Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 21 : Pertemuan Yang Harmonis


__ADS_3

Sanda dan Sena pun menoleh ke arah pintu masuk.


"Waalaikumsalam," ucap Sanda dan Sena sembari melihat Ibu Sanda masuk ke dalam rumah


Ibu Sanda pun masuk ke dalam rumah, dan Sanda pun menyalami nya, kemudian Ibu Sanda melihat ke arah perempuan yang duduk di kursi tamu yang berada di sebelah Sanda


"Ini yang nama nya Sena?" ucap Ibu Sanda sembari Sena menyalami nya


"Iya, Bu," ucap Sena kepada Ibu Sanda


Datang lah Adik Sanda yang bernama Langit, ia masuk ke rumah membawa beberapa belanjaan.


"Dek, salam Abang dulu sama Kakak," ucap Ibu Sanda kepada Langit


Langit pun menghampiri Sanda dan Sena kemudian menyalami nya, meskipun Langit hanya diam saja, karena Langit cukup termasuk anak kecil yang pemalu dan imut.


Ketika dia menyalami Sena.


"Eh Adik kecil, lucu banget sih kamu," ucap Sena sembari menyodorkan tangannya untuk disalami oleh Langit, kemudian mengelus kepala Langit


Langit pun hanya tersenyum tipis.


"Dia pemalu orang nya, Sena. Jadi tidak banyak bicara," ucap Ibu Sanda kepada Sena


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, nama nya juga anak kecil," ucap Sena kepada Ibu Sanda


"Sebentar ya, Ibu ke kamar dulu, mau ganti pakaian," ucap Ibu Sanda kepada Sanda dan Sena


"Iya, Bu," jawab Sanda dan Sena


"Sini, Langit. Duduk di dekat Kakak," ucap Sena kepada Langit


*Dari sisi Salisa


Salisa yang tengah berjalan dari dapur sembari membawa segelas air putih pun, bertemu Ibu nya yang ingin menuju ke kamar.


"Eh, Ibu sudah pulang," ucap Salisa sembari menyalami Ibu nya


"Iya, sudah. Kamu bawakan apa itu untuk Kak Sena?" tanya Ibu Salisa sembari menyodorkan tangannya untuk disalami oleh Salisa


"Air putih, Bu," ucap Salisa kepada Ibu nya


"Kenapa air putih saja? Buatkan Teh atau kopi barangkali, jangan air putih saja, sayang," ucap Ibu Salisa kepada Salisa


"Tapi tadi sudah Lisa tanyakan, Bu. Kata Kak Sena dia mau nya air putih saja," ucap Salisa kepada Ibu nya

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau seperti itu, antarkan saja dulu minuman nya ke ruang tamu," ucap Ibu Salisa kepada Salisa


"Baik, Bu," ucap Salisa kepada Ibu nya


Kemudian Salisa pun pergi dari hadapan Ibu nya dan menuju ruang tamu.


*Dari sisi Sanda, Sena dan Langit


Langit yang terlihat masih malu-malu pun, memilih untuk pergi kepada Sanda.


Kemudian Sanda pun memeluk nya.


"Dia ini pemalu sekali dengan orang yang baru kenal, benar tidak," ucap Sanda sembari mencium Langit


"Tapi kalau sudah kenal lama, tidak ada lagi malu-malu nya," ucap Sanda


Sena pun tersenyum.


"Langit kelas berapa?" tanya Sena kepada Langit


"Emmm.... pat," ucap Langit sembari menunjukkan angka 4 pada jari nya ke arah Sena


"Empat apa?" tanya Sena lagi


"SD," ucap Langit


"Mari, di minum Kak," ucap Salisa sembari meletakkan gelas nya di atas meja


"Iya, terima kasih Salisa," ucap Sena kepada Salisa


"Oh, ya. Ini Kakak bawakan 3 kotak kue untuk kita makan bersama-sama," ucap Sena sembari memberikan 3 kotak kue itu kepada Salisa


"Oh, terima kasih banyak Kak," ucap Salisa kepada Sena


"Sama-sama," jawab Sena kepada Salisa


Sanda pun melihat Sena dan Adik-Adik nya berinteraksi, semua itu cukup membuat ia tersenyum dan bahagia di hari ini.


*Sekian waktu berlalu


Mereka pun mulai duduk bersama-sama, Ada Ibu Sanda, Sanda, Salisa, Langit dan juga Sena.


Ibu Sanda dan Sena seperti nya mulai akrab, mereka mulai banyak bercerita, dan tak cuman sekali mereka tertawa bersama-sama, bahkan Sanda, Salisa dan Langit pun ikut tertawa mendengar obrolan mereka berdua.


