
Sena yang kini telah sampai di depan perpustakaan tua pun, mulai keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan masuk ke dalam untuk menemui Sanda.
Perpustakaan tua itu cukup luas dan besar, ia tidak menemukan Sanda, kemudian ia mulai menelepon Sanda.
"Halo, kamu di mana?" tanya Sena dari dalam panggilan telepon itu
"Di belakang mu." jawab Sanda sembari menepuk pundak Sena
Sena pun sedikit terkejut karena Sanda tiba-tiba berada di belakangnya, padahal sedari tadi dia tidak melihat Sanda di sepanjang ruangan pada perpustakaan tua itu.
"Ya ampun, Sanda." ucap Sena sembari memukul lengan Sanda
"Sakit Sena." ucap Sanda sembari mengusap lengannya
"Kau ini, kenapa mengejutkan ku. Sedari tadi aku berjalan, melihat ke ruangan satu demi satu tidak ada melihat mu sama sekali, dan sekarang tiba-tiba kau sudah berada di belakang ku." ucap Sena kepada Sanda
Sanda pun tertawa kecil.
"Aku dari tadi di dekat pintu itu, aku duduk di sana." ucap Sanda sembari menunjuk tempat duduk yang berada di dekat pintu
"Aku sengaja menunggu di sana, menunggu kau datang. Dan ternyata kau sampai lebih dulu daripada dugaan ku, jadi ya sudah, aku melihat kau berjalan, ya aku ikuti saja." ucap Sanda kepada Sena
"Dasar ya, kau ini." ucap Sena kepada Sanda sembari mencubit lengan Sanda
"Ah sakit Sena, ampun Sena ampun." ucap Sanda sembari menarik cubitan Sena dari lengannya
"Dasar, berkelahi saja sama orang lain kuat, aku cubit kesakitan." ucap Sena kepada Sanda sembari melepaskan cubitannya
"Kalau berkelahi dengan orang lain itu beda, itu dengan fisik. Tapi kalau cubitan kau dengan cinta, jadi rasanya berbeda." ucap Sanda kepada Sena
Sena pun tersenyum atas ucapan Sanda barusan.
"Memang ya, kau ini." ucap Sena kepada Sanda
"Jadi jam berapa kita berangkat ke acara festival musik nya?" tanya Sanda kepada Sena
"Sebentar lagi kita ke sana." ucap Sena kepada Sanda
"Baik lah." jawab Sanda kepada Sena
"Tapi, bagaimana kita pergi ke sana?" tanya Sanda kepada Sena
__ADS_1
"Bagaimana apanya?" tanya Sena kepada Sanda
"Ya, kau membawa mobil mu, sementara aku juga bawa motor, apa kita pergi dengan dua kendaraan sekaligus atau bagaimana?" tanya Sanda kepada Sena
"Oh iya, ya ampun. Aku lupa soal itu." ucap Sena kepada Sanda
"Makanya tadi ku bilang, tunggu saja biar aku jemput, tapi kau tidak mau." ucap Sanda kepada Sena
"Bukan tidak mau, dari pusat kota ini ke rumah kita berdua itu hampir 1 jam an, aku tidak mau merepotkan kau." ucap Sena kepada Sanda
"Siapa yang merasa direpotkan? Aku tidak merasa seperti itu." ucap Sanda kepada Sena
"Ya, bagi kau tidak, tapi aku yang tidak enak dengan mu." ucap Sena kepada Sanda
Lalu mereka berdua diam sebentar dan memikirkan sebuah hal.
