Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Perjodohan


__ADS_3

"Sampurasun!"


"Neng, bukain pintu ada tamu!" perintah ambu Sari yang berada di dapur membuat teh.


"Ya ambu!" sahut Cempaka dari dalam kamar, lalu bergegas keluar dari dalam kamar membukakan pintu.


"Eh abah!" Seru Cempaka melihat Abah Birawa berdiri di depan pintu.


"Abahmu ada?" tanya Birawa.


"Ada, abah. Sok masuk ke dalam." Cempaka mempersilahkan Birawa masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi kayu.


Setelah mempersilahkan Birawa duduk di kursi, Cempaka berjalan ke dapur menemui ambu Sari.


Cempaka membuka pintu dapur dan berkata pada ibuny. "Ambu, ada abah Birawa."


Ambu Sari berdiri, lalu menghampiri Cempaka. "Buatkan teh, jangan lupa kukus singkongnya."


Cempaka menganggukkan kepala, lalu menggantikan ambu Sari di dapur. Sementara ambu Sari memanggil suaminya untuk menemui abah Birawa.


"Bah..maaf ketiduran." Bah Asep, menyalami Birawa lalu duduk di kursi bersebelahan dengan ambu Sari.


Birawa menganggukkan kepala lalu memulai pembicaraan serius tanpa basa basi.


"Begini Sep, abah datang ke sini mau membicarakan soal anak anak kita."


Bah Asep mengangguk, mendengarkan dengan seksama. Begitu juga dengan ambu Sari, meski di awal belum paham namun detik berikutnya ia mengerti maksud Birawa.


"Abah mau kita besanan, kalian setuju apa tidak?" tanya Birawa.


"Saya setuju bah!" sahut bah Asep mendahului tanpa bertanya terlebih dahulu kepada putrinya. Untuk ukuran Bagas menjadi menantu mereka, adalah hal yang membanggakan. Apalagi Bagas putra tetua di kampung tersebut, mapan dan wajahnya lumayan ganteng.


"Bagaimana Sari?" tanya Birawa menatap ambu Sari.


"Saya mah, gimana si abah saja." Ambu Sari tersenyum menoleh ke arah bah Asep.


"Kalau begitu, kita resmi besanan." Birawa mengulurkan tangan ke arah bah Asep.


Bah Asep membalas uluran tangan Birawa.


"Baik bah!" sahut Asep.


"Soal tanggal kapan menikah, biar itu jadi urisan abah. Kalian terima beres!" jelas Birawa.


"Nuhun pisan bah!" sahut Asep dan Sari serempak.


Sementara Cempaka yang berada di dapur, hendak keluar membawa teh dan singkong, mengurungkan niatnya. Ia duduk di dipan dengan mata melotot.

__ADS_1


"Alah si abah, bisa bisa nya nerima perjodohan tanpa bertanya dulu.." ucap Cempaka pelan.


"Neng mana teh nya!" panggil ambu Sari.


"Nya ambu!" sahut Cempaka lalu ia beranjak dari dipan, membawa nampan yang berisi tiga teh panas dan sepiring kukus singkong keluar dari dapur. Kemudian nampan ia letakkan di atas meja.


"Mangga(silahkan) abah." Tawar Cempaka lalu duduk di kursi menundukkan kepalanya.


"Neng, kamu di lamar sama Abah Birawa buat calon istri Bagas." Kata ambu Sari tersenyum mengembang menatap Cempaka yang menundukkan kepala.


Cempaka tengadahkan wajahnya, menatap sedih ambu Sari. Raut wajah ambu Sari berubah diam saat melihat wajah putrinya terlihat sedih.


"Jangan malu malu, neng. Wajar, kamu sudah besar." Timpal Abah Birawa.


Cempaka kembali menundukkan kepalanya, bukan ia malu. Tetapi Cempaka tidak setuju dengan perjodohan itu.


"Untuk selanjutnya, besok abah kabarin lagi." Birawa menjelaskan, lalu ia berpamitan pulang setelah berbincang bincang soal kopi.


Sepeninggal Birawa, abah Asep dan Ambu Sari bertanya kepada Cempaka mengapa ia terlihat tidak senang.


"Atuh abah, sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. Biarpun kita hidup di kampung, tapi nggak harus ngejodohin." Tolak Cempaka memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Bagas itu anak baik, mapan, sekeyakinan, sopan. Kamu mau cari yang kaya gimana lagi, Cempaka??!" tanya bah Asep sedikit menaikkan nada suaranya.


