
Keesokan hari nya, di sekolah.
Sanda tengah berjalan menuju perpustakaan seperti biasa nya, tapi kini ia tak sendirian ke sana, ia bersama Sena. Selama mereka sudah menjadi sepasang kekasih, mereka sudah sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, mulai dari membaca buku atau pun sekedar bercerita. Tentu nya kenapa semua itu bisa terjadi, karena memang Sanda adalah orang yang tidak terlalu suka keramaian, ia tak begitu nyaman berada di tempat ramai dalam waktu yang lama.
Setelah mereka sampai di depan pintu perpustakaan itu.
"Apakah aku boleh meminjam buku yang kau baca?" tanya Sena
"Boleh saja, silahkan," ucap Sanda
"Tapi aku ingin semua buku yang kau baca," ucap Sena sembari membuka pintu perpustakaan
"Lalu aku akan membaca apa? Kalau semua buku nya kau inginkan," ucap Sanda sembari berjalan masuk ke dalam perpustakaan
"Membaca diriku," ucap Sena sembari tersenyum
Sanda pun tersenyum.
Sampai mereka di dalam perpustakaan, mereka berdua mengisi buku list untuk siswa yang masuk ke dalam perpustakaan itu, yang berada di meja Bu Resi, penjaga perpustakaan.
"Selama siang, Bu," ucap Sanda
"Siang," ucap Bu Resi sembari mengalihkan pandangan nya dari komputer di meja nya ke arah Sanda dan Sena
"Sekarang Sanda ke sini tidak membaca buku sendirian lagi ya," ucap Bu Resi sembari memberikan pena untuk mereka mengisi nama di buku itu
"Kini sudah ditemani oleh bidadari ya Sanda," ucap Bu Resi lagi
Sanda dan Sena pun tersenyum.
"Jangan seperti itu, Bu. Nanti bidadari nya salah tingkah terus kembali ke kahyangan, Sanda juga yang repot," ucap Sanda
Sena pun menepuk lengan Sanda.
"Sanda," ucap Sena dengan malu-malu
Bu Resi hanya tersenyum saja melihat dua anak muda yang tengah jatuh cinta itu.
"Silahkan membaca, dan jaga ketertiban seperti biasa, boleh berbicara, tapi jangan berisik banget, ya," ucap Bu Resi kepada mereka berdua
"Baik, Bu," ucap Sanda dan Sena
Kemudian Sanda dan Sena berjalan ke arah rak buku.
"Mana buku yang sedang kau baca? Ambilkan untuk ku, aku mau membaca nya juga," ucap Sena
__ADS_1
Sanda pun mengambil buku tersebut dan memberikan buku nya kepada Sena.
"Terima kasih," jawab Sena sembari tersenyum, kemudian pergi ke kursi yang berada di perpustakaan itu
Kini, duduk lah mereka berdua bersampingan di kursi yang bersebelahan itu, yang mana di depan mereka ada meja besar, lebih tepat nya, itu memang meja untuk siswa bisa membaca di sana dalam jumlah yang ramai dalam waktu bersamaan. Tapi apalah daya, yang sering ke perpustakaan itu hanya lah Sanda, bahkan kadang hanya dia sendirian, walau kini langganan perpustakaan itu bertambah satu orang lagi, yaitu Sena.
Sisa nya siswa yang lain hanya masuk ke perpustakaan untuk mencari buku pelajaran yang disuruh oleh Guru nya saja, selebihnya tidak ada yang seperti Sanda, yang memang hobi membaca buku di perpustakaan itu.
Selama sekitar 20 menit berlalu, mereka yang tengah duduk di kursi itu sembari Sena membaca buku yang sebelumnya dibaca oleh Sanda.
"Mengapa kau menyukai buku ini? Ini kan buku tentang patah hati," ucap Sena sembari membaca buku itu
Sanda diam saja, ia sedang menulis sebuah sajak.
"Atau jangan-jangan, kau pernah patah hati sebelumnya? Makanya kau menyukai buku ini?" tanya Sena kepada Sanda
Sanda pun menghentikan tulisannya, dan menjawab pertanyaan Sena.
