Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 38 : Perhatian Dari Seorang Sahabat


__ADS_3

Masuk lah Sanda dan Sena ke dalam perpustakaan tua tersebut, ketika sampai di dalam, Sanda langsung menuju ke tempat penjaga perpustakaan itu.


"Bagaimana keadaannya Bu? Apakah anda sendirian di sini?" tanya Sanda kepada Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Iya, Nak. Saya sendirian di sini. Untungnya baik-baik saja, badai tadi hanya memorak-porandakan bagian taman saja, untungnya di dalam ini tidak kena akibatnya." ucap Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda


"Syukur lah kalau seperti itu Bu, senang mendengar baik-baik saja." ucap Sanda kepada Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Ada apa kalian kemari, Nak?" tanya Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda dan Sena


"Kami ingin mencari buku catatan kecil yang hilang, Bu. Covernya warna putih, dia buku yang kecil penuh dengan sajak-sajak." ucap Sena kepada Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Oh, sebentar." ucap Ibu penjaga perpustakaan itu


Ia kemudian langsung berjalan menuju laci di bawah meja yang berada di sampingnya, ia langsung mengambil buku catatan kecil itu.


"Ini bukan?" tanya Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda dan Sena


"Iya, benar Bu. Itu yang kami cari." ucap Sena kepada Ibu penjaga perpustakaan tua itu


Kemudian Ibu penjaga perpustakaan tua itu mulai memberikan buku catatan kecil itu kepada Sena.


"Ibu kira, itu tulisan seorang penyair yang telah lama hilang." ucap Ibu penjaga perpustakaan itu


"Mungkin benar, Bu. Tapi tidak lama, baru 1 hari hilangnya." ucap Sena kepada Ibu penjaga perpustakaan itu, kemudian ia melihat ke arah Sanda


Ibu penjaga perpustakaan tua itu pun melihat ke arah mata Sena memandang.


"Oh, ini tulisan kamu?" tanya Ibu-Ibu penjaga perpustakaan itu kepada Sanda


"Iya, Bu." jawab Sanda kepada Ibu penjaga perpustakaan itu


"Wah, pantas saja perempuan cantik dan manis seperti dia jatuh cinta, ternyata dari zaman dulu selalu benar, kekuatan kata dari seorang penyair adalah sihir." ucap Ibu-Ibu penjaga perpustakaan tua itu


Sanda dan Sena pun tersenyum mendengar ucapan Ibu-Ibu itu.

__ADS_1


"Baik lah Bu, terima kasih sudah menyimpan buku catatan kecil ini. Kami mau pulang dulu." ucap Sanda kepada Ibu-Ibu penjaga perpustakaan itu


"Sama-sama, hati-hati di jalan kalian berdua." ucap Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Baik, Bu." ucap Sanda dan Sena kemudian berjalan menuju arah pintu untuk keluar dari dalam perpustakaan tua itu


"Sebentar." ucap Ibu penjaga perpustakaan itu tiba-tiba


Sanda dan Sena pun kemudian berbalik badan.


"Kenapa, Bu?" tanya Sanda kepada Ibu penjaga perpustakaan itu


"Nama kalian berdua siapa?" tanya Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda dan Sena


"Saya, Sanda Sambiru." jawab Sanda


"Saya, Rasena Angelika." jawab Sena menyusul


"Oh, baik lah. Barangkali suatu hari kalian datang lagi kemari, jadi Ibu ingat nama kalian." ucap Ibu penjaga perpustakaan itu kepada Sanda dan Sena


"Barangkali, suatu hari nanti Nak Sanda ingin menerbitkan buku, bisa beritahu ke Ibu, biar bisa Ibu bantu untuk menyampaikan niat itu kepada penerbit, kebetulan perpustakaan tua ini punya banyak koneksi ke para penerbit manapun. Jadi Ibu melihat sebuah potensi dari Nak Sanda, ya barangkali, suatu hari nanti, kalau Nak Sanda minat." ucap Ibu penjaga perpustakaan itu kepada Sanda


"Terima kasih atas bantuannya Bu, apabila memang saya sudah ingin. Pasti akan saya beritahu Ibu." ucap Sanda kepada Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Sama-sama." ucap Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda


"Kami permisi, Bu." ucap Sanda kepada Ibu penjaga perpustakaan tua itu


"Ya, hati-hati." ucap Ibu penjaga perpustakaan tua itu kepada Sanda dan Sena


Kini, Sanda dan Sena sudah berada di depan gedung perpustakaan tua itu.


