Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 44 : Topeng Itu Hancur


__ADS_3

Adik-Adik Sanda pun mulai berdatangan dan menyalami tangan Sanda.


Tak lama, Ibunya menjawab ucapan Sanda barusan.


"Oh, bagaimana ketika bertemu dengan Mamanya? Apa kau gugup?" tanya Ibu Sanda kepada Sanda


Sanda melihat lantai sejenak, kemudian mulai memandang ke arah Ibunya tersebut.


"Tidak, Bu." ucap Sanda dengan diiringi senyuman


"Bagus lah." ucap Ibu Sanda kepada Sanda


"Dengan Papanya, kau bertemu juga?" tanya Ibu Sanda


"Tidak, Bu." jawab Sanda


"Kenapa?" tanya Ibu Sanda lagi


"Papanya masih berada di luar kota." ucap Sanda


"Oh." ucap Ibu Sanda


"Sanda naik ke kamar dulu, Bu." ucap Sanda


"Ya, beristirahat lah." ucap Ibu Sanda


Sanda pun mulai berjalan ke lantai 2, menuju kamarnya.


*Waktu pun berlalu*


Keesokan hari nya, Sanda dan Sena seperti biasa, pergi sekolah bersama. Di dalam perjalanan menuju sekolah, tepat di lampu merah, ada anak kecil yang sedang meminta-minta di sana.


"Kak, minta rezeki nya sedikit Kak, kami belum makan." ucap anak kecil itu kearah Sanda dan Sena yang tengah berhenti di lampu merah tersebut


Sanda yang melihat itu, langsung mengambil uang di saku nya, kemudian memberikan kepada anak kecil tersebut.


"Ini, Dek." ucap Sanda


"Terima kasih, Kak." ucap anak kecil itu


Melihat reaksi Sena yang langsung memberikan anak kecil itu uang, Sena pun bertanya kepada Sanda.


"Kenapa kau memberikan dia uang? Kasihan dia kalau kau berikan uang seperti itu, nanti dia selalu dijadikan bahan untuk mencari uang secara instan oleh orang tuanya." ucap Sena


"Kita kan tidak tau Sena, entah dia masih memiliki orang tua atau tidak. Aku hanya ingin membantu sebisa ku saja, supaya dia tidak kelaparan. Mau dia sedang bersandiwara atau tidak, itu bukan urusan kita, kan." ucap Sanda

__ADS_1


Tak lama dari perbincangan itu, lampu pun mulai berubah dari merah menjadi hijau. Mereka kemudian langsung melanjutkan perjalanan.


"Benar, ucap mu barusan. Tetapi aku sudah sering sekali bertemu anak kecil yang mengemis di lampu merah seperti anak itu tadi, dan kadang aku berpikir, di mana orang tua mereka? Apa jangan-jangan mereka diperalat oleh orang tua mereka sendiri untuk menghasilkan uang dengan cara mengemis." ucap Sena


"Aku pun tidak tau, Sena. Setidaknya aku hanya bisa sedikit membantu kehidupan mereka, terlepas dari mereka bohong atau tidak. Karena, ya, aku hanya menjalankan tugas sebagai sesama manusia." ucap Sanda


Mendengar ucapan Sanda, Sena pun hanya diam saja.


*Waktu berlalu*


Dari sisi Farisa.


Farisa tengah duduk di kursi kantin bersama dengan Akira, mereka tengah makan bakso di sana.


"Sudah lama sekali aku tidak makan bakso." ucap Akira


"Yang benar? Setiap sore aku malah selalu beli bakso." ucap Farisa


"Ya, kau tentu saja bisa makan setiap sore, orang Abang-Abang bakso nya selalu melewati jalur rumah mu, sementara aku? Tidak ada penjual bakso yang lewat di depan rumah ku." ucap Akira


Farisa pun tertawa sejenak.


"Kasihan sekali sahabat ku ini." ucap Farisa sembari melanjutkan makannya


"Tapi memang bakso memang makanan paling enak sepertinya, setelah sate." ucap Akira


Akira yang merasa Farisa mendiamkan dirinya, langsung memandang ke arah Farisa dan melihat arah mata Farisa memandang.


