Mafia Dan Gadis Peramu Kopi

Mafia Dan Gadis Peramu Kopi
lamaran.


__ADS_3

Ferro duduk melamun di ruang tamu. Ia berpikir keras bagaimana caranya meluluhkan hati mang Asep dan ambu Sari. Namun ia mengalami kebuntuan, berkali kali ia mendesah kecewa. Terlintas di benaknya untuk mengambil jalan pintas.


"Melarikan Cempaka?" Gumamnya pelan.


"Apa katamu?" Tanya Adrian yang tak sengaja mendengar ucapan ferro.


"Ah, tidak!" Sahut Ferro menatap ke arah Adrian yang duduk di hadapannya.


"Kau jangan gila, ini pedesaan bukan di Negaramu." Adrian mengiƱgatkan.


"Aku tahu.." jawab Ferro.


"Kau tidak bisa bertindak gegabah di sini, bisa bisa nanti di deportasi." Adrian berusaha mengingatkan lagi.


"Cinta akan menemukan jalannya, percayalah jangan berbuat sesuka hatimu." Kata Adrian.


"Apalagi yang harus aku lakukan?" Tanya Ferro.


Adrian terdiam cukup lama.


"Kau dan Cempaka banyak sekali perbedaan. Apalagi keyakinan kalian, sulit buatmu untuk di terima." Adrian menjelaskan.


"Aku bisa pindah agama." Kata Ferro.


Adrian menatap tajam Ferro, untuk pertama kalinya ia melihat pria itu jatuh cinta pada seorang wanita.


"Kenapa kau tidak mengatakannya semalam?" Tanya Adrian.


"Mereka tidak memberiku kesempatan," jawab Ferro.


Keduanya terdiam, mereka larut dalam pikirannya masing masing. Adrian tidak menduga, jika Ferro akan menyimpang dari misinya untuk mendapatkan perkebunan kopi.

__ADS_1


Sementara Ferro tidak ada keinginan lagi untuk menguasai perkebunan kopi tersebut. Kedekatannya dengan Cempaka, membuatnya jatuh cinta dan menginginkannya untuk menjadi pasangan hidup.


Sementara di tempat lain.


Adhiguna dan putranya yang bernama Rendi, memanfaatkan situasi. Mereka berdua memiliki niat yang sangat jahat untuk menambah situasi menjadi kacau dan memicu pertengkaran dan kerenggangan diantara abah Birawa dan mang Asep.


"Kau sudah tahu, apa yang harus di lakukan?" Tanya Adiguna pada Rendi.


Rendi menganggukkan kepala seraya tersenyum menyeringai.


"Tenang saja pak, sekali tepuk semua nyamuk akan mati." Jawab Rendi.


"Bagus, jangan di tunda. Segera lakukan, jangan biarkan kesempatan ini hilang." Kata Adiguna.


"Siap!" Sahut Rendi antusias.


****


Pagi ini, abah Birawa memutuskan untuk melamar Cempaka. Dan menentukan kapan tanggal pernikahan yang tepat untuk putranya.


"Kau sudah siap?" Tanya abah Birawa menepuk bahu Bagas.


Bagas menoleh dan menganggukkan kepalanya.


"Ayo berangkat!" Kata abah Birawa.


Bagas menggenggam tangan abah Birawa, menatap wajahnya dengan tatapan ragu.


"Abah yakin? Pernikahanku akan berhasil?" Tanya Bagas.


Abah Birawa mengerutkan dahinya membalas tatapan Bagas.

__ADS_1


"Tentu saja, kau pantas buat Cempaka. Lagipula, apa kurangnya? Coba lihat!" Abah Birawa membesarkan hati Bagas.


Bagas tersenyum tipis dan mengangguk.


"Ya, aku tahu. Tapi Cempaka tidak menyukaiku." Keluh Bagas.


"Laki laki tidak boleh lembek, kau harus tunjukkan pada Cempaka dan keluarganya. Hanya kau lah yang pantas buat Cempaka." Jelas abah Birawa.


"Baiklah...terserah abah." Kata Bagas, lalu berdiri. 'Ayo kita berangkat sekarang."


Abah Birawa mengangguk, kemudian mereka berjalan bersama keluar dari rumahnya menuju rumah Cempaka.


Di luar rumah, kerabat dekat termasuk warga yang ikut mengantarkan mereka untuk melamar Cempaka sudah siap. Berbagai persiapan benda berharga sudah mereka bawa untuk di berikan kepada keluarga Cempaka.


Dari kejauhan, nampak Lilis, Udin dan Komeng memperhatikan rumah abah Birawa.


"Wah, akhirnya jadi juga Den Bagas melamar Cempaka." Kata Udin.


"Bagaimana dengan Cempaka ya?" Tanya Komeng.


"Kalau aku mah, tidak akan menolak kang Bagas." Celetuk Lilis.


Komeng menarik ujung kerudung Lilis pelan.


"Kepedean, siapa juga yang mau melamar kamu? Bebegig sawah!" Goda Komeng.


Lilis memajukan bibirnya.


"Halah, kamu jatuh cinta sama saya baru tau rasa!" Rutuk Lilis.


Komeng begidik mendengar pernyataan Lilis, sementara Udin tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Sstt, ayo kita ke rumah Cempaka.' Usul Lilis.


"Hayuk, siapa tahu Cempaka butuh bahu kita. Hahahaha!" Ujar Komeng di ikuti Udin dan Lilis tertawa bersama sama.


__ADS_2