
Sesampainya Farisa dan Akira ke tempat teman-teman mereka berdua dan juga ada beberapa teman Akira di sana. Akira belum menyadari bahwa ada Sanda dan juga Sena di sana.
Farisa yang tampak diam sedari festival itu di mulai pun, mulai mencuri perhatian Farisa yang sedari tadi mengajak ia berbicara, tapi ia hanya terdiam saja.
Akira pun menepuk pundak Farisa.
"Farisa!" panggil Akira sedikit berteriak
Farisa baru tersadar.
"Oh ya, ada apa? Kenapa?" tanya Farisa kepada Akira
"Kau kenapa diam saja sedari tadi? Kau tidak suka berada di sini?" tanya Akira kepada Farisa
"Ha? Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku suka kok di sini." ucap Farisa kepada Akira
Evi yang juga melihat Farisa hanya diam saja sedari tadi pun, mulai mendekati Farisa dan bertanya.
"Kenapa Farisa? Ada apa? kenapa kau hanya diam saja sedari tadi?" tanya Evi sembari merangkul Farisa
"Tidak apa-apa, Vi. Aku baik-baik saja." jawab Farisa kepada Evi
Akira yang tengah melihat sekeliling pun, tak sengaja melihat ke arah Sanda dan Sena yang tengah berada di ujung dari mereka.
"Ya ampun, kecil sekali dunia ini sepertinya." ucap Akira
"Ada apa, Akira?" tanya Evi kepada Akira
"Pantas saja Farisa terdiam seperti itu, Vi." ucap Akira sembari melihat ke arah Sanda dan Sena
Evi pun mulai melihat ke arah pandangan Akira tersebut.
"Karena pria itu, makanya Farisa menjadi diam seperti ini." ucap Akira kepada Evi
Evi pun mensiasati pria yang di sebut oleh Akira barusan.
"Oh, itu anak IPS 1 bukan? Ada apa dia dengan Farisa?" tanya Evi kepada Akira
Farisa langsung memotong pembicaraan mereka berdua.
"Tidak ada apa-apa, tak usah kau dengarkan Akira, Vi." ucap Farisa
"Aku baik-baik saja, mari kita menikmati musiknya." ucap Farisa sembari menarik kedua temannya itu ke tengah, untuk menikmati alunan musik lebih dekat
Tentu saja, Farisa terpaksa berbohong, mana mungkin dia tidak sedang menipu dirinya sendiri saat ini.
*Dari sisi Sanda dan Sena
"Kau menyukai malam ini?" tanya Sena kepada Sanda
"Tidak terlalu, mungkin karena ada kau, jadi aku menyukainya." ucap Sanda kepada Sena
Sena pun tersenyum sembari menggenggam erat tangan Sanda.
__ADS_1
Tiba-tiba Sarah menghampiri mereka.
"Dari mana saja kalian berdua tadi?" tanya Sarah kepada Sena dan Sanda
"Perpustakaan tua." jawab Sena kepada Sarah
Sarah pun tersenyum dan berkata.
"Sekarang, Sena sudah menyukai buku-buku ya, sepertinya." goda Sarah kepada Sena
Sena pun mencubit lengan Sarah.
"Sarah, apaan sih." ucap Sena sembari salah tingkah atas ucapan Sarah, karena ada Sanda di sana
Sanda hanya tersenyum saja.
"Aw, sakit Sena." ucap Sarah kepada Sena, karena lengannya di cubit oleh Sena
"Ya habisnya kau berbicara seperti itu." ucap Sena kepada Sarah
"Kan memang begitu adanya, Sena. Dulu kau tidak suka sekali membaca buku, apa lagi sejenis sajak, puisi, bahkan buku cerita. Tapi sekarang? Setiap hari kau selalu membicarakan puisi, sajak, bahkan sang penulisnya pun kau ceritakan kepada..." belum selesai Sarah berbicara, Sena mencubit Sarah lebih kuat lagi dengan memberi kode dari mata untuk Sarah menghentikan ucapannya.
"Sarah." ucap Sena pelan
"Aw, iya-iya, maaf." ucap Sarah sembari tertawa kecil
Kemudian Sarah pun mulai melihat ke arah Sanda.
"Jaga dia baik-baik, sayangi sahabat ku ini, jangan kau sakiti dia. Kalau kau sakiti dia, kau berurusan dengan ku." ucap Sarah kepada Sanda
Sanda pun hanya menganggukkan kepala nya, menandakan bahwa, ya, dia akan mengikuti ucapan Sarah barusan.
Sena pun melihat ke arah Sanda.
"Maaf ya, sahabat ku sedikit galak memang." ucap Sena kepada Sanda
"Tidak apa-apa, berarti dia benar-benar peduli dengan mu." ucap Sanda kepada Sena
*Waktu pun berlalu, Dari sisi Farisa
Waktu sudah mulai menuju ke arah jam 10 malam, Farisa dan Akira pun harus segera pulang dari sana. Karena rumah mereka berdua cukup jauh dari tempat acara festival musik itu. Tapi masalahnya adalah.
