
Di keheningan malam.
"Tolooooong!!"
"Tolooong!!"
Terdengar suara seorang perempuan dari kejauhan minta tolong. Udin, Komeng yang berada di pos ronda terkejut. Mereka berdua turun dari dipan menatap ke arah ujung jalan yang sepi dan gelap.
"Kamu barusan denger gak?" tanya Udin matanya menatap tajam ke ujung jalan.
"Iya, aku juga denger orang minta tolong. Tapi mana orangna?" timpal Komeng memperhatikan sekitar.
"Duarrr!!!"
"Setaaannn!!" Udin dan Komeng berteriak saat punggung mereka di tepuk oleh mang Yana. Balik badan saling berpelukan.
"Eleh eleh si borokokok!!" rutuk mang Yana. "Heh ini teh saya!"
Udin membuka matanya sebelah, lalu melepaskan pelukannya.
"Gening mang Yana, Meng!" seru Udin mengusap dadanya lega.
"Kabiasaan mang Yana, gimana kalau saya mati ketakutan?" Komeng mengusap wajahnya pelan.
"Masa jagoan kampung takut sama setan!" Mang Yana duduk di dipan, kedua kakinya naik ke atas duduk bersila.
"Lain kitu mang, tadi ada suara perempuan minta tolong." Kata Udin di benarkan Komeng dengan anggukkan.
"Alah paling juga perasaan kalian saja yang penakut." Mang Yana tidak percaya dengan ucapan Udin.
"Serius mang!" Komeng meyakinkan, namun mang Yana tetap tidak percaya. Namun detik berikutnya suara minta tolong terdengar lagi.
"Toloongg!!"
"Tah mang, ada lagi suara minta tolong." Ucap Komeng menajamkan telinganya, di ikuti Udin dan mang Yana.
"Alah siah, bener itu suara minta tolong." Kata mang Yana lalu turun dari dipan, matanya melotot ke arah sumber suara.
"I, i, tu siapa mang?" tunjuk Udin ke arah ujung jalan. Nampak seseorang berjalan terseok seok menghampiri.
"Alah jangan jangan kuntilanak!" seru Komeng, tangannya merangkul bahu Udin.
"Cicing atuh (diem dong) borokokok!" seru mang Yana, sarungnya di tarik Komeng hingga mau melorot.
__ADS_1
"Tolonggg!!"
Seseorang itu semakin lama semakin dekat, lalu jatuh pingsan di hadapan mereka.
"Ceu Odah!!" ucap mereka serempak.
"Ceu, kenapa ceu!" mang Yana jongkok di hadapan ceu Odah, tidak berani menyentuhnya sekedar untuk membangunkannya.
"Meng kasih tau warga buruan!" perintah Udin, lalu ia ikut jongkok di samping mang Yana.
Komeng mengambil pentungan sebagai tanda bahaya.
"Tronk!!!"
Pentungan berkali kali di pukul. Tak lama, satu persatu warga berdatangan termasuk ketua rt dan Bah Asep.
"Ada apa ini teh?" tanya pak Rt yang bernama Kosasih.
"Tidak tahu pak Rt!" sahut Udin lalu menceritakan kronologinya kepada Kosasih dan warga.
"Ada apa?" tanya seorang wanita yang bernama Karsih.
"Nah, kebetulan ada ceu Karsih!" kata Bah Asep.
"Angkat Meng!" kata Kosasih.
Komeng dan yang lain mengangkat tubuh ceu Odah ke atas dipan. Sementara warga lainnya memberikan air dan jampi jampi supaya ceu Odah cepat sadar.
Tak lama kemudian ceu Odah membuka matanya, lalu bangun dan berteriak histeris.
"Kolor hejooo (kolor ijo)!!" pekiknya menutup wajahnya.
"Aeh, kolor hejo?" ucap bah Asep.
"Istigfar ceu!" Kosasih mengarahkan ceu Odah supaya eling.
"Ada apa ceu, sok cerita." Ujar ceu Karsih duduk di tepi dipan menatap raut wajah ceu Odah terlihat sangat ketakutan.
"Sok di minum dulu airna, tenangkeun tarik napas!" Kosasih menyerahkan satu cangkir besar air teh.
Ceu Odah mengambil cangkir di tangan warga, lalu meminumnya sampai air teh itu membasahi leher dan pakaiannya yang sobek sobek. Setelah itu cangkir teh di berikan pada salah satu warga.
"Tadi rumah saya di datangin kolor ijo." Ceu Odah mengungkapkan awal kejadian sosok kolor ijo mendatangi rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya hendak melakukan hal yang tidak senonoh. Sementara Odah, tinggal sendiri di rumahnya.
__ADS_1
"Kolor ijo..." ucap bah Asep dan Kosasih.
"Aneh!" sela mang Yana.
"Iya benar!" sahut warga serempak.
"Sekarang desa kita sudah tidak aman!" kata warga lagi.
Kosasih balik badan, mengangkat kedua tangannya menenangkan warga yang mulai resah.
"Tenang! tenang!" kata Kosasih. "Jangan terburu buru, kita belum tahu apa yang terjadi."
"Benar kata pak Rt. Kalau kita takut, itu akan merugikan kita juga!" bah Asep membenarkan ucapan Kosasih.
"Toloooong!!"
"Alah siah, ada lagi yang minta tolong!" seru Komeng.
Semua warga menoleh ke arah semak semak yang bergoyang tak jauh dari pos ronda.
"Ada apa lagi?" gumam bah Asep.
"Tolooong!!"
"Buk!"
Seorang wanita berlari dari arah semak semak menghampiri warga lalu jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.
"Komeng! peringatkan warga untuk waspada!" perintah Kosasih.
"Siap pak rt!" sahut Komeng lalu berlari sambil membunyikan pentungan sebagai tanda bahaya.
Sementara bah Asep dan yang lain mencoba menyadarkan salah satu warga yang bernasib sama seperti ceu Odah.
"Ada apa dengan desa kita, pak rt?!" tanya warga mulai panik.
"Tenang! tenang!" Kosasih kembali betusaha menenangkan warga. Ada juga sebagian warga kembali ke rumahnya untuk menjaga keluarganya.
"Ceu Odah, ceu ntin, kalian berdua ikut ceu Karsih. Sementara kalian tidur di rumahnya. Biar Udin sama mang Yana yang berjaga. Dan yang lain, kalian tetao waspada di rumah masing masing!" pesan Kosasih.
"Siap pak Rt!" sahut mereka serempak.
Ketiga wanita itu pergi ke rumah Karsih, di antar Udin dan mang Yana. Semua warga kembali pulang ke rumah sambil berjaga jaga. Bah Asep dan pak Rt, berjalan bersama menyusul Komeng.
__ADS_1