"Ya sudah, kalau begitu, hari ini kita bawa dua kendaraan saja." ucap Sena
"Ya sudah kalau begitu, baik lah." jawab Sanda
"Kau tadi baca buku apa?" tanya Sena kepada Sanda sembari berjalan mengitari rak buku
*Dari sisi Farisa
"Sudah, kau ikut saja dulu nanti, kalau kau mau pulang, bilang pada ku." ucap Akira kepada Farisa
"Kau ini, memang dasar, mana aku belum memberitahu orang tua ku kalau pulang malam." ucap Farisa kepada Akira
"Tenang saja, nanti aku yang mengantarkan kau pulang, biar aku yang meminta maaf dengan kedua orang tua mu." ucap Akira kepada Farisa
"Tapi, lebih baik mungkin kau coba kirim pesan dulu kepada kedua orang tua mu, kalau kau bakal pulang malam hari ini, dan jangan lupa beritahu kalau kau bersama aku." ucap Akira lagi kepada Farisa
Kemudian Farisa pun mengikuti perkataan Akira, dan mulai mengirim pesan kepada kedua orang tua nya.
*Dari sisi Sanda dan Sena
"Apa kau suka tempat seperti ini, Sena?" tanya Sanda kepada Sena yang tengah mengitari rak buku itu, untuk mencari buku bacaan sebelum mereka pergi ke festival musik malam nanti
"Suka-suka saja." ucap Sena kepada Sanda, di mana kini Sena berada di depan Sena
"Aku takut kau terpaksa, karena kau sudah bersama ku kemudian kau memaksakan diri untuk menyukai hal yang aku sukai. Aku tidak mau itu terjadi." ucap Sanda kepada Sena
__ADS_1
Sena pun langsung menoleh ke arah Sanda.
"Tidak ada yang terpaksa, Sanda. Justru ketika bersama mu, aku jadi lebih suka membaca daripada sebelum mengenal mu." ucap Sena kepada Sanda
Sanda yang melihat Sena pun, diam saja.
"Daripada aku keliling mencari buku yang belum aku inginkan, boleh kah aku melihat buku catatan kecil milik mu lagi? Mungkin kau telah menulis banyak sajak." ucap Sena kepada Sanda
"Boleh saja, tentu." ucap Sanda kepada Sena
Kemudian ia membuka tas slempang yang sedari tadi ia gunakan, lalu mengambil buku catatan kecil miliknya.
"Ini." ucap Sanda sembari memberikan buku catatan kecil itu kepada Sena
Sena pun mengambilnya.
"Oh ya, Salisa tidak jadi meminjam buku catatan kecil ini?" tanya Sena kepada Sanda
"Entah lah, ku rasa dia lupa, dia tidak ada menanyakannya lagi kepada ku." ucap Sanda kepada Sena
"Kenapa tidak langsung kau berikan saja?" tanya Sena kepada Sanda
"Ya, tidak apa-apa, malas saja. Tunggu dia yang meminta lagi, baru aku berikan." ucap Sanda kepada Sena
"Memang ya kau ini Sanda, dasar." ucap Sena kepada Sanda
"Dasar apa?" tanya Sanda kepada Sena
"Dasar menyebalkan, untung sayang." ucap Sena kepada Sanda sembari tersenyum
Sanda pun juga tersenyum.
"Kalau kau mau membaca sajak ini, lebih baik kita sambil duduk saja di kursi." ucap Sanda kepada Sena
"Kursi yang mana? Orang-orang sudah ramai mengisi kursi-kursi yang berada di sana." ucap Sena sembari menunjuk ke arah kursi yang berada di depan mereka.
Sanda pun mulai melihat-lihat ke arah yang cukup jauh, dia menemukan kursi yang kosong dari penglihatannya tersebut.
"Di ujung sana, ada kursi dan meja kosong, di sana saja." ucap Sanda kepada Sena
Kemudian Sanda langsung menggenggam tangan Sena, dan mengajak Sena berjalan ke arah kursi itu setelah ia memberitahu Sena barusan.
__ADS_1
Sena pun langsung tertegun, ia seperti terpaku ketika melihat Sanda yang langsung menggandeng tangannya untuk berjalan, ia hanya terdiam saja sekaligus mengikuti langkah kaki Sanda menuju kursi itu, dan sesekali ia melihat kepala Sanda dari belakang, karena memang postur tubuh Sanda yang sedikit cukup lebih tinggi daripada Sena.
Ia terdiam, sampai pada akhirnya tiba di kursi itu dan duduk bersebelahan dengan Sanda.