Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Pembagian ponsel


__ADS_3

Isu demi isu di hembuskan, teror terus mereka lancarkan ke penduduk desa pasir reungit. Namun kekompakkan warga tersebut dapat mengatasi setiap teror yang gencar di lakukan Adhiguna dan anak buahnya.


Hingga suatu hari, Adhiguna kedatangan putranya yang seorang CEO di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Tentu saja kedatangannya memberikan ide lain untuk menaklukkan warga pasir reungit supaya menjual perkebunan kopinya dengan harga yang sangat murah.


Adhiguna, di bantu putranya yang bernama Vino Sabastian bersama Ferro mulai mendekati warga dengan cara lain. Mereka bekerjasama dengan kelurahan setempat untuk memberikan penyuluhan mengenai cara yang tepat dan efisien untuk memasarkan kopi mereka dengan cara mengenalkan mereka pada teknologi yang selama ini tidak mereka ketahui karena ada larangan dari Abah Birawa.


Pagi ini, semua warga di minta berkumpul di balai desa. Warga setempat tidak menolak untuk datang, karena atas perintah Lurah setempat. Satu persatu warga mulai berdatangan ke balai desa.


Di jalan setapak, nampak Cempaka dan Lilis juga Komeng. Berjalan bersama menuju balai desa. Cempaka mewakili bah Asep yang tidak bisa hadir karena hari ini sedang panen kopi.


"Ada bagi bagi sembako apa ya?" tanya Lilis.


"Ah kamu mah sembako we yang di arepin." Timpal Komeng.


"Terus apa atuh?" sela Cempaka menoleh ke arah Komeng yang menghentikan langkahnya tepat di depan sawah, padinya mulai menguning. Komeng mengambil kerikil lalu melemparkannya ke arah segerombolan burung kecil pemakan padi.


"Biarin atuh Komeng, burungnya juga nggak bawa karung." Kata Cempaka.


"Bukan begitu, kalau di makan terus terusan pasti habis juga. Hayoh, bener kan?" Komeng menoleh ke arah Cempaka.


"Pukk!"


Cempaka menepuk bahu Komeng. "Atuh percaya saja sama Yang Maha Kuasa, kalau rezeki kita tidak akan ketuker sama tai ayam."


"Yaiyalah atuh neng, dari baunya saja sudah beda." Komeng menimpali di ikuti tertawa renyah Lilis.


"Hayu ah, nanti ketinggalan." Cempaka berjalan mendahului Lilis dan Komeng.


Terdengar suara alunan merdu seruling yang di mainkan Komeng, mengiringi langkah mereka menuju balai desa. Melintasi persawahan yang mulai menguning, suara gemericik aliran sungai yang jernih, kicauan burung terbang di angkasa. Harum bau rumput, udara yang dingin menambah suasana asri dan damai desa tersebut.


"Neng, ari si abah nggak ikut?" tanya mang Yana pada Cempaka dari arah belakang.


"Nggak mang!" sahut Cempaka menoleh lalu tersenyum.


"Nya atuh, mamang duluan ya!" mang Yana membungkuk sesaat.

__ADS_1


"Sok mangga mang!" sahut Cempaka menganggukkan kepala.


"Neng! mau kamarana?!" tanya ceu Pipin di tengah sawah sedang menanam padi di sawah miliknya.


Cempaka, dan Lilis berhenti sejenak. "Ke balai desa Bi!" sahut Cempaka.


"Oh balai desa, sok teraskeun (lanjutkan). Bibi mah nggak bisa datang lagi repot!" jawab Ceu Pipin.


"Muhun Bi, nanti juga di kabarin!" sela Lilis.


"Hayu Bi, duluan!" Cempaka membungkuk sesaat, lalu melanjutkan langkahnya, sementara Komeng sudah berada di depan sambil terus meniup seruling.


Sesampainya di depan balai desa. Komeng berhenti meniup seruling, lalu mereka mulai masuk ke balai desa bersama warga yang lain.


Lilis, Cempaka dan Komeng duduk di barisan depan karena hanya itu yang tersisa. Mereka bertiga fokus pada pak Lurah yang duduk di depan samping kiri, Adhiguna dekat pak Lurah. Sementara Vino Sabastian duduk bersebelahan dengan Ferro.


