Malam Setelah Dirimu

Malam Setelah Dirimu
CH - 32 : Memanipulasi Perasaan


__ADS_3

"Oh, ketinggalan ya." ucap Salisa sembari menundukan kepalanya.


"Besok Abang pinta kembali, ya. Terus Abang berikan kepada mu." ucap Sanda kepada Salisa


"Iya deh Bang." ucap Salisa kepada Sanda


"Ya sudah, sekarang kamu masuk kamar dan tidur dulu, besok pasti sepulang sekolah langsung Abang berikan kepada mu." ucap Sanda kepada Salisa


Salisa hanya menganggukan kepalanya, kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


*Dari sisi Sena


Kini ia sudah selesai menghantarkan Sarah dan Akira pulang lebih dulu, kini tersisa ia bersama Farisa di dalam mobil, untuk menghantarkan Farisa pulang.


"Sekarang tinggal rumah mu, di mana arah jalannya Farisa?" tanya Sena kepada Farisa


Farisa yang kini sudah berada di kursi sebelah Sena pun, mulai memberitahu jalannya.


"Ikuti saja jalan ini, terus di persimpangan depan belok ke kanan. Maju saja sampai ketemu lampu merah, baru belok ke kiri, tidak jauh dari situ ada gang, antar aku sampai gang saja, Sena." ucap Farisa kepada Sena


"Eh jangan, hari ini sudah malam, biar aku antar sampai ke depan rumah mu." ucap Sena kepada Farisa


"Tidak usah, Sena. Rumah ku cukup jauh dari sana, harus masuk ke dalam lagi." ucap Farisa kepada Sena


"Tidak apa-apa, tenang saja." ucap Sena sembari mulai mengemudikan mobilnya lagi, setelah tadi menurunkan Akira di depan rumah Akira


Farisa yang tengah duduk di kursi sebelah Sena, sangat merasa tidak enak kepada Sena, atas apa yang terjadi pada perasaannya. Ia sebenarnya tidak mau merepotkan Sena seperti ini, tapi apalah daya, malam sudah hampir larut, tidak mungkin dia tidak pulang.


"Kau memang suka menyendiri kah, Farisa?" tanya Sena tiba-tiba kepada Farisa


"Ya, seperti itu lah Sena." ucap Farisa kepada Sena


"Aku dulu sama seperti mu, lebih suka sendirian daripada bertemu orang-orang. Tapi semua berubah semenjak aku masuk ke SMA ini, setelah mengenal Sarah dan teman-teman lainnya." ucap Sena berbasa-basi dengan Farisa


"Oh, bagus lah, berarti kau sudah bertemu teman yang tepat." ucap Farisa kepada Sena


"Kau pun sama, kan?" tanya Sena kepada Farisa


"Ya mungkin, tapi aku memang tidak bisa terlalu lama di keramaian. Entah kenapa seolah-olah aku sangat lelah ketika melihat orang yang berkerumunan seperti tadi." ucap Farisa kepada Sena

__ADS_1


"Nah, kalau memang kau tidak bisa di keramaian, kenapa tadi bisa ikut acara festival itu? Ini hanya pertanyaan ku saja, soalnya setahu ku kalau orang tidak suka dengan keramaian, dia pasti tidak akan ke sana." ucap Sena kepada Farisa


Farisa pun mulai berpikir untuk menjawab ucapan Sena, karena tidak mungkin dia akan menjawab sejujurnya.


"Itu karena Akira, dia mengajak ku jalan-jalan, katanya sesekali untuk menghibur diri sendiri." ucap Farisa kepada Sena


"Oh." jawab Sena kepada Farisa


Sejenak, mereka berdua saling diam sebentar.


"Terima kasih cokelatnya, cokelat kemarin enak." ucap Sena kepada Farisa


Farisa pun langsung sontak terkejut, karena melihat Sena yang masih mengingat kejadian itu.


"Oh, iya, sama-sama." ucap Farisa dengan sangat canggung


Tak lama dari itu, berdering lah ponsel milik Sena, menandakan ada seseorang yang meneleponnya. Kemudian ia melihat layar notifikasi panggilan dari ponselnya tersebut, setelah ia melihat, ternyata yang meneleponnya adalah Sanda. Ia mengangkat telepon dari Sanda itu.


