
Sementara di lain tempat, di sebuah kamar mewah. Nampak seorang wanita terbaring menggunaan gaun pengantin, wanita itu tidak lain adalah Cempaka yang berhasil melarikan diri dan di selamatkan seorang pria muda.
Pria muda itu duduk di tepi ranjang membelakangi Cempaka sedang melamun, entah apa yang di pikirkannya hingga ia tidak menyadari kalau Cempaka sudah membuka matanya.
Cempaka menoleh ke arah pria itu lalu bangun dan duduk memperhatikan punggung pria tersebut. Detik berikutnyaa, kaki kanan Cempaaka menendang punggung pia tersebut hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Pria itu langsug bangkit dan berdiri tegap menatap marah ke arah Cempaaka sambil mengepalkan tangannya.
"Bukannya terima kasih, malah menendangku." kata pria itu.
Cempaka balas melotot, lalu turun dari atas tempat tidur mencari brang yang bisa di pakai untuk memukul pria itu, dan ia melihat tongkat kecil lalu di ambilnya dan bersiap menyerang pria muda itu.
"Kamu penjahat!" seru Cempaka mengayunkan tongkat itu ke tubuh pria itu.
BUKKK
Cempaka berkali kali memukulkan tongkat ke tubuh pria itu tanpa ampun.
"Hei, aku bukan penjahat!" seru pria itu terus menghindari pukulan Cempaka.
"Kamu penjaht, kenapa kamu culik aku!" pekik Cempaka.
"Dasar perempuan ga tau terima kasih," rutuk pria itu terus menghindar.
Tiba tiba pintu kamar terbuka, seorang wanita paruh baya langsung berteriak dan menghentiikan aksi Cempaka.
"Hentikan!"
Cempaka menoleh ke arah wanita itu lalu melemparkan tongkatya dan memeluk erat wanita tersebut.
"Ibu, dia penjahat.' Kata Cempaka menunjuk ke arah pria itu.
"Dia, Arsen putraku yang sudah menyelamatkanmu." kata wanita.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Cempaka menatap ke arah Arsen.
"Kau jangan takut, disini kau aman." kata wanita itu.
"Jangan lama lama, ma. Antarkan dia pulang." Kata Arsen kesal lalu beranjak keluar dari kamar.
"Siapa nama kamu?" tanya wanita itu pada Cempaka.
"Cempaka tante," sahut Cempaka.
"Panggil tante, Mama Nadia." kata wanita itu menyebut namanya.
"Iya, tante..eh ma..." kata Cempaka, tiba tiba terdengar suara gemerucuk yang berasal dari perutnya yang kelaparan.
"Kau pasti lapar," kata Nadia sambil tersenyum.
Cempaka mengangguk dan tersenyum lebar.
"Kau bersihkan badanmu, biar aku buatkan makan siangmu,' kata Nadia lalu melepaskan pelukan Cempaka dan bergegas keluar dari kamar.
Cempaka kebingungan, ia memperhatikan setiap sudut kamar yang terlihat sangat mewah yang berbeda dengan kamarnya. Cempaka berjalan menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi ia kebingungan karena tidak ada bak mandi yang terisi air.
"Bagaimana aku mandinya..' gumam Cempaka.
Setelah beberapa menit ia kebingungan bagaimana cara ia mandi. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Nadia, namun di luar kamar Cempaka berpapasan dengan Arsen. Dengan malu malu, Cempaka bertanya perihal air yang ada di kamar mandi yang kosong.
Arsen mengerutkan dahinya menatap wajah polos Cempaka, lalu tertawa terbahak bahak.
"Ada yang lucu?" tanya Cempaka.
Arsen menurunkan volume tawanya lalu masuk ke dalam kamar di ikuti Cempaka. Didalam kamar mandi, Arsen mengambil shower lalu menyalakannya. Air keluar dari shower membuat Cempaka terkejut.
Layaknyaanak kecil menemukan mainan baru, Cempaka menyentuh air itu dan membasuh wajahnya. Cempaka membiarkan pakaiannya basah dan tertawa riang gembira.
__ADS_1
Arsen merasa aneh melihat tingkah Cempaka, untuk pertama kalinya melihat perempuan yang di anggap kampungan.
"Sekarag kau sudah tau, aku pergi dulu." kata Arsen lalu beeranjak pergi dari kamar mandi setelah memberitahu cara menyalakan shower.
Sementara itu, Nadia sudah selesai menyiapkan makan siang dan sudah tertata rapi di meja makan. Ia duduk di kursi di temani Arsen sambil menunggu Cempaka.
"Sebaiknya kita cepat cepat menghubungi keluarga perempuan itu," usul Arsen.
"Cempaka maksudmu?" ucap Nadia.
Arsen mengangguk, " iya Cempaka."
"Kita tanya Cempaka nanti, setelah makan." Jawab Nadia.
Saat mereka tengaha berbincang, Nadia dan Arsen menoleh ke arah Cempaka yang baru saja datang. Mata kedua orang itu melebar saat melihat cara berpakaian Cempaka yang hanya mengenakain balutan kain panjng dan kaos berlengan panjang berukuran size.
"Kau...." ucap Arsen memperhatikan pakaian Cempaka.
"Ada yang salah?' tanya Cempaka bingung.
Nadia tersenyum lalu mengajak Cemaka duduk di sampingnya.
'Apa kau terbiasa berpakaian seperti ini di rumahmu?" tanya Nadia.
Cempaka mengangguk dan sedikit menceritakan bagaiaman kesehariannya di kampungnya. Nadia mulai mengerti alasan Cempaka memakai pakian seperti itu. Kemudian ia membiarkan Cempaka terus bercerita sambil menyiapkan makan siangnya.
"Sekarang kau makan dulu, setelah ini kami akan mengantarkanmu pulang," kata Nadia.
Cempaka mengangguk, lalu mengangkat piring yang berisi nasi dan ikan. Setelah itu ia berdiri dan memilih duduk di lantai dan meletakkan piringnya di bawah.
Nadia dan Arsen di buat melongo oleh sikap dan tata cara Cempaka makan. Mereka berdua memperhatikan Cempaka berdoa, lalu menyantap makan siangnya dengan lahap. Tanpa Cempaka sadari, Arsen dan Nadia mengulum senyum memperhatikannya.
"Gadis aneh..." batin Arsen.
__ADS_1