
Teror kolor ijo semakin membuat panik warga, apalagi kaum perempuan. Karena isu yang di hembuskan kalau kolor ijo itu menyerang wanita saja. Alhasil, tiap malam tidak ada laki laki yang mau ngeronda, mereka memilih untuk tetap di rumah apalagi yang memiliki anak gadis.
Bahkan isu kolor ijo, tidak hanya menggemparkan desa pasir reungit saja. Kampung sebelah pun ramai memperbincangkan kolor ijo, bahkan terkesan di besar besarkan. Mereka menambah nambahi cerita kalau sudah ada korban jiwa akibat kolor ijo yang sering gentayangan di tengah malam.
Tanpa mereka sadari, isu itu berdampak buruk bahkan mereka tidak tahu, kalau situasi seperti ini di manfaatkan orang orang yang ingin membuag kekacauan. Para pencuri mulai berani mencuri kopi di tengah malam karena tidak ada warga yang mau meninggalkan rumahnya.
Berbeda dengan bah Asep. Ia memanggil Komeng dan Udin ke rumahnya untuk membicarakan langkah apa yang harus di ambil, setelah mengetahui kalau isu kolor ijo, justru terjadi pencurian besar besaran di kebon kopi miliknya.
"Kang, kopina." Cempaka menawarkan kopi panas di atas nampan, lalu di letakkan di atas meja. Setelah itu ia duduk di bale di samping ambu Sari.
"Nuhun neng!" Komeng mengambil cangkir kopi di atas meja, lalu meniupnya supaya tidak terlalu panas sebelum di cecapnya.
"Din, sok atuh!" Ambu Sari menawarkan kopi pada Udin yang sedari tadi asik menggaruk kepalanya.
"Iya ambu, gampang!" sahut Udin tersenyum lebar.
"Jadi, gimana abah?" tanya Cempaka.
Abah Asep melirik sesaat ke arah putrinya.
"Menurut abah, ini teh ada yang tidak beres. Kita harus datangin abah Birawa." Usul bah Asep.
"Setuju, bah!" sahut Komeng, seraya meletakkan cangkir di atas meja.
"Kalau begitu, gimana kalau malam ini ke rumah si abah sambil ngeronda keliling kampung?" usul bah Asep.
__ADS_1
"Hayuk lah!" sahut Udin.
"Kang Udin, di minum dulu kopinya." kata Cempaka.
"Nya neng!" Udin mengambil cangkir kopi lalu meminumnya sampai habis karena kopi sudah tidak sepanas tadi.
"Ngopi apa haus Din?" goda ambu Sari, tertawa kecil melirik ke arah Cempaka.
"Sayang atuh ambu, sudah cape cape si eneng buatin kopi, nggak di minum." Kata Udin.
"Kalau sudah ngopinya, mendingan kita berangkat sekarang," sela bah Asep.
"Siap bah!" sahut Udin dan Komeng serempak, lalu mereka berdua berdiri.
"Ambu, neng, abah berangkat rond. Kalian hati hati di rumah." Pesan bah Asep. "Neng, kamu tidurna sama ambu ya?"
Udin dan Komeng berpamitan dan mengucapkan terima kasih sudah di suguhi kopi. Kemudian mereka beranjak pergi, di ikuti abah Asep.
Di perjalanan menuju rumah Birawa. Mereka selalu memperhatikan sekitar desa dengan waspada. Tiba di jalan setapak melewati perkebunan kopi. Langkah bah Asep terhenti, ia menoleh ke arah Udin dan Komeng memberikan kode dengan meletakkan satu jari di bibirnya.
Komeng dan Udin mengangguk, memperhatikan beberapa orang memakai pakaian hitam memasuki perkebunan warga.
"Meng, kamu panggil warga datang ke sini." Bisik bah Asep.
Komeng mengangguk, lalu balik badan berlari menuju desa. Sementara bah Asep dan Udin mengintai mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Wah benar dugaan abah, mereka teh mau maling kopi." Bisik bah Asep.
"Maliinggg!!" seru Udin lantang, lalu memukul pentungan sekeras kerasnya.
Orang orang yang ada di dalam kebun kopi terkejut, mereka tidak menduga aksinya akan di ketahui warga. Kemudian dua pria menggunakan baju hitam berlari ke arah semak semak. Udin semakin keras memukul pentungan, sementara bah Asep menghadang tiga pria yang hendak melarikan diri.
"Maling maneh (kamu) !" kata bah Asep, memasang kuda kuda.
Tak lama warga berdatangan bersama Komeng.
"Kepung!!" seru Udin memerintahkan warga untuk mengepung tiga pria di dalam kebun kopi.
Tiga pria itu tidak dapat melarikan diri, warga pasir reungit sudah mengepung mereka. Awalnya salah satu pria itu hendak melakukan perlawanan. Namun berhasil di lumpuhkan Komeng. Kemudian warga membawa ketiga pria tersebut ke alun alun desa, ketiganya di ikat dan akan di serahkan warga pada pihak berwajib.
Di kejauhan, seorang pria mengintai aktifitas warga, bersembunyi di balik pepohonan memperhatikan mereka.
"Sial, gagal lagi!" umpatnya dalam hati. Kemudian pria itu berlari memutar arah, meninggalkan tempat itu menuju desa sebelah.
Sesampainya di rumah megah, pria tersebut langsung menemui Adhiguna, dan melaporkan kejadian di desa Pasir reungit.
"Bodoh!" umpat Adhiguna, menatap pria di hadapannya yang tak lain anak buahnya sendiri.
"Mereka teryangkap bos!" jawab anak buahnya yang bernama Eeng.
"Kita harus pake cara lain." Sela Adhrian. "Bagaimana tuan?" tanya Adrian menoleh ke arah Ferro yang duduk melamun di kursi.
__ADS_1
Ferro hanya memberikan kode dengan jarinya, sebagai tanda ia menyerahkan semuanya pada Adrian dan Adhiguna.