
Sesampainya di depan rumah Farisa.
"Terima kasih, Sena." ucap Farisa kepada Sena
"Sama-sama." ucap Sena kepada Farisa
"Hati-hati di jalan, aku duluan." ucap Farisa sembari membuka pintu mobil dan turun
"Ya." jawab Sena
Tak lama kemudian, Sena pun pergi dari hadapan Farisa. Ketika Sena sudah pergi dari hadapan Farisa, di depan rumah Farisa, ia tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ia sembunyikan. Ia menangis.
"Kenapa hati ku sakit seperti ini." ucap Farisa sembari cepat-cepat mengusap air mata nya
Ia pun mulai membuka pagar rumahnya setelah menyeka air mata nya. Kemudian ia berjalan ke depan pintu rumahnya dan mulai mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Ibunya pun keluar membuka kan pintu.
"Tepat jam 11, dari mana saja?" tanya Ibu Farisa kepada Farisa setelah membuka kan pintu
Farisa pun segera menyalami tangan Ibunya sembari berkata.
"Dari acara festival musik di pusat kota, Bu. Bersama dengan Akira dan teman-teman lainnya." ucap Farisa kemudian berjalan masuk ke dalam rumah nya
"Jangan lagi pulang jam segini, mengerti?" ucap Ibu Farisa kepada Farisa
"Iya, Bu." ucap Farisa kepada Ibunya
"Farisa ke kamar dulu ya, Bu. Mau istirahat." ucap Farisa kepada Ibunya
"Iya, jangan lupa ganti pakaian mu dulu." ucap Ibu Farisa kepada Farisa
"Baik lah, Bu." ucap Farisa kepada Ibunya
Kemudian ia pun mulai berjalan menuju kamarnya.
*Dari sisi Sena
Di dalam perjalanan, sebenarnya banyak pertanyaan di dalam benak Sena.
"Mengapa dia bisa berada di tempat yang di mana ada aku dan Sanda, apa dia benar-benar menyukai Sanda? Tapi kalau memang iya, Sanda juga kan sudah mencintaiku, tidak mungkin Sanda akan berpaling hati." ucap hati Sena
"Tapi, kalau tiba-tiba Sanda mulai menyukai dirinya, bagaimana?" tanya hati Sena lagi
__ADS_1
Sena terus bertanya-tanya di dalam hatinya, sebab kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika dengan anehnya Farisa datang untuk memberikan cokelat kepada mereka berdua ketika di perpustakaan.
*Dari sisi Sanda
Ia kini tengah melihat malam dari jendela kamarnya, mengamati bintang-bintang tersebut. Ia menikmati suasana sejuk dan bulan pada malam itu.
"Sena, andaikan lah kau tau, bulan yang indah itu, tak sebanding dengan wujud dirimu. Andailah kau tau, sebagaimana sayang nya malam kepada bumi ini, lebih jauh perasaan sayang ku kepada mu. Tapi Sena, hati ku memang begini, tapi sikap ku tidak begitu tampak. Yang pasti, aku hanya bisa mencintai dirimu dengan cara ku sendiri, Sena." ucap hati Sanda sembari melihat ke arah langit dan bintang-bintang
Ketika beberapa saat setelah Sanda termenung bersama lamunannya. Ia mulai teringat untuk menanyakan kabar Sena. Ia pun mulai pergi ke kasurnya dan mengambil ponselnya. Ia langsung menelepon Sena.
Sena yang mendengar dering teleponnya berbunyi pun, langsung mengangkat telepon itu setelah mengambil ponselnya dari tas kecil yang ia bawa.
Ia melihat seseorang yang menelepon itu adalah Sanda.
"Halo." ucap Sena memanggil dari dalam panggilan telepon itu
"Halo, di mana sudah dirimu sekarang? Sudah sampai?" tanya Sanda kepada Sena dari dalam panggilan telepon itu
"Sebentar lagi aku sampai, Sanda. Masih di dalam perjalanan." ucap Sena kepada Sanda
"Baik lah, hati-hati di jalan, ya." ucap Sanda kepada Sena
"Dah." ucap Sena lagi, sembari mematikan panggilan telepon itu
Sesampainya ia di depan rumah, ia mulai turun dari dalam mobilnya, sembari ia memencet bel rumah nya. Tak lama kemudian, Mama nya pun keluar dari dalam rumah.
