Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 43 : Bimbang


__ADS_3

Sena segera melihat ke arah Mama nya, seraya memberikan kode mata dan panggilan yang halus.


"Ma." ucap Sena kepada Mama nya


Mama Sena pun memahami itu.


"Oh, maaf Nak Sanda, Tante tidak tau." ucap Mama Sena kepada Sanda


"Tidak apa-apa, Tante." ucap Sanda kepada Mama Sena dengan menyembunyikan apa yang tengah ia pikirkan


Jauh di dalam pikiran Sanda.


"Aku harus menjawab apa tentang Ayah ku, aku saja tidak tau dia berada di mana saat ini." ucap hati Sanda


Cerita itu pun terus berlanjut, Mama Sena mulai banyak bercerita soal apa saja kepada Sanda, dan Sanda pun merasa sangat senang karena keberadaannya diterima dengan baik oleh Mama Sena.


Tak terasa sudah sangat lama sekali mereka berbincang di sana, saling membicarakan segalanya. Kini, Sanda mulai berpamitan pulang dari rumah Sena.


Sanda melihat jam di dinding rumah Sena sudah mulai menunjukkan pukul 5 sore, ia mulai memberitahu Mama Sena dan Sena.


"Tante, Sena. Sanda izin pamit pulang dulu, sudah sore, Ibu juga sudah pasti menunggu Sanda di rumah." ucap Sanda kepada Mama Sena


"Oh, baik lah Nak Sanda, terima kasih sudah mampir ke sini, jangan lupa datang lagi besok-besok, ya." ucap Mama Sena kepada Sanda


"Iya, Tante." ucap Sanda kepada Mama Sena


"Hati-hati di jalan." ucap Sena kepada Sanda


Sanda pun mulai berdiri dari tempat duduknya, ia mulai menghampiri Mama Sena dan menyalami nya.


"Permisi Tante, Assalamualaikum." ucap Sanda kepada Mama Sena


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan." ucap Mama Sena kepada Sanda

__ADS_1


Sanda pun mulai melangkahkan kaki nya keluar dari dalam rumah Sena, diikuti pula oleh Sena. Sedangkan Mama Sena berada di dalam rumah.


"Sanda, maafkan pertanyaan Mama ku tadi, ya." ucap Sena kepada Sanda, tentang pertanyaan Mama Sena kepada Sanda mengenai Ayah Sanda


"Tidak apa-apa, Sena. Mama mu juga tidak tau soal itu, jadi wajar saja ia bertanya." ucap Sanda kepada Sena


"Jangan kau pikirkan berlarut-larut, Sanda." ucap Sena kepada Sanda


"Iya, Sena." ucap Sanda kepada Sena


Sanda dan Sena pun mulai berjalan ke pagar rumah Sena, lebih tepatnya ke arah motor Sanda.


"Aku duluan, ya." ucap Sanda sembari menaiki motornya


"Iya, hati-hati di jalan, ya. Salam sama Ibu, Salisa dan Langit." ucap Sena kepada Sanda


"Iya, nanti ku beritahu mereka." ucap Sanda kepada Sena


Di dalam perjalanan menuju ke rumahnya.


"Bagaimana bisa, aku tidak bisa menjelaskan apa-apa tentang Ayah ku sendiri, bahkan aku saja tidak tau dia berada di mana sekarang." ucap hati Sanda di dalam perjalanan menuju rumahnya


"Bagaimana aku bisa menjamin kebahagiaan Sena, bila sebenarnya diriku sendiri pun tidak sebahagia itu, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Aku takut akan merusak kebahagiaan yang Sena miliki selama ini." ucap hati Sanda lagi


Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia melewati segala pertanyaan di dalam kepala nya selama bertahun-tahun lama nya. Ia tidak mengerti mengapa Ayah pergi, ia tidak tau mengapa ia harus ada di situasi seperti ini. Terkadang ia ingin menceritakan seluruh rasa perihnya, tapi ia sadar itu hanya akan menyusahkan orang lain, apa lagi kalau ia menceritakan itu kepada Ibu nya.


Tak lama kemudian, ketika Sanda sedang sibuk bertengkar di dalam ketakutan yang berada di dalam kepalanya. Ia pun mulai sampai ke rumahnya.


