Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 41 : Setelah Jumpa


__ADS_3

Ketika Sanda sampai di rumahnya, Sanda pun mendapati Ibunya yang tengah duduk di ruang tamu. Tidak seperti biasanya, Ibunya kini menunggu dia pulang ke rumah. Biasanya Ibunya selalu berada di dalam kamar, sementara untuk sekarang tidak, Ibunya benar-benar menunggu.


"Assalamualaikum." ucap Sanda sembari berjalan masuk dan menuju ke arah Ibunya


"Waalaikumsalam." ucap Ibu Sanda yang sedang memandangi televisi dari ruang tamu itu, kemudian teralihkan ketika Sanda mulai tiba di dekatnya


Sanda pun langsung menyalami Ibunya.


"Kenapa kau bisa berada di pusat kota?" tanya Ibu Sanda kepada Sanda


"Buku catatan kecil Sanda kemarin tertinggal di perpustakaan tua, Bu. Makanya tadi Sanda ke sana untuk mengambilnya." ucap Sanda kepada Ibunya


"Kenapa kau bersama Sena?" tanya Ibu Sanda kepada Sanda


"Karena terakhir kali memang Sena yang memegang buku Sanda, ia meminjamnya. Terus ia lupa, lalu tertinggal di sana. Sempat ia mau mengambil sendirian di sana, tetapi Sanda larang. Karena jauh dari sekolah untuk ke pusat kota, maka dari itu akhirnya Sanda bersama dia untuk mengambil buku catatan kecil milik Sanda di perpustakaan tua itu, Bu." ucap Sanda kepada Ibunya


Sanda pun mulai duduk di sebelah Ibunya.


"Syukur lah kau dan dia tidak kenapa-napa." ucap Ibu Sanda kepada Sanda


"Apa Ibu khawatir?" tanya Sanda memastikan kepada Ibunya


Ibu Sanda yang tadi memandang televisi pun, mulai melihat ke arah Anak pertamanya itu.


"Pertanyaan seperti apa itu?" tanya Ibu Sanda kepada Sanda


Sanda pun langsung menundukkan kepalanya.


"Ya, memastikan saja, Bu." ucap Sanda kepada Ibunya


"Tentu saja Ibu khawatir, kau Anak Ibu. Bahkan semua orang tua pun akan khawatir ketika Anaknya berada di dalam situasi yang berbahaya seperti itu." ucap Ibu Sanda kepada Sanda


Sanda pun merasa senang di dalam hatinya, berarti Ibunya sangat menyayangi dirinya, meski memang tidak tampak dari cara Ibunya berprilaku kepadanya, tidak seperti orang tua orang lain yang sampai menangis dan memeluk Anaknya ketika berada di dalam situasi yang mengerikan seperti tadi. Tetapi percayalah, cinta yang terletak di dalam hati Ibu Sanda begitu besar kepada Anaknya tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah, Bu. Sanda masuk ke kamar dulu." ucap Sanda kepada Ibunya


"Ya." jawab Ibu Sanda kepada Sanda


Sanda pun mulai berjalan naik ke atas melalui tangga yang menuju kamarnya, tetapi ketika ia melangkahkan kakinya, ia teringat sesuatu yang harus ia berikan kepada Adiknya, yaitu Salisa.


Ia pun berjalan ke kamar Salisa. Sesampainya di depan pintu kamar Salisa, ia mulai mengetuk pintu kamar Salisa.


"Salisa." ucap Sanda sembari mengetuk pintu kamar Adiknya itu


Salisa yang tengah membaca buku dari dalam kamarnya pun, kemudian langsung meletakkan buku itu ketika mendengar suara Abangnya di depan pintu kamar.


"Abang!" teriak Salisa melihat ke arah Sanda sembari memeluk Abangnya tersebut


Salisa sedari tadi menangis di dalam kamarnya, mencemaskan kondisi Abangnya, ia membaca buku hanya untuk mengalihkan pikiran dia agar tidak terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak kepada Abangnya barusan, sebab ia tau sekali Abangnya itu orang yang sangat pandai menyembunyikan luka, ia selalu berpikiran bahwa Abangnya itu pasti kenapa-napa dan hanya berkata bahwa dirinya baik-baik saja untuk menyembunyikan sesuatu. Dan ya, perkiraan Salisa itu tidak benar untuk kejadian ini, Sanda baik-baik saja, tetapi soal Sanda memang pandai menyembunyikan luka itu benar, memang Sanda sangat pintar memanipulasi perasaannya sendiri.


