Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
Pulang yuk!


__ADS_3

"Kualitas kopi di tentukan dari 60% pada saat di kebun, 30% saat di-roasting dan 10% saat diseduh. Sehingga, proses penanaman hingga pasca panen pada biji kopi merupakan tahap paling penting dan memiliki pengaruh yang paling besar. macam-macam proses 'pencucian' kopi tersebut." Bagas menjelaskan kepada warga yang ingin mengolah kopinya sendiri dan menghasilkan keuntungan lebih besar dari sebelumnya dari pada menjual kopi mentah kepada tengkulak.


"Yang pertama, kita akan berkenalan dengan proses yang masuk ke dalam metode pasca panen dry process. Mari kita lihat!" Bagas menunjukkan cara dan bagaimana memproses kopi yang sudah di keringkan pasca panen.


Natural Process


Proses yang sudah tak asing lagi ini adalah proses pasca panen biji kopi yang benar-benar dilakukan tanpa menggunakan mesin dan air (diproses secara alami/natural). Seusai ceri kopi yang telah lolos sortir dipetik, buah tersebut langsung dijemur di atas papan pengering bersama dengan lapisan kulitnya di bawah sinar matahari. 


Buah ceri tersebut kemudian dibolak-balik secara berkala agar kering merata. Dengan proses ini maka buah ceri akan terfermentasi secara natural dan kulit luarnya pun akan terkelupas dengan sendirinya. Proses ini banyak diterapkan oleh para petani di Indonesia karena caranya yang sederhana. Namun meski terbilang simple, proses ini juga cukup rawan risiko karena sangat mengandalkan cuaca. Jika tidak ada hujan, proses pengeringan ini dapat memakan waktu hingga 4-6 minggu. Rasa yang dihasilkan dari biji kopi yang diproses secara natural biasanya sangatlah fruity atau memiliki cita rasa buah yang kuat seperti blueberry dan strawberry, dengan full body serta low acidity. 


Honey Process


Banyak yang mengira, jika honey process merupakan metode pengolahan biji kopi dengan menggunakan madu. Padahal tidak sama sekali. Jadi seperti ini penjelasannya. Ceri kopi yang telah lolos sortir kemudian dikupas namun tetap menyisakan lapisan lendirnya (mucilage) kemudian baru dikeringkan di bawah sinar matahari. Lapisan lendir tersebut yang menjadi kunci utama honey process karena menyimpan kandungan gula serta acidity sehingga rasa yang dihasilkan adalah manis yang tinggi dengan keasaman yang seimbang.


Lapisan lendir yang lengket menyerupai madu tersebut membuat proses ini dinamakan honey process. Perbedaan jumlah lendir yang masih menempel membuat biji kopi yang melalui proses ini dan telah dikeringkan dibagi menjadi tiga warna yakni Red (50% lapisan lendir), Yellow (25% lapisan lendir), dan Black Honey (100% lapisan lendir).


Untuk metode wet process, beberapa proses pencucian kopi yang biasa digunakan adalah:


Full-Washed Process


Proses pencucian kopi yang pertama adalah Full-washed. Proses ini diawali dengan memasukkan ceri kopi ke dalam bak berisi air untuk menyeleksi buah yang telah matang dan yang belum. Ceri kopi yang telah matang akan tenggelam ke dasar bak, sedangkan yang belum matang akan mengapung.


Proses perendaman ini dapat memakan waktu hingga 12 jam dengan penggantian air rendaman di jam ke-6. Kemudian, ceri kopi terpilih akan dijemur kurang lebih 3-4 minggu hingga kering. Karakter rasa yang dihasilkan oleh proses ini adalah kopi yang ringan dan mild.  


Semi-Washed Process

__ADS_1


Seperti namanya, semi-washed process atau ‘wet-hulled process’ yang dalam Bahasa Indonesia biasa disebut dengan ‘giling basah’ merupakan metode pengolahan dengan mengkombinasikan proses natural dengan washed process (hybrid method). Pada proses awalnya, buah ceri yang telah matang dikelupas kulitnya dengan menggunakan mesin kemudian isinya dijemur di bawah sinar matahari.


Setelah proses pengeringan selesai, biji kopi yang masih dalam keadaan berlendir kemudian disimpan selama kurang lebih 24 jam. Lalu, lendir yang masih melekat dicuci hingga bersih dan kembali dikeringkan. Biji kopi yang diproses dengan metode ini memiliki body yang cukup kuat dan sangat cocok untuk diolah menjadi espresso serta memiliki rasa manis yang lebih intens dengan asam lebih rendah.