"Oh jadi seperti itu ya Bu, hahaha," ucap Sena kepada Ibu Sanda sembari tertawa

__ADS_1


"Iya Sena, Sanda ini dulu nakal sekali, bisa-bisa nya dia bilang kalau buah mangga yang ia ambil itu punya dia, sementara ia sedang berbicara dengan pemilik pohon mangga yang sebenarnya," ucap Ibu Sanda menceritakan tentang Sanda waktu ia masih kecil, kepada Sena


"Sudah Bu, jangan lebih banyak lagi memberitahu itu," ucap Sanda sembari juga tertawa mengingat masa kecil nya


"Kenapa? Biarkan saja, aku ingin tau lebih banyak," ucap Sena memotong kalimat Sanda


Mereka berlima pun tertawa bersama di hari itu, banyak pembicaraan yang membuat Sena dan keluarga Sanda semakin dekat dan akrab.


Sanda yang melihat itu semua terjadi di depan matanya, cukup membuat ia senang, bahkan lebih dari cukup. Dia sangat bahagia di hari itu. Melihat ketiga wanita yang ia sayangi saling berbincang dan tertawa bersama, menceritakan seluruhnya, bahkan ia sangat merasakan ketenangan di balik keramaian ruang tamu rumah nya di hari itu.


"Langit jangan meniru Bang Sanda waktu kecil ya," ucap Sena kepada Langit sembari tersenyum


Langit pun hanya tersenyum saja.


"Tapi, apakah Ibu tau kalau sebenarnya Sanda ini satu-satu nya murid yang sangat hebat dalam menulis? Bahkan dia memenangkan lomba tingkat provinsi," ucap Sena kepada Ibu Sanda


Ibu Sanda tampak sedikit terkejut atas ucapan Sena, karena selama ini ia tidak tau, Sanda sangat tertutup kepada keluarga nya tentang dirinya sendiri, bahkan kepada Ibu nya.


"Yang benar, Sena?" tanya Ibu Sanda kepada Sena


Sanda diam saja mendengar mereka berdua berbicara.


"Iya, Bu. Jadi Ibu tidak tau?" tanya Sena kepada Ibu Sanda


"Tidak Nak, Ibu tidak tau," ucap Ibu Sanda kepada Sena


"Sanda, kamu ya, ku kira Ibu tau," ucap Sena kepada Sanda


Sanda pun menjawab.


"Bagi ku itu hal yang tidak terlalu penting, Sena. Jadi aku tidak pernah memberitahu Ibu," ucap Sanda kepada Sena


"Anak ku, itu penting sekali bagi Ibu, Ibu ingin mendengar informasi itu, kenapa kau sembunyikan selama ini," ucap Ibu Sanda memotong pembicaraan Sanda kepada Sena


"Biar Sena saja yang memberitahu Ibu," ucap Sena kepada Ibu Sanda


Sena pun mulai menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Sanda, ia menjelaskan seberapa berbakat nya Sanda dalam bidang tulis menulis tersebut.


Ibu Sanda yang selama ini tidak tau pun, cukup terharu di dalam hati nya mendengar Anak nya yang ia kira hanya seperti anak sekolahan biasa pada umum nya, ternyata Anak nya itu lebih dari dugaan nya tersebut.


"Serius, Kak?" tanya Salisa memotong ucapan Sena


"Iya, Salisa. Abang mu sangat pintar menulis puisi dan sajak," ucap Sena kepada Salisa


"Wah, kalau seperti itu, boleh aku pinjam buku catatan kecil itu untuk ku baca, Bang?" tanya Salisa kepada Sanda, ia mengetahui buku catatan kecil itu dari apa yang diceritakan Sena barusan

__ADS_1


"Tentu saja, nanti Abang berikan," ucap Sanda kepada Adik nya, yaitu Salisa


Jauh di dalam hati Sanda, ia merasa sangat bahagia, karena setelah sekian lama, ia akhirnya mendengar ada orang yang sangat bangga ketika menceritakan tentang dirinya. Karena memang dalam beberapa tahun belakangan, Sanda sangat tertutup dalam segala hal, karena ia tidak pernah merasa bahwa ada seseorang yang akan bangga pada dirinya, bahkan apabila ia menceritakan seluruh hal yang terjadi di dalam hidup nya itu kepada Ibu nya. Tapi hari ini, Sena telah membuat ia sadar, bahwa Ibu dan Adik-Adik nya sangat mencintai dan bangga kepada dirinya. Bahkan Sena telah menjadikan ia seorang pria yang paling bahagia di hari ini.


__ADS_2