
Farisa yang tengah resah karena tidak ada jawaban apapun dari Akira soal bagaimana cara mereka bisa pulang sekarang ini, tiba-tiba ia di datangi oleh sebuah mobil.
Seketika Farisa dan Akira pun terdiam, melihat seorang perempuan turun dari dalam mobil itu, dan perempuan itu adalah Sena.
"Kalian sedang menunggu apa? Sudah malam seperti ini, tidak pulang?" tanya Sena kepada Farisa dan Akira
"Mmm.... Belum, tidak ada yang bisa mengantar kami pulang." ucap Farisa kepada Sena
"Dengan ku saja kalau begitu, biar ku antarkan." ucap Sena kepada Farisa
Betapa berasa bersalahnya Farisa, sudah mencintai kekasih Sena yang di mana Sena nya sendiri sebaik itu, kepada dirinya.
"Tidak usah, tidak perlu. Kami sedang menunggu teman kami di dalam." ucap Akira menjawab ucapan Sena
"Kalian yakin? Ini sudah hampir tengah malam, mungkin teman kalian masih lama di dalam, soalnya acara kan masih lama selesai." ucap Sena kepada Akira
Farisa dan Akira pun saling memandang, seolah di dalam hati mereka berdua berkata "Kita terima ajakan nya atau tidak". Tapi memang di malam itu, mereka berdua tidak lagi punya pilihan apa-apa, karena kalau lebih lama di sana, Farisa boleh jadi akan mendapatkan masalah besar oleh orang tuanya.
Farisa dan Akira yang sedari tadi masih terdiam dan saling memandang, Sena pun mulai menanyakannya kembali.
"Bagaimana? Mau ikut dengan ku saja? Atau kalian masih ingin menunggu di sini?" tanya Sena kepada mereka berdua
Dengan tidak enak hati, Farisa pun menjawab ucapan Sena.
"Boleh, tapi apa kau tidak keberatan?" tanya Farisa kepada Sena
"Ayolah, rumah kita se arah dan kita pun satu sekolah, tak perlu sungkan, tenang saja, aku tidak keberatan." jawab Sena kepada Farisa
"Baik lah." ucap Farisa
"Ayo masuk ke mobil." ucap Sena sembari berjalan menuju mobilnya
Farisa dan Akira pun mulai mengikuti langkah kaki Sena. Farisa memandang Akira dengan kode-kode, seolah-olah mereka berdua sangat tidak enak kepada Sena.
Sesampainya di dalam mobil Sena.
"Hai, aku Sarah, teman sekelas Sena." ucap Sarah memutarbalikkan badannya ke arah belakang, ke arah Farisa dan Akira
"Aku Farisa." ucap Farisa sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sarah dan Sarah pun menyambut sodoran tangan Farisa itu untuk berkenalan
"Salam kenal." ucap Sarah kepada Farisa
"Ya, salam kenal juga." ucap Farisa kepada Sarah
Sarah pun mulai menyodorkan tangannya ke arah Akira sembari berkenalan.
"Aku Sarah." ucap Sarah
Akira pun menjawab sodoran tangan Sarah itu, akhirnya mereka pun berjabat tangan.
__ADS_1
"Aku Akira." ucap Akira kepada Sarah
Sembari mobil sedang dikemudikan oleh Sena, Sarah pun bertanya-tanya kepada Farisa dan Akira yang kini tengah duduk di kursi belakang yang berada di dalam mobil itu.
"Kalian kelas apa?" tanya Sarah kepada Farisa dan Akira
"IPA 2" jawab Farisa kepada Sarah
"Oh, IPA 2." ucap Sarah
"Kalau kalian berdua? Dari kelas mana?" tanya Farisa kepada Sarah dan Sena
"Kalau kami dari kelas IPA 1." ucap Sarah menjawab pertanyaan Farisa
"Oh, IPA 1" ucap Farisa
"Tapi, aku jarang melihat dirimu di sekolahan Farisa? Kalau Akira masih sering aku lihat di kantin, sementara kau jarang sekali aku melihatnya." ucap Sarah kepada Farisa
"Ya, mungkin karena memang aku jarang keluar kelas, aku lebih suka di kelas sebenarnya, makanya jarang kelihatan di sekolah." ucap Farisa kepada Sarah
"Oh, kenapa jarang keluar kelas?" tanya Sarah kepada Farisa
"Tidak ada, cuma tidak terlalu suka keramaian saja." jawab Farisa kepada Sarah
"Kalau tidak suka keramaian, kenapa kau ikut datang di acara ini, Farisa?" tanya Sarah lagi
Farisa bingung harus menjawab apa, bahkan Akira yang mendengarkan percakapan mereka berdua sedari tadi pun juga tidak tau harus menjawab apa. Karena tidak mungkin mereka berdua jujur atas apa yang terjadi, tentu saja selain itu Farisa sangat tidak enak kepada Sena, atas apa yang perasaannya lakukan kepada kekasih Sena.