"Naik apa kita pulang?" tanya Farisa kepada Akira, yang kini tengah berada di depan tempat acara festival musik itu
"Sebentar, aku telepon Evi." ucap Akira kepada Farisa sembari membuka ponselnya
Farisa yang masih saja terpikirkan oleh kejadian tadi, yang di mana ia melihat Sanda dan Sena berpegangan tangan sembari ditemani oleh musik-musik yang mengiringi kemesraan mereka berdua. Sangat mengganggu di dalam kepala Farisa.
"Kenapa aku harus melihat mereka berdua di sini, kenapa kota ini begitu sempit, kenapa, kenapa..." ucap batin Farisa
Farisa sedang menahan rasa sakit itu dengan senyuman di wajahnya kepada siapapun yang melihat ke arah nya. Sungguh dia seorang manipulasi yang handal.
"Ya ampun, tidak di angkat Evi." ucap Akira kepada Farisa
__ADS_1
"Kenapa tidak sedari awal bertemu Evi tadi saja kau beritahu, kalau kita pulang barengan saja." ucap Farisa kepada Akira
"Aku lupa, Farisa. Aku tidak terpikirkan ke sana lagi tadi." ucap Akira kepada Farisa
Mereka bertiga terpisah ketika beberapa saat sedang menikmati musik di dalam acara itu tadi. Evi izin pergi sebentar menemui teman-temannya, dan mulai memisahkan diri dari Farisa dan Akira. Sampai sekarang, Farisa dan Akira tidak bisa mencari Evi.
"Coba tanya teman-teman kau, Akira." ucap Farisa kepada Akira
"Mereka pasti belum pulang sekarang, Farisa. Kalau rombongan ku itu, pasti pulangnya di atas jam 12, jadi percuma saja kalau aku menelepon mereka untuk minta tolong menghantarkan kita pulang." ucap Akira kepada Farisa
"Lalu bagaimana, Akira? Sekarang sudah jam 10 malam, kalau telat, aku bisa habis di rumah nanti." ucap Farisa kepada Akira
*Dari sisi Sanda dan Sena
Kini, Sanda dan Sena sudah berada di tempat parkir.
"Kau tau jalan pulang, kan?" tanya Sena kepada Sanda
"Tentu saja aku tau." jawab Sanda kepada Sena
"Baik lah, kalau begitu, kau duluan saja. Aku bareng dengan Sarah pulangnya." ucap Sena kepada Sanda
"Di mana dia?" tanya Sanda kepada Sena
"Masih di dalam, dia bilang sebentar lagi dia akan segera keluar." ucap Sena kepada Sanda
"Kau yakin mau aku tinggalkan duluan?" tanya Sanda kepada Sena
"Ya, tidak apa-apa." jawab Sena kepada Sanda
"Tidak apa-apa, aku tunggu saja sampai Sarah tiba." ucap Sanda kepada Sena
Tak lama ucapan Sanda barusan, Sarah pun keluar dari dalam acara tersebut.
"Hai, maaf lama, tadi ada teman SMP ku juga di dalam, makanya sedikit lama di sana. Maaf jadi buat kalian berdua menunggu ku." ucap Sarah kepada Sena dan Sanda
"Tidak apa-apa." jawab Sena kepada Sarah
"Ya sudah, kalau begitu, aku duluan ya, Sena, Sarah." ucap Sanda kepada Sena dan Sanda
"Iya, hati-hati." ucap Sena kepada Sanda
Kemudian Sanda pun pergi dari hadapan mereka berdua.
"Yuk, masuk ke mobil, sudah mau malam, nanti Mama ku marah kalau terlalu malam pulangnya." ucap Sena kepada Sarah sembari berjalan ke dalam mobilnya
"Sanda memang tidak seromantis itu kah dengan kau, Sena? Kenapa dia hanya memanggil nama saja?" tanya Sarah kepada Sena sembari berjalan untuk masuk ke dalam mobil Sena
"Romantis nya dia dengan ku, sangat privasi, Sarah." ucap Sena yang kini telah berada di dalam mobil, sembari menutup pintu mobilnya
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Sena pun mulai menghidupkan mesin mobil tersebut, kemudian mulai menjalankan mobil itu keluar dari parkiran. Tapi tak lama dari Sena mengemudikan mobilnya, ia melihat di arah pintu masuk festival yang lain. Di sana, ia melihat ada Farisa dengan temannya Farisa sedang berdiri, seperti menunggu jemputan.
Sena pun memutuskan untuk menghampiri mereka berdua dengan mengemudikan mobilnya menuju ke depan Farisa dan temannya Farisa tersebut.
__ADS_1