Pertemuan di balai desa di mulai dengan sambutan pak Lurah. Sedikit memberitahu tentang pertemuan itu dan mengenalkan beberapa gadget yang di pamerkan diatas meja.


Vino dan Ferro memperhatikan warga satu persatu. Tatapan keduanya berhenti pada sosok cempaka. Jelas terlihat senyuman di sudut bibir Vino dan Ferro, melihat keindahan bunga desa.


Tanpa warga sadari, mereka sedang di cekoki dengan kemudahan ponsel untuk mendapatkan berbagai informasi. Jika saja tidak bijak dalam menggunakan ponsel, maka akan berakibat buruk pada hal lain.


Warga yang belum terkontaminasi dengan hal hal teknologi canggih, tentu saja mereka semua kagum dan ingin mendapatkan ponsel yang nantinya akan di bagikan secara gratis. Mereka juga akan di berikan panduan bagaimana caranya menggunakan ponsel.


Birawa, selaku ketua adat dan di tua kan di desa tersebut, bukanlah orang bodoh. Ia adalah mantan berandal yang sudah malang melintang di kota kota besar. Sedikit banyaknya ia mengerti maksud dan tujuan mereka memperkenalkan ponsel pada warga. Namun ia memilih diam karena menghargai Lurah setempat.


Semua warga mulai saling berbisik dan menyambut gembira usulan pak Lurah. Lilis dan Komeng ikut senang akan mendapatkan mainan baru.


"Cempaka, liat." Bisik Lilis menyikut lengan Cempaka.


"Apa?" tanya Cempaka.


"Itu kang bule, sama kang ganteng ngeliatin kamu terus." Bisik Lilis lagi.


"Bodo ah, kata si abah ge jangan percaya sama orang luar nanti di culik." Jawab Cempaka sekenanya.

__ADS_1


"Ah ari kamu!" Lilis menepuk lengan Cempaka.


"Berisik atuh, dengerin pak Lurah!" Komeng nenoleh ke arah dua sahabatnya.


Cempaka dan Lilis kembali fokus, saat anak buah Adhiguna membagikan ponsel kepada masing masing keluarga yang memiliki perkebunan kopi, masing masing satu keluarga di berikan satu ponsel.


Setelah itu mereka di berikan kartu dan panduan bagaimana caranya menggunakan ponsel. Lilis dan Komeng ikut memperhatikan, tapi Cempaka terlihat acuh tak acuh. Ia tidak tertarik karena semua pesan abah Asep selalu terngiang di telinganya untuk selalu bijak dalam hal baru maupun lama, jangan mudah tergoda apalagi gembira berlebihan.


Vino dan Ferro yang lebih tertarik pada Cempaka, dua dua nya mendekati Cempaka. Vino mengenalkan diri begitu juga Ferro.


"Aku Vino, dan ini sahabatku Ferro." Kata Vino mengulurkan tangannya.


Namun Cempaka hanya melipat kedua tangannya di dada seraya menganggukkan kepala. "Cempaka."


Vino mengerti, lalu menarik tangannya kembali. "Mau ku ajarkan?" tawar Vino, di sambut anggukkan kepala Ferro.


Cempaka menggelengkan kepalanya. "Terima kasih!"


"Kang Vino, saya saja ajarkeun!" Sela Lilis tersenyum lebar. "Kang bule juga boleh!"


Vino tersenyum tipis, melirik ke arah Ferto lalu berbicara dalam bahasa asing.


"Yang di minta siapa, yang maju siapa." Kata Vino. Ferro tertawa kecil, menanggapi perkataan Vino.


"Lis pulang yuk?!" ajak Cempaka mulai bosan..


"Bentar atuh!" tolak Lilis.


"Cempaka, ayo pulang!" Komeng merasa kegerahan melihat Cempaka di dekati pria ganteng.


"Yuk, Meng!" Cempaka membungkukkan badan sesaat ke arah Ferro dan Vino. "Mari!"


Cempaka balik badan, melangkah bersama Komeng di susul Lilis membawa pulang ponsel yang di berikan cuma cuma oleh Ferro dan Vino.


"Cantik!" kata Ferro dalam bahasa asing. Vino mengangguk, lalu menepuk dada Ferro.

__ADS_1


__ADS_2