"Kenapa kau kelihatan sedih seperti itu, Adik Abang yang cantik?" tanya Sanda sembari mengelus punggung Adiknya, yaitu Salisa


"Aku takut Abang kenapa-napa di sana, soalnya tadi aku, Langit dan Ibu sedang menonton televisi ketika badai dadakan tiba, dan berita di televisi itu sangat mengerikan, aku takut Abang kenapa-napa di luar rumah." ucap Salisa kepada Sanda


"Syukur lah, Bang." ucap Salisa sembari melepaskan pelukannya kepada Sanda


"Abang membawakan ini untuk mu." ucap Sanda kemudian membuka tasnya


"Apa Bang?" tanya Salisa kepada Sanda


"Sebentar." ucap Sanda sembari masih mencari buku catatan kecil itu di dalam tasnya


"Nah ketemu." ucap Sanda ketika sudah menemukan buku catatan kecil itu di dalam tasnya


"Ini." ucap Sanda sembari memberikan buku catatan kecil miliknya kepada Salisa


"Oh, iya terima kasih Bang." ucap Salisa kepada Sanda

__ADS_1


"Maaf ya, lama memberikannya kepada mu. Soalnya Buku itu tertinggal di pusat kota kemarin." ucap Sanda kepada Salisa


"Jadi Abang ke pusat kota cuma untuk mengambil buku ini?" tanya Salisa kepada Abangnya


"Iya." jawab Sanda kepada Salisa


"Ya ampun, Abang, cuma karena buku yang mau ku pinjam semalam, Abang sampai membahayakan diri Abang sendiri, maafkan aku." ucap Salisa kepada Sanda


"Tidak, kau tidak salah Salisa. Siapa yang menyangka akan terjadi badai di pusat kota tadi, bencana itu datang secara dadakan, tidak ada yang salah." ucap Sanda kepada Salisa


*Dari sisi Sena


Kini dia sudah berada di ruang keluarga, bersama dengan Ibunya. Mereka berdua duduk di sofa yang berada di sana.


"Bagaimana tadi kau di sana ketika terjadi badai dadakan itu, Sena?" tanya Mama Sena kepada Sena


"Ya, Sena jujur saja, Sena takut, Ma, Sena sedikit panik. Tapi untung ada Sanda yang bisa menenangkan Sena." ucap Sena kepada Mamanya


"Kalian berdua berada di mana ketika badai datang?" tanya Mama Sena kepada Sena


"Di depan ruko, Ma. Awalnya kami kira hujan biasa, jadi kami berteduh dulu di sana, ternyata lama-kelamaan, angin semakin kencang, hujan semakin deras dan ya, badai mulai datang setelah itu. Kami berada di ruko itu cukup lama sampai benar-benar pada akhirnya badai itu berhenti. Sampai-sampai kami tertidur di dalam badai." ucap Sena kepada Mamanya


"Bagaimana bisa? Memangnya kalian tidak melihat banyak atap rumah warga yang berterbangan? Bahkan sampai-sampai ada pohon besar yang tumbang." ucap Mama Sena kepada Sena


"Kalau atap warga, kami melihatnya, Ma. Itu jelas terjadi tepat di depan mata kami." ucap Sena kepada Mamanya


"Lalu, bagaimana ketika kalian melihat itu terjadi di depan mata kalian?" tanya Mama Sena kepada Sena


"Sudah pasti Sena ketakutan, Ma. Tetapi Sanda benar-benar tenang, ia selalu memberitahu Sena bahwa kami akan baik-baik saja." ucap Sena kepada Mamanya


"Apa dia setenang itu?" tanya Mama Sena kepada Sena, karena Mama Sena heran, bagaimana bisa ada orang setenang itu di dalam situasi yang genting


"Iya, Ma. Dia memang setenang itu." ucap Sena kepada Mamanya

__ADS_1


Mama Sena pun merasa takjub setelah mendengar ucapan dari Anaknya tersebut tentang Sanda. Ia merasa benar-benar pantas untuk Sanda bersanding dengan Anak semata wayangnya. Selain karena memang Sanda yang memiliki paras yang tampan dan sopan, ia juga bisa menjaga Anak kesayangan dari Mama Sena.


__ADS_2