Dia kini sudah tiba di depan rumahnya, ia sampai jam setengah 11 malam, yang di mana keluarganya sudah pada tidur semuanya.
Ia mengetuk pintu rumah.
*TokTokTok* suara ketukan pintu
"Ibu, Salisa, Langit. Abang pulang." ucap Sanda
Dan ya, tidak ada respon dari dalam rumah. Sanda pun mulai berjalan ke arah jendela kamar Salisa. Ia mulai mengetuk jendela kamar Salisa yang berada di samping rumah.
"Salisa." ucap Sanda sembari mengetuk jendela
Salisa yang tengah enak tertidur pun, akhirnya terbangun setelah mendengar suara ketukan dari jendela kamarnya. Lalu tak berapa lama kemudian, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya berkali-kali.
"Siapa?" tanya Salisa
"Ini Abang, tolong bukain pintu nya." ucap Sanda dari luar jendela kamar Salisa itu
"Oh Abang, iya Bang tunggu sebentar." ucap Salisa sembari mengusap kedua matanya, kemudian ia berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju keluar kamarnya untuk membuka kan pintu untuk Sanda
Dan Sanda pun mulai berjalan kembali ke depan pintu rumahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Salisa membukakan pintu rumah untuk Sanda.
"Dari mana saja Abang, tumben malam seperti ini baru pulang." ucap Salisa sembari menyalami tangan Sanda
"Iya, maaf lupa mengabarimu, Abang tadi sudah mengirim pesan kepada Ibu, tapi mungkin Ibu tidak memberitahu mu. Abang tadi ada acara di pusat kota, makanya pulang sedikit larut malam." ucap Sanda kepada Salisa sembari memberikan tangannya untuk di salami oleh Salisa
Sanda pun mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
"Oh, acara apa Bang?" tanya Salisa kepada Sanda yang baru saja masuk ke dalam rumah, sembari ia menutup dan mengunci pintu rumahnya
"Acara festival musik." ucap Sanda kepada Salisa
Salisa pun sedikit kaget mendengar ucapan Sanda, karena dia tau sekali Abang nya itu tidak suka keramaian, bagaimana bisa Abang nya datang ke acara festival musik seperti itu.
"Ha? Gimana-gimana Bang? Aku tidak salah dengar?" tanya Salisa kepada Sanda
"Ya, tidak salah dengar kok, kenapa memangnya?" tanya Sanda kepada Salisa
"Bang Sanda pergi ke acara festival musik? Kok bisa? Kan Abang tidak suka keramaian, gimana caranya tiba-tiba Abang sekarang mau ke tempat-tempat seperti itu." ucap Salisa bertanya kepada Sanda
"Oh, soal itu, tadi Kakak Sena mu mengajak Abang ke sana, makanya abang jadi ikut." ucap Sanda kepada Salisa
"Oh, karena Kakak Sena. Pantas saja kok Abang bisa-bisanya pergi ke acara yang penuh dengan manusia seperti itu." ucap Salisa kepada Sanda
"Ya sudah, maafin Abang sebelumnya ya." ucap Sanda kepada Salisa
"Maaf kenapa Bang?" tanya Salisa kepada Sanda
"Sudah membangunkan Salisa tidur karena harus membukakan pintu untuk Abang." ucap Sanda kepada Salisa
"Tidak apa-apa Bang." ucap Salisa kepada Sanda
"Ya sudah, silahkan Salisa tidur lagi, Abang naik dulu ke kamar, mau istirahat juga." ucap Sanda kepada Salisa
"Baik lah Bang." ucap Salisa kepada Sanda
Sanda pun mulai menaiki tangga yang berada di samping pintu rumahnya, tangga itu mengarah ke jalan menuju kamarnya.
Belum ada beberapa langkah, tiba-tiba Salisa kembali memanggil.
"Eh sebentar, Bang." ucap Salisa yang menghentikan langkah Sanda
"Kenapa?" tanya Sanda kepada Salisa
"Aku mau minjam buku catatan kecil milik Abang yang berisi sajak-sajak itu, mana bukunya?" tanya Salisa kepada Sanda
"Oh, sebentar." ucap Sanda sembari membuka tas nya
Ia mencari-cari di dalam tas nya, dan ia tidak menemukan buku itu. Dan tak lama kemudian, baru ia teringat.
__ADS_1
"Ya ampun, buku Abang ketinggalan dengan Kak Sena, dia tadi meminjam buku itu." ucap Sanda kepada Salisa