adiguna, menyeret paksa ke tiga sahabat Cempaka.


Mau tidak mau, mereka mengikuti langkah anak buah Adiguna masuk ke dalam hutan.


Hutan yang lebat, jalannya yang terjal dan di penuhi semak belukar membuat anak buah Adiguna kesulitan meski mereka sudah paham dengan medan gunung tersebut.


Sementara Lilis, Udin dan Komeng sepanjang jalan terus komat kamit merapalkan doa suci dan meminta keselamatan. Memohon izin pada para penunggu hutan untuk berbaik hati memberikan mereka jalan keluar.


Semakin jauh mereka berjalan ke dalam hutan. Kabut tebal semakin menyelimuti dan menghalangi jarak pandang mata.


Udara yang dingin, suara burung dan binatang lainnya semakin menambah suasana menyeramkan dan aroma mistis terasa.


Nyamuk di hutan terus menghinggapi tubuh anak buah Adiguna, Lilis dan yang lain. Sesekali Udin dan Komeng terjatuh lalu bangun lagi dan coba mengusir nyamuk yang terus menggigit.

__ADS_1


"Anjirr sakit euy!" Keluh Komeng.


"Dingin!" Timpal Lilis.


"Nyanyi biar nggak dingin." Kata Udin.


"Berisik!" Bentak salah satu anak buah Adiguna.


Mereka bertiga kembali terdiam dan melanjutkan langkahnya. Semakin dalam ke hutan, satu persatu anak buah Adiguna menghilang.


Lilis dan yang lain baru menyadari kalau anak buah Adiguna sudah menghilang semua.


"Aih pada kemana mereka?" Tanya Lilis mulai ketakutan.


Udin dan Komeng memperhatikan sekitar, namun ia tidak melihat anak buah Adiguna satupun.


"Weh gimana ini?" Tanya Udin.


"Tenang euy, tenang." Kata Komeng lalu menyuruh mereka berkumpul saling membelakangi dan membuka ikatan tali di tangan mereka. Dengan susah payah, akhirnya ikatan tangan mereka berhasil terlepas. Namun masalahnya mereka kehilangan arah jalan pulang.


"Kemana jalannya?" Tanya Lilis memegang erat tangan Komeng dan Udin.


"Lihat itu!" Udin menunjuk ke depan. Ia melihat ada kunang kunang bergerombol memberikan penerangan di jalan yang berkabut.


"Kata orang tua, itu bisa jadi petunjuk jalan pulang. Ayo ikuti!" Kata Udin.


Lilis dan Komeng akhirnya mengikuti langkah Udin yang berada di depan mengikuti kunang kunang.


Udin dan yang lain semakin lama semakin kedinginan dan kelelahan. Kemudian Lilis meminta kedua temannya untuk beristirahat.


Setelah mereka cukup betistirahat, tiba tiba Lilis berteriak kegirangan saat melihat jalan setapak menuju jalan desa lain. Mereka bertiga bergegas berlarian menuju jalan setapak tersebut dan mereka terkejut melihat jalan raya dan ada banyak angkutan umum.


"Di mana ini?" Tanya Komeng.


"Ga tau Meng!" Sahut Udin.


Lilis berlari kecil menuju tepi jalan raya di ikuti Komeng dan Udin mendekati salah satu wanita yang berdiri di tepi jalan.


"Teh, saya mau tanya. Ini desa apa namanya?' Kata Lilis bertanya.


Wanita itu menoleh ke arah Lilis dan dua sahabatnya. Melihat pakaian mereka compang camping karena terkena semak dan ranting. Membuat wanita itu mengira kalau mereka bertiga orang gila. Seketika wanita itu berlari kencang meninggalkan Lilis dan sahabatnya.


"Beut lari?" Ucap Lilis bengong.

__ADS_1


"Nggak lari gimana, liat baju kamu!" Tunjuk Udin.


Lilis baru sadar ternyata pakaiannya kotor dan robek. Sama halnya Udin dan Komrng, mereka bertiga akhirnya tertawa terbahak bahak mentertawakan diri mereka sendiri.


__ADS_2