"Risa." ucap Akira sembari menepuk pundak Farisa


Farisa pun mulai tersadar seketika.


"Oh, iya, kenapa? Apa tadi apa tadi? Kau bicara apa? Aku tidak terlalu mendengarnya tadi." ucap Farisa sembari mulai melihat ke arah Akira


Akira sudah melihat lebih dulu ke arah Farisa, dan ketika Farisa melihat ke arah nya, ia langsung berkata.


"Sudah lah Ris, lupakan semua tentang dia." ucap Akira kepada Farisa


Farisa yang tengah melihat ke arah Akira, mulai seolah-olah ia tidak tau maksud ucapan Akira barusan.


"Ha? Lupakan apa? Aku tidak mengingat apapun perasaan." ucap Farisa kepada Akira


"Aku ini tau, apa yang kau pikirkan itu, Farisa. Barusan saja, kau melihat Sanda dan Sena, yang lagi memesan makanan di sana, kan." ucap Akira sembari memberi kode mata kepada Farisa, untuk menunjuk ke arah Sanda dan Sena yang memang tengah berdiri di depan sana untuk memesan makanan


Farisa pun mulai melihat ke arah Sanda dan Sena lagi, setelah itu, ia mulai mengembalikan pandangannya ke arah mangkuk bakso nya, dan mulai kembali memakan bakso itu seraya berkata.

__ADS_1


"Aku melihatnya dengan tidak sengaja." ucap Farisa


"Bukan masalah melihatnya atau tidak, Farisa. Tapi ini soal perasaan mu. Kenapa kau masih menyimpan perasaan itu kepada nya? Bukankah kau sudah tau, dia tidak akan pernah mungkin menjadi milik mu?" ucap Akira


Dan ucapan Akira barusan, benar-benar seolah-olah menampar wajah Farisa.


"Kau benar, Akira." ucap Farisa dengan tatapan sendu, sembari masih memakan bakso yang berada dihadapannya


Dari sisi Sanda dan Sena.


"Nasi goreng nya 2 ya?" tanya Ibu penjaga kantin kepada Sanda dan Sena


Sanda pun menjawab.


"Iya, Bu." ucap Sanda


"Baik lah, tunggu saja di meja, ya. Nanti Ibu antarkan." ucap Ibu penjaga kantin


"Baik, Bu." ucap Sanda


Sanda dan Sena mulai pergi dari tempat memesan makanan di kantin itu, dan mulai berjalan ke arah meja yang kosong, kemudian mereka pun duduk di sana.


"Tumben kau tidak mengajakku ke perpustakaan?" tanya Sena


"Aku sedang lapar, jadi lagi malas membaca buku." ucap Sanda


"Bisa lapar juga anda ternyata ya." ucap Sena menggoda Sanda


"Tentu saja lah, kan aku manusia, yang bukan manusia itu..." ucap Sanda sembari mendekatkan wajah nya ke arah wajah Sena


Sena pun memundurkan wajahnya dari Sanda yang mulai mendekat ke arahnya.


Sanda langsung menyentuh hidung Sena dengan jari telunjuknya.


"Dirimu." ucap Sanda setelah menyentuh hidung Sena


Sena tampak tak bisa berkata apa-apa, ia tertegun, melihat wajah Sanda yang sangat dekat dengan wajahnya barusan, ia seperti salah tingkah, seperti detak jantungnya berhenti sejenak. Ia hanya mematung setelah kejadian tersebut.


Dari sisi Farisa.


Farisa yang melihat kejadian itu dari kejauhan pun, langsung meletakkan sendok dan garpunya di dalam mangkuk bakso itu, dan kemudian ia berdiri lalu pergi dengan berlari dari sana.


Akira yang melihat reaksi Farisa barusan.


"Farisa, tunggu." ucap Akira kemudian mengejar Farisa yang tiba-tiba saja pergi dari tempat duduknya

__ADS_1


Kini Farisa benar-benar tidak bisa lagi berpura-pura untuk baik-baik saja.


__ADS_2