"Halo, ada apa sayang?" ucap Sena kepada Sanda dari dalam panggilan telepon itu


Farisa yang mendengar ucapan dari Sena itu pun, tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Jujur, ia merasa sakit hati setelah mendengar ucapan dari Sena barusan kepada pria yang ia cintai. Tetapi di lain sisi, dia juga tidak punya hak untuk cemburu, karena memang dia bukan siapa-siapanya Sanda. Dan hal lainnya, sudah pasti dia tidak enak dengan Sena. Tapi kini, semua perasaannya sudah sangat bercampur aduk.


"Belum, masih di jalan." ucap Sena kepada Sanda


"Kenapa lama sekali di jalan, sayang? Sudah mau tengah malam sebentar lagi." ucap Sanda kepada Sena


"Iya, tadi baru selesai mengantar Sarah pulang dan temannya Farisa. Dan sekarang mau mengantarkan Farisa pulang dulu." ucap Sena kepada Sanda


"Oh kamu dengan Farisa, memangnya ketemu mereka di mana?" tanya Sanda kepada Sena


"Di depan acara festival musik tadi." ucap Sena kepada Sanda


"Oh, mereka nonton acara itu juga?" tanya Sanda kepada Sena


"Iya." ucap Sena kepada Sanda


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan, ya. Sampai jumpa besok." ucap Sanda kepada Sena


"Iya kekasih ku." ucap Sena sembari mematikan panggilan telepon itu

__ADS_1


Setelah mematikan panggilan itu, Sena mulai meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa sedari tadi.


"Perhatian ya, kekasih mu." ucap Farisa berbasa-basi, dan di lain sisi, dia juga ingin menutupi perasaan sakit di dalam dada nya


Dengan tersenyum, Sena menjawab.


"Iya, aku bersyukur bisa dicintai oleh pria seperti dirinya." ucap Sena kepada Farisa


"Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Farisa kepada Sena


"Baru 1 bulan lebih." jawab Sena kepada Farisa


"Oh." ucap Farisa


"Kalau kau sendiri?" tanya Sena kepada Farisa


"Apanya?" tanya Farisa kembali


"Ya maksudnya kau dengan kekasih mu? Bagaimana? Sudah lama berpacaran?" tanya Sena kepada Farisa


"Jangankan lama, punya kekasih saja aku tidak pernah." jawab Farisa kepada Sena


"Oh, sebenarnya kita sama, aku baru kali ini jatuh cinta, dan kebetulan orang yang bisa membuat aku jatuh cinta adalah seorang penyair misterius itu." ucap Sena kepada Farisa


Farisa pun hanya mendengarkan saja ucapan Sena itu.


"Aku juga tidak tau, mengapa harus mencintai dirinya, padahal dia saja cuek nya minta ampun waktu dulu kepada ku. Tapi entah lah, tiba-tiba di setiap malam dan siang isi kepala ku hanya tentang dirinya." ucap Sena kepada Farisa


Benar saja, mendengar ucapan Sena barusan, hati Farisa seolah-olah tengah di iris-iris menggunakan pisau yang tajam, seolah-olah perasaan Farisa benar-benar hancur tersayat oleh kata-kata dari Sena. Dan ya, posisi Farisa di sini sangat serba salah. Ia tidak tau mengapa dia merasakan perasaan yang seharusnya tidak perlu dia rasakan.


"Pasti kau sangat bahagia bersamanya." ucap Farisa kepada Sena


"Sangat." ucap Sena kepada Farisa


Kemudian mereka berdua terdiam beberapa saat.


"Tapi kau tenang saja, suatu hari kau pasti akan menemukan seseorang yang mencintai dirimu sepenuhnya, kok. Jalani saja hari-hari mu, pasti akan sampai kepada seseorang jodoh mu suatu hari nanti." ucap Sena kepada Farisa


"Semoga." ucap Farisa kepada Sena sembari tersenyum

__ADS_1


Jujur saja, sebenarnya, air mata Farisa itu tak lagi kuasa, tapi di posisi yang serba salah ini, ia harus pintar berpura-pura.


__ADS_2