Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 36 : Tanya Yang Khawatir


__ADS_3

Salisa yang mulai menelepon Sanda pun, ternyata panggilan itu tidak masuk karena sinyal Sanda yang kini berada di pusat kota itu sedang gangguan di akibatkan angin yang kencang.


"Tidak tersambung, Bu." ucap Salisa kepada Ibunya


"Kau yang benar saja, Salisa. Coba telepon lagi." ucap Ibu Salisa kepada Salisa


Salisa pun mulai menelepon Sanda kembali.


Langit yang tengah berada di pelukan Ibunya pun, tak sengaja melihat pintu yang terbuka lebar karena angin yang kencang, disusul dengan hujan yang mulai masuk ke depan pintu rumah mereka.


"Bu, lihat itu." ucap Langit kepada Ibunya


Ibu yang melihat pintu rumah tiba-tiba terbuka pun, langsung memberitahu Salisa kembali.


"Salisa, itu tutup dulu pintunya." ucap Ibu kepada Salisa


Salisa pun langsung bergegas menutup pintu sembari meletakkan ponselnya di lantai di dekat Ibunya.


Salisa juga langsung berlari ke kamar Sanda, untuk mengecek jendela kamar Sanda. Setelah ia sampai di kamar Sanda, benar saja jendela itu masih terbuka. Salisa pun segera menutup jendela kamar Sanda itu.


Ibu yang melihat ponsel Salisa masih menelepon Sanda pun, mulai mengambilnya dan melihat tulisan di panggilan itu, bahwasanya telepon itu masih saja tidak terhubung.


*Dari sisi Sanda dan Sena


"Sanda, sudah hampir setengah jam kita di sini, dan badai ini tak kunjung berhenti." ucap Sena kini sembari memeluk Sanda dengan erat


"Iya, Sena. Mau bagaimana lagi, biarlah kita di sini dulu, sampai benar-benar reda, baru kita pergi." ucap Sanda kepada Sena


"Maafkan aku, Sanda. Karena ku kita terjebak." ucap Sena kepada Sanda


"Tidak apa-apa, Sena. Bukan salah mu. Siapa yang menyangka akan terjadi badai seperti ini, padahal tadi cuaca masih saja cerah." ucap Sanda kepada Sena


Sanda yang memeluk Sena pun, mulai mengatakan sesuatu.


"Banyak hal di luar kendali kita, Sena. Tak perlu kita pikirkan, hanya akan melelahkan diri kita sendiri kalau kita berusaha untuk mengendalikan hal di luar kendali kita. Ini bukan tentang salah mu atau aku. Tapi memang jalan semesta, kita ikuti saja." ucap Sanda kepada Sena

__ADS_1


*Dari sisi Mama Sena


Mama Sena yang sedang berada di rumahnya, tiba-tiba dikagetkan dengan listrik yang tiba-tiba padam. Tepat ketika Mama Sena sedang melihat berita di sosial media dari ponselnya. Bahwasanya terjadi badai dadakan di hari ini di pusat kota, dan akan menyebar ke beberapa wilayah, termasuk daerah rumah Sena.


Setelah membaca berita itu dan listrik yang tiba-tiba padam, Mama Sena pun langsung cepat-cepat menelepon Sena.


"Duh, kenapa tidak menghubungkan telepon ini, di mana Sena, kenapa dia tidak pulang." ucap hati Mama Sena


Mama Sena yang sudah khawatir pun, mulai mencoba menelepon sahabat Sena, yaitu Sarah.


"Halo, Sarah." ucap Mama Sena ketika panggilan teleponnya diangkat oleh Sarah


"Iya, Tante. Ada apa?" tanya Sarah kepada Mama Sena


"Kamu di mana? Apa Sena sedang bersama mu?" tanya Mama Sena kepada Sarah


"Sarah sudah di rumah, Tante. Dia tidak ada di sini, kenapa Tante?" tanya Sarah kepada Mama Sena


"Dia belum pulang sekarang, dan barusan Tante dengar berita dari sosial media, sekarang sedang terjadi badai dadakan. Tante khawatir dengan Sena, Tante sudah mencoba menghubungi dia, tapi nomor dia tidak aktif." ucap Mama Sena kepada Sarah


Mama Sena yang mendengar ucapan Sarah barusan pun, langsung terkejut karena baru saja dia melihat berita bahwasanya badai pertama itu muncul tepat di pusat kota tersebut.


