
Meski orang tua Lilis, Komeng dan Udin, melarang mereka untuk berteman dengan Cempaka, melarang mereka untuk ikut campur lagi. Namun, diam diam mereka membantu Adrian untuk membuka kasus Ferro lagi dan memberikan kesaksian yang menguatkan.
Berkat kegigihan Adrian dan bukti kuat dari Lilis dan dua sahabatnya. Ferro dinyatakan tidak bersalah. Kini, pihak berwajib sedang mencari orang orang yang terlibat dalam rencana pembunuhan Lilis dan dua sahabatnya, pencurian kopi milik mang Asep.
Tak lama Adrian melihat Ferro keluar dari kantor Polisi. Ferro langsung masuk ke dalam mobil. Hal pertama yang ia tanyakan adalah Cempaka.
"Bagaimana keadaan Cempaka?"
"Rumit, kau harus segera ke desa pasir rengit sebelum semuanya terlambat." Jelas Adrian.
"Kalau begitu, kita pergi sekarang." Kata ferro.
Adrian menganggukkan kepalanya, kenudian melajukan mobilnya meninggalkan kantor Polisi.
Sementara di desa pasir rengit.
Mang Asep dan istrinya tengah mempersiapkan pernikahan Cempaka dan Bagas. Karena sudah terlanjur malu, meski Cempaka tidak terbukti bersalah. Namun di luar sana, cibiran dan tuduhan terhadap putrinya masih hangat jadi bahan perbincangan.
Cempaka hanya bisa menangis, berharap Ferro datang dan membawanya pergi dari desa itu.
Lilis, Komeng dan Udin yang biasanya selalu ada di dekat Cempaka. Hari ini Cempaka belum melihat salah satu dari mereka bertiga. Kesedihan Cempaka semakin dalam, ia tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa.
Di dapur, ada beberapa kerabat yang sedang membuat kue untuk acara pernikahan besok. Ada juga yang sudah datang bertamu, kebanyakan ibu-ibu warga pasir rengit.
Sementara Cempaka hanya bisa menangis di tempat tidur sejak semalam. Bahkan ia belum memejamkan matanya.
Samar samar ia mendengar suara mobil di halaman rumahnya. Ia berpikir yang datang adalah Bagas.
__ADS_1
Namun ia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Seperti suara kang Ferro?" Gumamnya.
Cempaka bangun dan mengusap air mata di pipinya, bergegas keluar dari kamar karena mendengar suara keributan.
"Akang!" Pekik Cempaka, begitu melihat yang datang adalah Ferro. Cempaka berlari menghampirinya. Namun mang Asep dan dua warga mencegahny.
"Cempaka.." ucap Ferro menatap nanar gadis pujaan hatinya.
"Mendingan kamu pergi dari sini, jangan ganggu Cempaka lagi." Usir mang Asep.
"Bah, saya mencintai Cempaka. Tolong izinkan saya tetap bersama Cempaka." Jawab Ferro, berjalan mendekati mang Asep dan Cempaka.
"Teu bisa! Kamu pergi sekarang juga!" Seru mang Asep seraya membawa balok kayu di arahkan pada Fero.
"Kamu masih belain dia? Gara gara dia, hidup kamu berantakan, neng." Tuduh mang Asep.
Bagas yang baru saja datang, ikut mengusir Ferro.
"Lebih baik kau pergi, kumohon. Jangan sampai aku bertindak kasar." Kata Bagas menatap tajam Ferro.
"Aku tidak akan pergi, Cempaka hidup dan matiku." Balas Ferro tetap bersikukuh.
"Cih!" Bagas menanggapi dingin pernyataan Ferro.
"Pergi kamu!" Mang Asep memerintahkan anak buah Birawa untuk mengusir Ferro.
__ADS_1
Namun Ferro menolak untuk pergi, akhirnya terjadi perkelahian antara mereka. Melihat anak buah Birawa kewalahan, Bagas memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menghajar Ferro.
"Bagas hentikan!" Pekik Cempaka berusaha memberontak, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan.
Cempaka semakin histeris melihat darah segar mengalir di hidung Ferro.
"Akang pergii!!" Pekik Cempaka.
Ferro menoleh ke arah Cempaka, ia tidak tega melihat Cempaka menangis. Ia menggelengkan kepala kepada Cempaka supaya tidak mengkhawatirkannya.
Di saat Ferro lengah, satu pukulan dengan balok kayu menghantam pelipis Ferro.
"Tidaaaak!!" Pekik Cempaka seraya menangis dan terus memberontak.
Ferro terhuyung ke belakang dan Adrian berhasil menangkap tubuh Ferro supaya tidak jatuh.
"Sebaiknya kita pergi, tidak ada gunanya melawan mereka. Begini caranya, kita harus pakai cara lain." Bisik Adrian di telinga ferro.
"Cara salah sekalipun?" Tanya Ferro.
Adrian mengangguk.
"Ayo pergi..."
Ferro menatap ke arah Cempaka, tersenyum lebar.
Cempaka hanya menggeleng gelengkan kepala. Melihat kepergian Ferro bersama Adrian.
__ADS_1
"Jangan sampai dia berkeliaran di desa kita." Perintah Bagas pada anak buahnya.