Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 1 : `Tidak Ada Kesendirian`


__ADS_3

Tak ada yang berhenti mengalir


Semuanya telah kocar kacir


Tersebab karena katana yang melawan


Bukan..


Aku sudah tak sudi mendengar ocehan mereka


Berhenti ?


Tidak !! aku menyukainya


Darah ?


Itu adalah kesukaannku, seni yang realistis


Pistol ?


Adalah tangan kananku


Kekerasan ?


Bukankah itu sebuah kunci kesenangan ?


Kata mereka, aku tak punya hati


Salah !


Aku pernah memilikinya, tapi sekarang sudah mati..


Aku dulu pernah mencinta, tapi sekarang ?


Mengingatpun aku tak sudi


Hidupku telah menyengat nadi


Kamu tau ? didunia ini...


Terlalu dibanggakan bahwa cinta adalah kehidupan yang sesungguhnya


Terlalu banyak yang mengatakan bahwa hati yang pemaaf adalah sebuah penerang


Semuanya akan menjadi baik-baik saja ketika hatimu penuh dengan kebaikan


Bulshitt !!!!


Aku pernah mengalaminya


Hidup tidak membutuhkan hal itu


Yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah..


Kekuasaan


Ambisi


Kekuatan


Bukan mereka yang mengatakan bahwa cinta adalah kehidupan


Cih itu terlalu naif bukan ?


-Malvinae

__ADS_1


-------------------------------------------------


Action !!


“AYAHHHH !” teriak gadis berusia 21 tahun bersurai hitam serta bermanik biru.


Gadis itu tak kuasa ketika ia harus melihat ayahnya dibawa oleh para bodygard dalam keadaan yang sudah tak bernyawa. Kakinya berlari menghampiri peti mati yang hendak dikuburkan.


Gadis itu sedikit membuka peti untuk melihat wajah ayahnya terakhir kali. Jari jemarinya menjelajahi wajah superheronya, mulai dari kening, mata, hidung, mulut. Bibirnya seperti mengucapkan sesuatu, namun tak ada yang bisa mendengarnya karena terlalu lirih.


Perlahan ia berjalan mundur menjauhi peti itu, dan melaksanakan pemakaman seperti seharusnya. Cukup sudah, ini adalah yang terakhir kalinya. Ia sekarang benar-benar sendiri.


Ibunya telah pergi menghadap tuhan ketika ia berusia 10 tahun, dan sekarang Ayahnya ?


Gadis itu telah sampai kedepan mansion yang sangat megah, ditemani dengan kaki yang berdarah.


“Nona ? astaga kaki Anda.” Teriak salah satu pelayan yang sudah paruh baya.


Namun gadis itu tetap tak menanggapinya, ia tetap berjalan meninggalkan jejak kaki berwarna merah. Menapaki setiap anak tangga berlantai marmer dengan wajah yang sangat kusut.


Brakk..


Gadis itu membanting pintu kamarnya, ia menangis terisak membelakangi pintu dan memeluk kedua kakinya.


“ayahhh.. kenapa kau tak mengajakku pergi juga ?”


“apakah kau tak menyayangiku ?”


“apakah anakmu ini terlalu menyusahkanmu ?”


“ibu.. kenapa kau tak membujuk Ayah untuk membawaku ?”


“apakah kalian meninggalkanku sendiri ?”


Gadis itu bermonolog, tak ada siapapun sekarang. ia berharap bahwa kedukaan ini adalah sebuah mimpi, tapi ia juga tau bahwa harapan itulah yang sebenarnya mimpi.


 


Manik biru telah terbuka dari gelapnya malam, cahaya sudah terlihat sebagai penerang. Hari telah berganti meninggalkan kenangan, gadis itu telah bangkit dari ranjangnya.


“aku harus menggantikan Ayah kekantor sekarang !”


Gadis itu segera menuju kekamar mandi, sesegera mungkin untuk membuatnya sibuk agar ia lupa akan kesedihannya. Ia memang sudah melupakan, eh.. bukan melupakan tapi..


mengikhlaskan kepergian sang ayah ?


Entahlah, tapi mungkin ia merasa bahwa dia sekarang masih belum benar\-benar sendiri. Ia masih memiliki superheronya yang lain, sang kakak yang tampan.


Tak


Tak


Suara sepatu pantofel terdengar di sebuah kantor yang sangat besar.


“Kak Khansa.. apa jadwalku sekarang ?” teriak gadis itu.


“Sudah ku katakan kau sekarang adalah Bos dan aku adalah sekretarismu, jangan kau panggil aku kakak ketika dikantor !”


“Ay.. Ay.. kakak ipar !”