"Apa!" ucap Mama Sena berteriak di dalam panggilan telepon itu


"Kenapa Tante?" tanya Sarah kepada Mama Sena


"Pusat kota? Ya ampun, Sarah. Badai dadakan ini terjadi di awali dari pusat kota itu." ucap Mama Sena kepada Sarah


Sarah pun juga terkejut mendengar ucapan Mama Sena.


"Yang benar, Tante?" tanya Sarah ke Mama Sena


Mama Sena pun mulai terdiam dari panggilan telepon itu, Mama Sena tidak berbicara apapun di sana.


Sarah mulai mencoba menenangkan Mama Sena dari panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Tante tenang saja, Sena dan Sanda pasti baik-baik saja, nanti Sarah dan teman-teman lainnya akan mencoba menyusul ke pusat kota ketika badai mulai berhenti, tenang saja Tante." ucap Sarah kepada Mama Sena


*Dari sisi Sanda dan Sena


Badai yang terjadi sudah hampir lebih dari 1 jam pun, membuat Sanda dan Sena lelah berdiri di depan ruko itu, kini Sanda dan Sena memutuskan untuk duduk di depan ruko itu.


Di depan mereka berdua, tiba-tiba terlihat atap rumah seseorang terbang mengikuti kencangnya angin.


"Sanda!" teriak Sena sembari memeluk Sanda dengan refleks, karena melihat atap rumah seseorang yang tepat berada di hadapan mereka, terbang begitu saja


Sena menangis di bahu Sanda.


"Sanda, aku takut Sanda." ucap Sena sembari terisak-isak karena air matanya yang mulai jatuh


"Tidak apa-apa, peluk aku." ucap Sanda sembari mengeratkan pelukannya


"Kita sampai kapan di sini, Sanda. Apa yang menjamin kita akan aman di sini." ucap Sena kepada Sanda


"Entah lah sayang ku, aku tidak tau, tapi yang pasti aku akan selalu bersama mu, sayang." ucap Sanda kepada Sena


Sanda mulai menjauhkan sedikit pelukannya dari Sena, ia pun mulai menghapus air mata Sena.


"Sudah, kekasih. Lihat mata ku." ucap Sanda ketika menyeka air mata Sena, sembari menatap matanya


Sena pun mengikuti perintah Sanda, ia pun melihat ke arah mata Sanda.


"Jangan menangis, sayang. Kau bersama ku, tak perlu takut, aku tidak akan pergi darimu, meski apapun yang terjadi. Jangan berpikiran yang tidak-tidak pada hal yang belum terjadi, tidak perlu itu kekasih ku. Tenang, ya." ucap Sanda yang sedang menatap mata Sena


Sena yang menatap mata Sanda juga pun, mulai menganggukkan kepalanya. Pertanda bahwa ia mengerti ucapan Sanda.


Sanda pun mulai memeluk Sena kembali.


"Sanda, aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu. Terima kasih sudah mencintaiku, maafkan aku yang penuh dengan kekurangan ini. Maafkan aku yang cengeng ini, Sanda. Kau adalah manusia hebat dan kuat, yang pernah aku temui setelah Papa ku." ucap hati Sena, ketika ia sedang memeluk Sanda


Di dalam pelukan yang sangat hangat, dari dalam keadaan yang sangat dingin dan mencekam, tersisa cinta yang begitu besar dari mereka berdua. Meski dalam keadaan yang sangat mengerikan, Sanda masih saja berusaha terlihat tenang walau sebenarnya ia pun merasakan sedikit ketakutan di dalam hatinya. Bukan takut ia kenapa-napa, tetapi lebih ke arah takut, apabila ia tidak mampu menjaga Sena dari badai yang sementara ini.

__ADS_1


__ADS_2