
Beberapa jam berlalu, badai yang tadi kencang pun mulai berhenti perlahan, Sanda dan Sena terlihat tertidur di dalam pelukan mereka masing-masing.
Ketika Sanda tersadar, betapa terkejutnya dia melihat keadaan yang ada di depan matanya. Atap -atap rumah berhamburan di depan matanya, dedaunan dan beberapa ranting pohon memenuhi seluruh sekeliling aspal. Tepat di depan dia, motornya pun tertimpa beberapa ranting-ranting pohon dan anehnya, di sebelah mereka benar-benar aman.
Sanda yang tersadar dalam keadaan seperti itu, langsung membangunkan Sena yang berada di dalam pelukannya.
"Sena." ucap Sanda sembari menepuk pundak Sena
Sena pun terbangun karena suara dan tepukan tangan Sanda di pundaknya.
Ketika Sena membuka mata, ia pun terkejut melihat sekelilingnya.
"Ya ampun, Sanda. Badai tadi begitu hebat, sampai-sampai jalanan ini seperti bukan jalan lagi." ucap Sena
"Ya, benar Sena. Kita tertidur di dalam badai yang mengerikan ini." ucap Sanda
"Dan kita..." ucap Sena sembari melihat keadaan dirinya dan Sanda
"Baik-baik saja." ucap Sena lirih karena tidak percaya, ia mengira bahwasanya dirinya dan Sanda akan ada yang terluka. Tapi ternyata tidak, mereka berdua baik-baik saja
"Sudah ku katakan, banyak hal yang belum terjadi, tak perlu ditakutkan. Seperti kejadian saat ini, ketakutan mu tidak benar-benar terjadi, kan." ucap Sanda kepada Sena
Sena yang kini melihat Sanda, langsung memeluk Sanda seraya berkata.
"Sayang, kita masih hidup dan baik-baik saja." ucap Sena sembari menangis
"Ya, kekasih ku. Kita baik-baik saja." ucap Sanda sembari mengelus pundak Sena
*Dari sisi Sarah
Kini, Sarah dan teman-teman mereka yang lainnya, mulai berdatangan ke pusat kota setelah badai mulai mereda, karena tidak adanya kabar dari Sena membuat Sarah dan teman-teman lainnya merasakan khawatir.
Sarah kini tengah berada di dalam mobil, bersama dengan teman-teman kelasnya. Baru sampai perbatasan pusat kota, mobil mereka tidak bisa melewati jalan karena pada jalan perbatasan antara daerah mereka dan pusat kota, terhalangi oleh pohon besar yang jatuh ke tanah hingga menutupi alur kendaraan.
"Sarah, bagaimana caranya kita melewati ini." ucap salah seorang teman Sarah
"Ya ampun, ini baru perbatasan, bagaimana pusat kota yang menjadi tempat utama badai dadakan itu muncul." ucap salah seorang teman Sarah yang lainnya
__ADS_1
Sarah pun terdiam, di dalam hatinya berkata.
"Sena, ku harap kau baik-baik saja, aku percaya Sanda bisa menjaga mu." ucap hati Sarah
"Sarah." panggil salah seorang temannya lagi
Sarah yang sedari tadi terdiam pun, mulai tersadar.
"Ya, kenapa?" tanya Sarah
"Bagaimana? Kita tidak bisa melewati jalan ini." ucap salah seorang teman Sarah bertanya lagi
Belum Sarah menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk, dan panggilan itu dari Mama Sena.
"Halo, Tante." ucap Sarah setelah mengangkat panggilan itu
"Bagaimana, Sarah. Sudah ketemu Sena nya?" tanya Mama Sena dalam panggilan telepon itu
Dengan berat hati, Sarah menjawab.
"Sesuatu? Maksudnya apa Sarah?" tanya Mama Sena
"Iya, Tante. Kami terjebak sekarang ini tepat di perbatasan jalan menuju pusat kota. Ada pohon besar yang jatuh menghalangi jalan mobil kami." ucap Sarah kepada Mama Sena
*Dari sisi Ibu Sanda
Ibu Sanda dan Adik-Adik Sanda kini tengah berada di ruang tengah, setelah badai mereda, Ibu Sanda masih saja menyuruh Salisa berkali-kali untuk menelepon Abangnya, yaitu Sanda. Meski sedari tadi panggilan itu tidak pernah terhubung, karena sinyal di pusat kota sedang gangguan yang diakibatkan oleh badai.
