Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 35 : Badai Itu Memeluk Kita


__ADS_3

Tiba jam pulang sekolah, kini Sanda dan Sena tengah berada di parkiran sekolah.


"Ayo kita ke perpustakaan itu sekarang." ucap Sena


"Ayo." ucap Sanda


Sanda pun mulai menghidupkan mesin motornya.


"Nih, helm nya." ucap Sanda sembari memberikan kepada Sena


Sena pun mengambil helm yang diberikan oleh Sanda dan mulai memakainya.


Tak lama kemudian, Sanda pun mulai menaiki motornya, lalu disusul oleh Sena, kemudian mereka berdua langsung menuju ke perpustakaan tua yang berada di pusat kota.


Di dalam perjalanan yang cukup jauh, mereka berdua saling berbincang-bincang.


"Kemarin aku benar-benar tidak ingat, kenapa bisa-bisanya aku tinggalkan di sana. Soalnya ketika kita mau berangkat, aku langsung saja berdiri dari tempat duduk, lupa kalau buku catatan kecil milik mu ada di meja ku." ucap Sena


"Sama, aku juga tidak ingat." jawab Sanda


"Maafkan aku ya, Sanda. Gara-gara aku lupa, sampai-sampai harus merepotkan dirimu seperti ini." ucap Sena


"Berhenti mengatakan itu, Sena. Aku sudah bosan mendengarnya. Sudah ribuan kali aku katakan, kau tidak merepotkan ku." ucap Sanda


Di dalam perjalanan menuju pusat kota, tak tau apa yang terjadi, cuaca yang sekiranya tadi panas, kini mulai mendung.


"Ya ampun, Sanda. Hari tiba-tiba menjadi mendung, ku rasa sebelum sampai di perpustakaan tua, kita sudah kehujanan lebih dulu." ucap Sena


Sanda pun mulai melihat ke arah langit.


"Iya, mungkin." ucap Sanda


"Kalau memang hujan, kau mau berteduh atau meneruskan perjalanan saja?" tanya Sanda


"Berteduh saja, kita ini pakai baju sekolah, Sanda. Takut nanti kotor, besok masih pakai baju ini soalnya." jawab Sena


"Baik lah." ucap Sanda


Tak lama dari obrolan mereka tadi, tepat ketika mereka berdua berada di lampu merah. Rintik hujan pun mulai berjatuhan, Sena yang ingin memastikan hujan atau tidak pun mulai mengulurkan telapak tangannya.


"Sanda, sudah mulai rintik." ucap Sena memberitahu Sanda


"Iya, sepertinya kita harus mencari tempat berteduh setelah dari lampu merah ini." ucap Sanda kepada Sena


Ketika lampu merah mulai berubah warna menjadi hijau, hujan yang tadi rintik pun kini mulai menjadi deras. Sanda langsung cepat-cepat mengemudikan motornya menuju tempat berteduh, mereka menemukan ruko kosong yang tidak jauh dari lampu merah itu untuk berteduh di depannya.

__ADS_1


Kini, Sanda dan Sena terjebak di depan ruko itu bersama hujan yang jatuh.


Beberapa menit berlalu, semesta tidak menampakkan bahwa mereka akan berhenti menjatuhkan air ke bumi. Langit masih sangat gelap dan hujan semakin deras bahkan angin pun semakin bertiup kencang.


Sena yang tengah berada di sebelah Sanda pun tampak kedinginan meski sudah menggunakan hoodie yang besar.


Sanda yang melihat Sena kedinginan pun langsung menggenggam tangan Sena.


"Dingin?" tanya Sanda sembari melihat ke arah Sena


"Iya, hujannya semakin deras, anginnya juga kencang, aku takut." ucap Sena


Tak lama dari ucapan Sena, tiba-tiba beberapa daun yang berada di pohon-pohon di dekat ruko itu mulai berguguran. Refleks, Sena langsung menggenggam erat tangan Sanda.


"Sanda, aku takut." ucap Sena


"Tidak apa-apa, Sena. Semua baik-baik saja." ucap Sanda sembari memeluk Sena


Mereka berdua berdiam diri di depan ruko itu karena terjebak hujan. Hujan yang sangat deras sampai-sampai bisa merobohkan ranting-ranting pohon yang berada di depan mereka. Tak kalah mengerikannya juga dengan petir yang sangat kuat suaranya. Menambah momen di hari itu menjadi cukup mengerikan bagi Sena, tapi Sanda seperti biasa saja menghadapinya.