Warga yang berada di ruangan berukuran cukup besar, manggut manggut dan kagum dengan kepintaran Bagas. Sementara Vino dan Ferro yang sudah mengetahui hanya diam saja. Mereka ikut bergabung hanya untuk mencari celah mendapatkan kepercayaan warga.


"Kalian paham?!" tanya Bagas menatap seluruh warga.


"Paham Den!" sahut Warga serempak.


"Silahkan di mulai!"


Kemudian Bagas meminta warga untuk memulai proses pembuatan kopi sesuai petunjuk yang sudah di berikan. Mereka yang belum paham, di bantu Vino, Bagas dan anak buah Bagas yang di minta untuk membantu warga.


Sementara Ferro lebih memilih membantu Cempaka dan Lilis. Selain untuk mendapatkan informasi, Ferro juga belajar bahasa dan bertanya tentang banyak hal mengenai desa tersebut.


Waktu terus berjalan, hari semakin siang. Terdengar suara adzan berkumandang. Semua warga yang berada di pengolahan kopi menghentikan aktifitasnya. Satu persatu menunaikan kewajibannya. Sementara Ferro yang berbeda keyakinan hanya bisa memperhatikan dari luar menunggu Cempaka sampai selesai. Ada rasa kagum dan damai di hati Ferro melihat kerukunan warga tersebut, terlebih melihat senyuman Cempaka. Benih cinta mulai tumbuh di hati Ferro terhadap Cempaka dan desa tersebut. Terbersit di benak Ferro untuk tinggal di desa tersebut, namun semua itu ia tepis saat menyadari tujuannya datang ke Indonesia.


Setelah selesai, Cempaka kembali melanjutkan meramu kopi di bantu Ferro hingga sore hari. Ferro berinisiatif mengantarkan Cempaka pulang menggunakan sepeda, beruntung Cempaka menyetujuinya.


"Cempaka, sepertinya mau hujan. Apa tidak lebih baik kau ikut pulang bersamaku?" tawar Bagas menatap tidak suka ke arah Ferro.


"Nuhun, tapi aku teh sudah terlanjur mau pulang bareng kang bule." Tolak Cempaka dengan halus. "Bagaimana kalau lain kali?"


Bagas terdiam sesaat, lalu menganggukkan kepalanya. "Janji ya!"

__ADS_1


Cempaka menganggukkan kepalanya, lalu naik ke atas sepeda. Sementara Vino mulai gerah dengan sikap Ferro yang mendahuluinya. Diam diam, ia memiliki rencana jahat untuk menjauhkan cempaka dari Ferro.


Lain lagi dengan Komeng, Udin, Lilis, mereka memperhatikan Cempaka di ributkan oleh tiga pria ganteng.


"Ari nu geulis (kalau yang cantik) pasti di kerubutin semut. Beda sama pantat panci mah, boro boro mau dekat, liat aja ogah!" ucap Komeng menggerutu.


"Kamu nggak boleh begitu, biarpun pantat panci bikinan abah sama si emak!" timpal Udin.


"Hahahaha!" Lilis tertawa terbahak bahak. "Sok kamu mah nggak bersukur."


"Bukan gak bersukur, kenyataan. Lalat juga ogah mampir!" Umpat Komeng lagi.


"Diemlah, mending pulang. Perut lapar euy!" Usul Udin.


Sementara Ferro terus mengayuh sepedanya dengan senang hati. Tiba tiba, di tengah jalan hujan turun. Cempaka meminta Ferro untuk berhenti dulu.


"Ada apa?" tanya Ferro.


"Kang, tuh ambilin daun pisang. Hujan nya besar!" kata Cempaka tengadahkan wajah menatap langit.


"Oke, kamu tunggu." Kata Ferro, meski Cempaka sedikit tidak mengerti tapi dengan gerakan tangan Ferro memudahkan Cempaka memahami bahasa Ferro.


Kemudian Ferro mengeluarkan belati kecil dari saku bajunya. Mengambil sepenggal daun pusang di tepi jalan lalu ia berikan pada Cempaka.


"Buat kamu, biar tidak kehujanan." Kata Ferro dalam bahasa asing.

__ADS_1


Cempaka mengambil daun pisang di tangan Ferro. Lalu ia naik lagi ke atas sepeda, ia angkat daun pisang untuk menutupi kepalanya juga Ferro supaya tidak terkena air hujan.


Bagi Ferro, apa yang di lakukan Cempaka sangat berkesan. Naik sepeda di payungi daun pisang, sepanjang jalan Cempaka tak hentinya bercanda dengan Ferro. Membuat hati Ferro berbunga bunga.


__ADS_2