"Kenapa malam sekali pulangnya, Sena?" tanya Mama Sena sembari berjalan menuju pagar rumah
"Ya, karena memang acaranya Ma, ini saja sebenarnya belum selesai, tapi Sena pulang duluan saja, daripada kemalaman di jalan." ucap Sena kepada Mama nya yang kini tengah membuka kan pagar rumah untuk Sena bisa membawa mobilnya masuk ke garasi
"Oh, bagus lah, jangan malam-malam lagi pulangnya." ucap Mama Sena kepada Sena
"Iya, Ma." jawab Sena sembari berjalan kembali ke dalam mobilnya, untuk mengemudikan mobil itu dan membawanya masuk ke dalam garasi rumah nya
Setelah itu, Sena mulai masuk ke dalam rumah bersama dengan Mama nya.
"Sama siapa saja tadi di sana?" tanya Mama Sena kepada Sena
"Sena, Sanda, Sarah dan teman-teman kelas lainnya." ucap Sena kepada Mama nya
"Kenapa Sanda tidak menjemput saja ke rumah?" tanya Mama Sena kepada Sena
__ADS_1
"Dia sudah lebih dulu berada di pusat kota, dia ke perpustakaan tua tadi sore, sementara Sena masih di rumah." ucap Sena kepada Mama nya
"Perpustakaan tua? Buat apa dia ke sana?" tanya Mama Sena kepada Sena
"Ya baca buku lah Ma, mau ngapain lagi dia ke sana." ucap Sena kepada Mama nya
Kini Sena dan Mama nya mulai duduk di ruang keluarga, mereka duduk berdua di sana, kelihatan sekali Sena kelelahan karena sudah hampir seharian beraktivitas di luar rumah.
"Dia memang orangnya seperti itu?" tanya Mama Sena kepada Sena
"Iya, Ma. Kenapa memangnya?" tanya Sena kepada Mama nya, karena Mama nya seolah-olah tampak heran mendengar jawaban dari Sena barusan
"Ya, aneh saja, kok bisa ada anak muda seperti Sanda di zaman sekarang ini, kan setahu Mama anak zaman sekarang lebih suka menongkrong di kafe, daripada membaca buku di perpustakaan, apalagi perpustakaan tua." ucap Mama Sena kepada Sena
Sena pun langsung senyum-senyum sendiri mendengar ucapan Mama nya kepada Sanda. Ia merasa bahwa Sanda benar-benar spesial.
Mama Sena yang melihat Anak nya itu tersenyum sendiri, langsung bertanya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Mama Sena kepada Sena
"Tidak apa-apa, Ma." ucap Sena kepada Mama nya
"Hmm, Ma. Sena boleh nanya?" tanya Sena kepada Mama nya
"Ya boleh, mau nanya apa?" tanya Mama Sena kepada Sena
"Papa dulu waktu masih muda, orangnya gimana sih Ma, sampai Mama bisa jatuh cinta sama Papa?" tanya Sena kepada Mama nya
Mama Sena pun tersenyum setelah mendengar pertanyaan dari Anak nya tersebut.
"Dulu, Papa kamu itu...." ucap Mama Sena masih menahan kata-kata selanjutnya
Sena pun dengan antusias menunggu kelanjutan ucapan dari Mama nya.
"Papa itu, dulu nya." ucap Mama Sena lagi sembari menahan ucapannya
"Dulu gimana Ma? Ih Mama menahan-nahan cerita ah, tidak seru." ucap Sena sedikit bete karena dijaili oleh Mama nya
Mama Sena pun tertawa melihat wajah Anak kesayangannya itu cemberut. Ia pun mencubit pipi Anaknya tersebut sembari berkata.
"Besok Mama ceritakan, panjang soalnya ceritanya, sekarang sudah hampir tengah malam, tidak ada waktu. Lebih baik sekarang kamu masuk kamar, ganti pakaian dan tidur." ucap Mama Sena kepada Sena
__ADS_1