"Aku tau abah, tapi Bagas sudah kuanggap kakak. Lagipula aku nggak cinta sama Bagas." Ungkap Cempaka tidak berani mengangkat wajahnya.


"Atuh lain lagi abah!" sahut Cempaka.


"Neng, jangan nolak jodoh. Pamali, ari kamu mau yang model gimana?" tanya bah Asep lagi.


Cempaka tidak menjawab, ia berdiri lalu beranhak pergi ke kamar pribadinya.


"Si eneng ngambek bah!" kata ambu Sari.


"Biarin, biasa itu mah. Nanti juga biasa." Bah Asep tidak mau ambil pusing. "Bagas sudag ketahuan, bibit bebet bobot nya."


Ambu Sari terdiam, ia tidak dapat membantah perkataan suaminya. Ambu Sari memilih menenangkan putrinya di kamar.


****


Bagas yang sudah tahu lamaran abahnya di terima oleh kedua orang tua Cempaka. Ia senang dan bermaksud menemui Cempaka di sawah.


Di saung, di tengah tengah persawahan. Bagas duduk bersila menghadap Cempaka yang hanya menundukkan kepala.


"Cempaka, kamu tidak suka dengan perjodohan ini?" tanya Bagas.


Cempaka tengadahkan wajahnya menatap Bagas.

__ADS_1


"Coba kamu pikir, selama ini aku sudah anggap kamu kakak.." jawab Cempaka.


"Kakak?" tanya Bagas mengulang.


Cempaka menganggukkan kepalanya. "Bagaimana rasanya menikah tanpa cinta? aku sayang sama kamu, tapi sebatas kakak. Kamu tau bukan?" ungkap Cempaka, menatap tajam Bagas.


Bagas terdiam menundukkan kepala, ia tidak menyangka kalau Cempaka hanya menganggapnya seorang kakak. Selama ini, mereka bersahabat dari kecil, meski mereka terpisah jauh. Namun Cempaka selalu mengirim surat dan menyemangati Bagas hingga sukses.


"Cempaka."


"Ya!" sahut Cempaka.


"Selama ini? perhatian kamu, apa?" tanya Bagas.


"Bagas, seharusnya kamu dari awal bertanya. Bagaimana perasaan aku selama ini kek kamu? bukannya kamu biarkan, hingga terjadi salah paham antara kita." Ungkap Cempaka.


"Aku paham Cempaka!" Bagas turun dari dipan saung, lalu melangkahkan kakinya menyusuri pematang sawah.


"Bagas!" panggil Cempaka, lalu ia turun dan bergegas menyusul Bagas.


"Bagas tunggu dulu!" seru Cempaka hingga mengundang perhatian beberapa warga yang berada di sawah.


"Bagas!"


Namun Bagas terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Cempaka. Di ujung jalan, sebuah mobil menepi. Bagas menghentikan langkahnya, menatap seorang wanita cantik dan elegan keluar dari dalam mobil. Mengibaskan rambutnya, melambaikan tangan pada Bagas.


"Sofia?!" ucap Bagas.


"Bagas!" seru wanita yang bernama Sofia.


Bagas berjalan menghampiri Sofia, sementara Cempaka berdiri mematung memperhatikan Sofia mencium pipi kiri dan pipi kanan Bagas. Cempaka memalingkan wajahnya lalu balik badan. Kembali melangkahkan kakinya kembali menuju saung.


Bagas menoleh ke arah Cempaka. "Cempaka, ucapanmu menyakiti hatiku."


"Bagas, kau lihat apa?" tanya Sofia mengibaskan tangannya.


Bagas mengalihkan pandangannya ke arah Sofia. "Ngapain kamu datang ke sini?" tanya Bagas.


"Aku kangen, jadinya aku datang ke sini. Kata ayahmu, kau ada di sini." Jelas Sofia menjelaskan mengapa ia sampai di desa itu.


"Sudahlah, sebaiknya kau kembali ke Jakarta." Bagas menarik tangan Sofia, lalu membuka pintu mobil.


"Aku tidak mau!" Tolak Sofia, menepis tangan Bagas.


"Kau di sini mau apa?" tanya Bagas.


"Aku pulang, kalau kau ikut pulang ke Jakarta bersamaku."

__ADS_1


Bagas menarik napas panjang, sesaat ia terdiam. Kemudian Bagas mengajak Sofia ke rumahnya.


__ADS_2