“hufftt... sudahlah, satu jam lagi kau ada meeting Nona. Dengan Presdir Gavin Corp’s, pertemuan itu diadakan di cafe kita”


“Baik, aku akan ke ruanganku dulu. Ingatkan aku jika aku belum kunjung berangkat Khansa”


Gadis itu melenggang pergi meninggalkan sekretarisnya sekaligus calon kakak ipar \(hehe\), menuju sebuah ruangan dengan dinding kaca yang cukup untuk melihat suasana kota London. Ia menuju sebuah kursi yang biasa diduduki oleh ayahnya setiap hari.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


“masuk” gadis itu mempersilahkan seseorang yang berada dibalik pintu, ketika orang itu membuka pintu \-\-


“huaaa... kak Albert” gadis itu langsung memeluk Albert dengan manjanya.


Ia sangat\-sangat rindu pada sosok ini, terakhir ia melihatnya sudah tiga bulan yang lalu. Saat pemakaman sang ayah, sosok yang kini berada didepannya pun tidak hadir.


“El.. kau sekarang sudah besar, kakak akan membicarakan sesuatu yang serius” Albert duduk disebuah sofa berwarna putih, setelah mengengelus pucuk kepala si Gadis \-\-


“kau harus melanjutkan bisnis gelap Ayahmu El” ucap Albert dengan muka yang meyakinkan, sedangkan gadis itu ?


“huhhh.. aku tidak mau kakk, kakak saja yang mengurusinya. Aku akan mengurusi perusahaan Ayah saja”


“tapi El..”


Sang Gadis memotong ucapan Albert “kakak... aku sebentar lagi harus meeting.. bye kakak”


Gadis bersurai hitam yang tergerai itupun langsung pergi meninggalkan Albert yang masih setia mengistirahatkan bokongnya di sofa putih. Sedangkan Albert malah memakan berbagai cemilan yang tersedia dimeja.


🐬🐬🐬


 


Gadis bermanik biru itu duduk dengan secangkir cappucino dedepannya. Sesekali menyeruput minuman itu karena menunggu kliennya yang sudah terlambat sekitar sepuluh menit lamanya.


Cukup jenuh ia menunggu dan akhirnya laki-laki berhidung mancung, bermanik hitam, kulit putih, tak lupa bibirnya yang sexi datang menghampirinya. Gayanya yang cool membuat siapapun terpana termasuk gadis itu.


“Maaf, tadi ada keperluan mendesak sehingga terlambat”


“it’s okay tuan, silahkan duduk” sang Gadis langsung menyambut kedatangan Laki-laki itu.


“Ivander Gavin, panggil saja Ivan.. bukan tuan oke ?” ucap Ivan dengan senyum manisnya dan juga telapak tangan yang kibas-kibaskan.


“Malvinae Auristela Seth, panggil saja Vina.. itu nama kesukaanku”


“oke Vina mari kita lanjutkan kesepakatan kita hari ini” ucap Ivan yang membuyarkan lamunan Vina.


Vina segera tersadar dari lamunannya, ia langsung membuka kesepakatan untuk perusahaan Ivan. Mereka membahas terkait proyek pembangunan sebuah hotel di sebuah bukit kota London.


“terimakasih Ivan atas pertemuan kali ini” Vina membungkuk memberi hormat.


“Nona.. nonaa.. ini bukan Jepang sehingga kau harus membungkuk memberiku sebuah penghormatan” Ivan langsung menyuruh Vina bangun dari posisi itu.


Vina segera meluruskan punggungnya, menatap Ivan yang mengomel karena tidak enak atas penghormatannya.


“mau ku antar pulang Vina ?” tawar Ivan


“ehh.. tidak, aku masih ada urusan dikantor, mungkin lain kali saja” tolak Vina sambil membereskan berkas-berkas yang sedari tadi sudah dipergunakan.


“no problem, bye”


“bye Ivan”


Vina menatap punggung laki-laki itu menjauh sebelum ia meninggalkan Cafe menuju kantornya. Ia juga membawakan sekotak makanan untuk sekretarisnnya, Khansa. Mengingat sebentar lagi adalah jam makan siang dan mungkin saja sekretarisnya itu akan mengomel karena kelaparan.


 🐬🐬🐬


Ingat !! ini masih permulaan, jadi seru tidaknya cerita ini masih belum terlihat.. tunggu sampai beberapa episode okay😘


Tapi setidaknya, mari kita menghargai. mohon dukungan nya berupa like dan komentarnya !

__ADS_1


Eh... Dhie tidak memaksa, tapi memohon untuk diberi suport, mengingat Dhie masih jomblo.. huhuhu😭😭


 


__ADS_2