Ketika Sanda mulai memarkirkan motornya kemudian masuk ke dalam rumah, Ibu nya sedang berada di ruang tengah, sedang menonton TV, di temani dengan kedua Adik nya.


"Lihat itu, bagaimana bisa mereka melakukan hal-hal seperti itu?" ucap Langit, Adik bungsu Sanda yang tengah berbicara kepada Ibu dan Salisa, sembari menunjuk TV yang sedang menayangkan acara sulap


Sanda yang kini tengah berdiri di ruang tamu pun, terhenti langkah kaki nya ketika melihat keluarga kecil nya berkumpul.

__ADS_1


"Aku mungkin sering sedih dan menangis ketika menyadari keluarga kecil kita seolah-olah sangat sepi, Bu. Mungkin karena dulu aku masih bertanya-tanya tentang Ayah yang pergi meninggalkan kita. Tapi, bagaimana aku bisa memberitahukan kesedihan ku itu, Bu. Ketika melihat dirimu dan Adik-adik ku bersama, aku rasa memang benar cerita itu harus ku pendam sendiri, biarkan kebahagiaan kita ini tidak terganggu oleh perasaan ku yang keruh." ucap hati Sanda ketika melihat ke arah keluarganya yang tengah asik menonton TV


Di depan mata Sanda, terlihat sekali canda tawa dari Ibu, Salisa dan Langit ketika menonton acara TV tersebut.


Selama ini, Sanda berusaha menjadi Abang yang hebat dan kuat di depan Adik-adiknya, berusaha menjadi orang yang paling tegar di dalam keluarga.


Tak sengaja, ketika melihat keluarga kecilnya tersebut, Sanda teringat masa lalu, ia mulai terhanyut sejenak di dalam kepalanya.


Suatu hari pernah Salisa bertanya kepada Sanda mengenai Ayah mereka, dan Sanda hanya menjawab Ayah sedang pergi. Meski Salisa kembali bertanya kapan Ayah pulang, Sanda hanya menjawab besok.


Dan seperti itu seterusnya, sampai Salisa mulai melupakan pertanyaan itu. Ya, Salisa bertanya kepada Sanda ketika Salisa masih berumur 3 tahun, ia tidak tau apa-apa ketika bertanya seperti itu kepada Sanda. Sedangkan Sanda waktu itu tengah berumur 6 tahun. Tapi selayaknya orang dewasa, Sanda mampu berusaha menenangkan Adik nya tersebut melalui perilakunya. Meski setelah menjawab pertanyaan dari Salisa, Sanda sangat sering sekali menangis di dalam kamarnya.


Ibu tidak pernah memberitahu Sanda mengapa Ayah meninggalkan mereka, tetapi Ibu hanya sempat berkata ketika Sanda masih kecil.


"Kau laki-laki terhebat yang Ibu punya, Sanda. Jaga Adik-Adik mu ketika kau sudah dewasa, kau harus belajar mandiri mulai sekarang." ucap Ibu Sanda ketika Sanda masih kecil


Hanya itu saja yang diingat Sanda. Dan ya, setelah mendengar ucapan Ibu nya, Sanda yang dulu nya adalah anak yang manja kepada Ibu nya, apa-apa Ibu, apa-apa Ibu. Berubah sangat drastis, ia mulai menjadi pendiam dan tertutup sedari saat itu.


Salisa yang menyadari keberadaan Sanda di ruang tamu pun, mulai memanggil.


"Abang sudah pulang?" tanya Salisa seketika melihat Sanda


Sanda yang tak lama flashback ke masa lalu, kini pun ia mulai tersadar.


"Iya." ucap Sanda sembari berjalan ke arah mereka bertiga


Ibu dan Langit pun mulai melihat ke arah Sanda.


"Dari mana saja? Kenapa sore baru sampai rumah?" tanya Ibu kepada Sanda


Sanda kini berjalan dan mulai mendekati Ibu nya, untuk menyalami Ibu nya tersebut.


"Dari rumah Sena, bertemu dengan Mama nya, Bu." ucap Sanda kepada Ibu nya sembari menyalami tangan Ibu nya

__ADS_1


__ADS_2