"Aku menyukai semua buku, Sena. Membaca buku itu tak perlu alasan apapun, kau hanya perlu membaca nya saja. Memang ada beberapa buku yang bagus, ada juga yang tidak bagi beberapa orang, tapi bagi ku, semua buku yang bisa terbit seperti ini, adalah buku yang bagus. Dan aku suka membaca apapun," ucap Sanda melihat ke arah Sena
"Termasuk membaca dirimu," ucap Sanda
Sena pun tersenyum mendengar ucapan Sanda, ia merasa sedang dibawa terbang jauh oleh perkataan Sanda tersebut.
"Memang begitu adanya," ucap Sanda dengan masih melihat Sena
Sena melihat ke arah buku catatan kecil milik Sanda, yang tepat berada di depan Sanda.
"Kau sedang menulis apa?" tanya Sena
"Mau membaca nya?" tanya Sanda kembali
"Mau," ucap Sena
Sanda pun memberikan buku catatan kecil itu, kepada Sena.
..."Bacaan Paling Sulit"...
Kau adalah sebuah bacaan paling sulit, yang pernah ku baca,
kau adalah cerita paling rumit, yang pernah ku temui
Kau adalah manusia paling langkah, yang pernah ada,
dan kau adalah definisi terindah, dari yang tidak terdefinisikan.
__ADS_1
Bahkan ketika aku menyamakan dirimu dengan bulan, kau lebih terang,
ketika aku menyamai dirimu dengan senja, kau tidak pernah tenggelam,
Ketika aku menyamai dirimu dengan bintang, kau tidak berada di kejauhan,
ketika aku menyamai mu dengan udara, dulu kau pernah tidak ada.
Tapi mungkin benar, membaca dirimu adalah bagian paling sulit dari segala bacaan yang pernah aku baca.
-Sanda Sambiru
Sena melihat ke arah Sanda, setelah membaca tulisan Sanda tersebut.
"Kau ini," ucap Sena dengan tersenyum
"Memang kekasih ku ini, salah seorang penyair terbaik yang aku tau, sepertinya," ucap Sena
"Bagaimana bisa kau menulis ini semua dalam waktu yang singkat seperti ini, Sanda," ucap Sena lagi
Sanda diam saja, hanya melihat ke arah Sena.
"Ini buku mu," ucap Sena mengembalikan buku catatan kecil milik Sanda itu
Sanda sekejap mengingat satu hal, ketika Sena mengembalikan buku itu kepada nya.
"Oh ya, bagaimana dengan tugas mu yang dulu, tugas bahasa indonesia yang tentang sajak itu? Apa kah waktu kau membaca tulisan sajak ku cukup membantu dirimu dalam melakukan riset untuk tugas itu?" tanya Sanda kepada Sena
"Tentu saja, tulisan mu sangat membantu ku pada waktu itu," jawab Sena kepada Sanda
"Andaikan dulu kau meninggalkan buku catatan kecil ku ini, di rak itu," ucap Sanda sembari melihat rak yang di mana pertama kali ia bertemu dengan Sena di sana
"Mungkin sekarang tulisan-tulisan ku akan hilang entah ke mana," ucap Sanda lagi
"Habis nya kau, berani-berani nya meninggalkan buku penting bagi mu, ke orang yang tak kau kenali pada waktu itu," ucap Sena
"Aku yakin tidak akan hilang, bila ku berikan pada mu," ucap Sanda melihat ke arah Sena, yang di mana Sena tengah melihat rak buku yang tadi dikatakan oleh Sanda
"Seberapa yakin?" tanya Sena kemudian melihat ke arah Sanda
"Sangat," jawab Sanda
Tak lama kemudian, yang di mana mereka berdua sedang asik berbicara di sana, tiba-tiba datang lah seorang perempuan yang tidak asing bagi Sanda dan Sena. Perempuan itu masuk ke dalam perpustakaan itu. Perempuan itu berjalan menghampiri tempat duduk Sanda dan Sena.
"Sanda," ucap Farisa yang kini tengah berdiri di hadapan Sanda dan Sena.
__ADS_1