"Mungkin ide yang di sebut Ibu-Ibu penjaga perpustakaan di dalam tadi, bisa di coba." ucap Sena kepada Sanda


"Aku belum berniat menerbitkan apapun." ucap Sanda kepada Sena

__ADS_1


"Kenapa? Tulisan kau kan banyak, kau bisa membuat buku kumpulan sajak-sajak ataupun kumpulan puisi. Kau juga bisa menulis banyak hal, cerpen bahkan sampai ke novel, kan." ucap Sena kepada Sanda


"Benar, tapi aku belum mau, Sena. Aku merasa aku belum punya kapasitas untuk menerbitkan buku, aku belum punya kemampuan untuk memotivasi orang-orang." ucap Sanda kepada Sena


"Ah kau ini, memangnya menerbitkan sebuah buku harus memotivasi orang-orang?" tanya Sena kepada Sanda, sembari kini Sena mengambil helmnya yang tergantung di spion motor Sanda


Ia mulai memakai helmnya, dan Sanda pun menjawab sembari mengambil helmnya.


"Ya tidak harus, cuma aku merasa punya beban moral saja jika tidak bisa menginspirasi banyak orang." jawab Sanda kepada Sena, sembari mengenakan helmnya


"Beban moral bagaimana? Kalau tidak menginspirasi menjadi lebih baik, setidaknya buku kau tidak menginspirasi orang-orang untuk menjadi lebih buruk kan? Lagi pula, membaca sajak-sajak indah darimu itu sangat menghibur, Sanda. Dan menghibur banyak orang, itu salah satu hal yang paling mulia." ucap Sena kepada Sanda


Sanda yang baru selesai mengenakan helmnya pun, langsung melihat ke arah Sena.


"Ya sudah, nanti jika aku sudah ingin menerbitkan buku, aku akan memberitahu mu." ucap Sanda kepada Sena


"Yeay, bagus." ucap Sena sembari tersenyum kepada Sanda


Tak lama dari perbincangan mereka berdua, tiba lah mobil Sarah dan teman-teman kelas Sena lainnya di hadapan Sena.


*Tin..Tin....* bunyi klakson mobil Sarah


Sena dan Sanda pun sontak terkejut, tiba-tiba mendengar klakson mobil yang berada tepat di hadapan mereka. Tak lama kemudian, Sarah pun turun dan langsung berlari ke arah Sena, serta disusul orang beberapa teman-teman Sena yang lainnya.


"Senaa..." ucap Sarah sembari berlari ke arah Sena dan memeluk Sena


"Kau baik-baik saja? Kami semua mengkhawatirkan mu." ucap Sarah yang sedang memeluk Sena


"Iya, aku baik-baik saja. Kenapa kau sampai datang ke sini?" tanya Sena kepada Sarah


Ketika Sarah masih memeluk Sena, Sanda yang berada di sebelah Sena pun mulai menggeser tempat ia berdiri ke arah yang sedikit jauh dari mereka berdua. Sanda pun hanya melihat perbincangan mereka berdua.


Sarah pun mulai berbicara lagi walau kini ia tengah menangis di pelukan Sena, serta susulan pelukan dari teman-teman perempuan Sena yang lainnya di sana.


"Aku dapat kabar dari Mama mu, kalau kau belum pulang ke rumah, sementara tadi ada badai dadakan yang muncul di pusat kota. Lalu aku baru teringat, kalau kau akan ke pusat kota bersama kekasih mu hari ini, seperti yang kau katakan tadi di kelas. Di situ aku cemas, aku takut sahabat ku ini kenapa-napa." ucap Sarah kepada Sena

__ADS_1


Sena pun mengelus punggung Sarah.


"Tidak apa-apa, sudah jangan menangis, aku baik-baik saja. Selama bersama Sanda, sahabat mu ini akan selalu baik-baik saja." ucap Sena sembari melihat ke arah Sanda yang berdiri memandangi mereka


__ADS_2