Sena terus mendekap Sanda di dalam ketakutannya.


"Masih dingin?" tanya Sanda


"Sudah tidak terlalu." ucap Sena


"Sepertinya ini bukan hujan biasa, Sena. Mungkin ini badai." ucap Sanda lagi


"Kalau memang benar, kita bagaimana Sanda?" tanya Sena


"Bagaimana? Apanya?" tanya Sanda lagi


"Ya kalau memang ini badai, kita bagaimana bisa keluar dari sini? Kalau kita berdua kenapa-napa bagaima..." ucap Sena belum selesai, petir pun ikut berbicara kepada bumi selain Sena yang tengah berbicara kepada Sanda


"Aaa.." ucap Sena semakin erat memeluk Sanda kini


Sena yang melihat Sanda biasa saja pun mulai bertanya.


"Kau tidak takut?" tanya Sena kepada Sanda


"Untuk apa aku takut, Sena?" tanya Sanda kembali


"Petir yang tadi itu kencang sekali suaranya, Sanda. Mengapa kau tidak bergumam?" tanya Sena


"Tidak ada yang mengerikan, Sena. Jangankan petir, badai pun aku tidak peduli." jawab Sanda

__ADS_1


Sena pun diam, mendengar ucapan Sanda barusan.


"Aku sudah mengalami badai yang paling menyakitkan di dalam hidup ku, buat apa aku takut lagi. Lagi pula, kalau aku takut, siapa yang akan menjaga kau di sini." ucap Sanda


"Tenang, sayang ku. Tidak perlu kau mengingat badai yang sudah berlalu. Ada aku di sini, kau akan melewati lebih jauh dari badai itu bersama ku." ucap Sena di dalam pelukan Sanda


Sanda hanya diam saja, dan tersenyum.


"Semua baik-baik saja." ucap Sena kembali


"Ya, sayang. Semua badai pasti berlalu, termasuk badai ini." ucap Sanda


*Dari sisi Ibu Sanda


Ibu Sanda kini tengah berada di depan tv, ia tengah menonton berita. Di dalam berita itu, Ibu Sanda mendengar kabar bahwasanya hari ini tengah terjadi badai yang datang tiba-tiba di pusat kota. Ibu Sanda yang tengah menonton berita itu pun, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya.


"Kenapa setelah mendengar berita ini, perasaan ku sedikit tidak enak?" ucap hati Ibu Sanda bertanya-tanya


Tak lama kemudian, Ibu Sanda dihampiri oleh Salisa dan Langit yang ketakutan ketika mendengar suara gemuruh.


"Ibu, hujannya deras sekali dan anginnya kencang." ucap Langit sembari berlari ke arah Ibunya


"Iya, Bu. Hujannya tidak seperti biasa." ucap Salisa menyusul Langit yang tengah berlari ke arah Ibunya


"Kunci pintu depan dan cek jendela kamar Abang mu, Salisa. Kalau terbuka, kunci juga." ucap Ibu Salisa kepada Salisa


"Iya, Bu." ucap Salisa sembari segera mengerjakan yang diperintahkan oleh Ibunya


Tak lama kemudian, baru lah Ibu Sanda tersadar.


"Astaga, Sanda." ucap Ibu Sanda


Langit yang kini tengah memeluk Ibunya pun mulai bertanya dengan polos.


"Kenapa, Bu?" tanya Langit kepada Ibunya


Ibu tidak menjawab pertanyaan langit, dia langsung memanggil kembali Salisa yang baru saja ingin mengerjakan perintah yang ia katakan barusan.


"Salisa." ucap Ibu sedikit berteriak, karena hujan yang sangat deras


"Kenapa, Bu?" tanya Salisa sembari menghentikan langkah kakinya


"Telepon Abang mu sekarang, tanya dia di mana." ucap Ibu kepada Salisa


*Dari sisi Sanda dan Sena

__ADS_1


"Sanda, aku takut sekali." ucap Sena karena suasana yang semakin mencekam, hujan yang sangat deras tiada reda serta angin yang masih saja berhembus kencang


"Selagi bersama ku, apa yang harus ditakutkan, sayang." ucap Sanda menenangkan Sena


__ADS_2