"Salisa, telepon lagi Abang mu." ucap Ibu Salisa kepada Salisa
Salisa yang sedari tadi masih menelepon Sanda, tidak mendapatkan jawaban apa-apa, karena memang panggilan itu tidak pernah sampai.
"Sudah, Bu. Tidak terhubung." ucap Salisa kepada Ibunya
Tak lama kemudian, Langit yang merasa bosan pun, mulai menghidupkan TV, karena listrik baru saja hidup beberapa menit yang lalu, setelah hampir 3 jam lebih padam.
Ketika Langit baru saja menghidupkan TV, langsung muncul berita terkini, yang menggambarkan tentang situasi yang berada di pusat kota. Di dalam berita itu, salah satu presenter berita menjelaskan bahwasanya terjadi banyak kehancuran di pusat kota, beberapa atap rumah warga berterbangan dan ada beberapa pohon besar yang tumbang. Bahkan di suatu jalan sampai tertutup aspalnya dengan dedaunan dan ranting-ranting pohon.
__ADS_1
"Ya ampun, semoga kau baik-baik saja Anakku." ucap hati Ibu Sanda setelah melihat berita itu
*Dari sisi Sanda dan Sena
"Sudah, jangan menangis lagi, buktinya sekarang kau dan aku masih hidup, kita baik-baik saja, kan." ucap Sanda sembari menyeka air mata Sena
"Maafkan aku yang terlalu cengeng ini, Sanda. Maaf ya." ucap Sena kepada Sanda
"Tidak apa-apa." jawab Sanda kepada Sena
Sanda mulai berdiri dari duduknya, sembari menarik tangan Sena.
"Ayo, kita ke perpustakaan tua sekarang." ucap Sanda
"Yang benar saja, Sanda." ucap Sena sembari berdiri karena memegang tangan Sanda yang sedang menariknya
"Jalanan itu dipenuhi dengan daun dan ranting pohon, bagaimana kita bisa melewatinya?" tanya Sena kepada Sanda
"Kenapa kau harus memikirkan hal sejauh itu, Sena. Ayolah, ini hanya dedaunan dan ranting pohon, tinggal kita lewati saja." jawab Sanda dengan santai kepada Sena
*Dari sisi Sarah
Kini mereka semua akhirnya bisa melewati jalan itu, setelah tak lama dari terjebak tadi, datang lah mobil Damkar yang cepat pergerakannya untuk menyelesaikan masalah di tengah jalan tersebut.
Kini Sarah dan kawan-kawan mulai sampai di pusat kota.
"Sarah, kita mau ke mana? Pusat kota ini luas, Sarah. Harus ke mana kita lebih dulu untuk mencari Sena?" tanya salah seorang teman Sarah yang sedang mengemudikan mobil Sarah tersebut
"Perpustakaan tua." ucap Sarah kepada salah seorang temannya
*Dari sisi Sanda dan Sena
Kini, mereka berdua telah sampai di depan gedung perpustakaan tua itu, setelah melewati cukup banyak rintangan di dalam perjalanan. Dan banyaknya mobil Damkar di sepanjang jalan, yang tengah membantu warga yang sedang terkena musibah setelah terjadinya badai tadi.
Kini Sanda dan Sena pun akhirnya tiba juga kepada tujuan mereka sedari awal. Meski kini, langit yang sedari tadi gelap karena badai, kemudian langsung berubah menjadi cerah, tetapi kini mulai menjadi gelap lagi karena waktu sudah hampir malam.
Untungnya, sesampainya Sanda dan Sena di perpustakaan tua itu, masih ada salah seorang penjaga perpustakaan tua itu yang terjebak di sana selama badai berlangsung, dan baiknya, penjaga perpustakaan itu dalam keadaan baik-baik saja, dan perpustakaan tua itu pun tidak mengalami kehancuran fatal karena badai yang tadi melanda.
__ADS_1