
Sementara itu Lilis dan dua temannya berhasil di tolong salah satu warga gunung Sindur. Mereka di bawa kerumahnya, di beri pakaian, tumpangan tidur dan makan.
"Kalian berasal dari kota mana?" Tanya bu Sumi.
"Kami dari desa pasir rengit." Kata Lilis menjelaskan.
"Oh pasir rengit dekat gunung salak?" Jawab Bu Sumi.
Lilis menganggukkan kepalanya. Ia menceritakan bagaimana mereka bisa tersesat di hutan dan berhasil melarikan diri.
"Bu, boleh tidak? Kami minta uang buat ongkos pulang?" Kata Komeng.
"Boleh, nanti saya antarkan kalian ke terminal." Kata bu Sumi.
"Makasih bu!" Sahut mereka serempak.
"Sekarang kaliam istirahat. Nanti pagi pagi sekali saya antarkan." Kata bu Sumi.
Lilis mengangguk, lalu mereka semua beristirahat karena hari sudah malam.
Namun Lilis tidak dapat memejamkan mata. Ia teringat dengan Cempaka dan membuatnya khawatir.
"Sama Lis, aku juga memikirkan Cempaka dan pak bule." Timpal Komeng.
"Semoga tidak terjadi apa apa." Udin menimpali.
"Ayo sana kamu tidur!" Perintah Komeng pada Lilis.
"Lihat saja si Adiguna. Biar tau rasa!" Pekik Lilis marah.
"Hus, sudah malam jangan berisik!" Kata Udin.
Lilis beranjak dari kamar Udin lalu beristirahat di kamarnya.
Ke-esokan paginya, Lilis dan yang lain sudah tidak sabar untuk pulang. Tak lama kemudian bu Sumi sudah siap mengantarkan mereka sampai terminal.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di terminal. Lilis dan temannya mengucapkan terima kasih pada bu Sumi kemudian mereka naik bis.
__ADS_1
Di perjalanan, mereka tidak berhenti bicara. Untuk pertama kalinya mereka melihat bis secara langsung dan pemandangan di kota.
"Lihat! Tunjuk Lilis ke arah gedung tinggi.
Udin dan Komeng menoleh kearah petunjuk Lilis. Kemudian Komeng menepis tangan Lilis.
"Jangan malu maluin!" Kata Komeng.
Lilis terdiam, menoleh ke arah Udin yang mentertawakan. Sepanjang jalan mereka bercanda dan membanding bandingkan hidup di kota dan di desanya.
Setelah melewati tiga jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di sebuah pasar, ketiga turun dari bis Kemudian mereka naik angkutan umum untuk sampai di desa pasir rengit.
Baru saja beberapa hari meninggalkan desa. Mereka sudah sangat rindu dengan desanya seperti sudah bertahun tahun lamanya.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di perbatasan. Ketiganya turun keluat dari angkutan umum lalu berjalan menuju desa pasir rengit.
Sesampainya di perbatasan desa, mereka berpas pasan dengan tiga anak perempuan sedang bermain. Mereka terkejut melihat Lilis dan yang lain. Kemudian ketiga anak perempuan itu berlari ke tengah desa untuk memberitahu para warga.
Sesampainya Lilis di rumah, mereka di sambut isak tangis dan pelukan masing masing orang tua. Namun mereka bukannya ikut merasa sedih, tapi yang di pertanyakan adalah Cempaka.
Orang tua lilis memberitahu apa yang terjadi di desa itu selama mereka tidak ada. Lilis dan dua temannya saling pandang sesaat.
"Ke pengadilan." Kata ibunya.
"Ayo kita ke sana!" Seru Komeng.
Lilis dan dua temannya berlari menuju halaman belakang. Lilis mengambil sepeda lalu naik.
"Ayo cepat!" Kata Lilis meminta Komeng dan Udin naik di belakang.
Namun tempatnya tidak muat, akhirnya Komeng dan Udin berdiri berdempetan supaya muat di sepeda milik Lilis.
Namun baru saja beberapa meter, sepeda Lilis hilang keseimbangan. Sepeda itu meliuk liuk lalu jatuh ke sawah yang sudah di bajak.
"Byurrr!!
Ketiganya jatuh ke dalam sawah, tubuh mereka di penuhi dengan lumpur.
__ADS_1
Lilis dan dua temannya tertawa terbahak bahak lalu ketiganya lari ke sungai tak jauh dari sawah tersebut.
"Byurrr!"
Ketiganya asik bermain air sampai lupa dengan Cempaka.
Tak lama kemudian mereka baru sadar karena Lilis mengingatkan. Lalu mereka bertiga keluar dari sungai masing masing berlari ke rumahnya dan meninggalkan sepeda Lilis.
Tak lama kemudian mereka sudah selesai mengganti pakaia. Mereka memilih untuk menyusul Cempaka dari pada harus menjelaskan apa yang terjadi
Mang Soleh yang mengetahui Lilis dan temannya masih hidup, mulai panik dan melaporkan pada Adiguna.
Sementara Lilis dan dua temannya pergi ke pengadilan di bantu ketua RT.
Sesampainya mereka di depan pengadilan. Ternyata mereka sudah terlambat, pengadilan sudah memutuskan bahwa Ferro bersalah.
Lilis memeluk Cempaka dengan erat, dan berusaha untuk menenangkannya.
"Kalian percaya padaku bukan?" Tanya Cempaka di sertai isak tangis.
Lilis mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Ia menoleh ke arah mang Asep dan ambu Sari.
"Ambu, Abah, kalian sudah salah paham. Kalian sudah terhasut fitnah yang diciptakan adiguna.' Kata Komeng dan Udin.
Ambu Sari dan mang Asep saling pandang sesaat.
"Apa? Abah kurang paham.' Kata mang Asep.
"Lilis? Kalian? Masih hidup?" Sapa Bagas yang baru saja datang menghampiri.
"Ceritanya panjang Den, yang pasti pak bule tidak bersalah!" Timpal Udin.
Bagas terdiam, lalu mengajak mereka pulang dan langsung mengumpulkan warga di balai desa.
Sesampainya di balai desa, hanya sebagian warga yang mau ikut. Tapi sebagian warga yang sudah di manjakan dengan uang oleh Adiguna memilih untuk tidak datang ke balai desa meski mereka tahu kebenarannya.
Di balai desa, di hadiri Camat dan perangkat desa lainnya. Lilis dengan lantang menjelaskan bahwa Fero tidak bersalah. Dan mereka mengatakan yang sebenarnya kalau dalang di balik ini semua adalah Adiguna. Namun ucapan mereka masih bisa di percaya warga?
__ADS_1
Komen dan Udin membenarkan ucapan Lilis dan memberi kesaksian. Namun hanya beberapa yang percaya. Menurut warga, selevel Adiguna tidak mungkin melakukan hal kotor di desa itu.